Apa sih momen terbaik dalam hidup kita sebagai ibu? Mungkin banyak yang akan menjawab ketika anak berprestasi, seperti menang lomba atau juara kelas. Tapi bagi saya, momen berharga bukan ketika anak menorehkan prestasi, tapi ketika membersamai prosesnya.
Salah satunya saat menemani anak berlatih untuk ujian tari bersama teman-teman kelompoknya. Menjelang hari H, rumah kami terasa lebih "menyala" dari biasanya. Lagu, "Yamko Rambe" diputar berulang, hitungan diucapkan keras-keras, dan gerakan yang sama diulang entah sudah berapa kali.
Saya menikmati semua proses itu, apalagi ketika dia menoleh sambil bertanya, "Maah, gerakanku sudah benar belum?"
Namun, membersamai anak selama proses latihan ternyata menuntut fokus yang tidak sedikit. Saya harus memperhatikan gerakannya, mengingat urutan tarian, sesekali membantu mengatur formasi kelompok, sambil tetap menjalankan rutinitas sehari-hari.
Momen berharga dimana saya bisa melihat anak saya sesekali bercanda dengan temannya, menjahili temannya lalu tertawa bersama hingga membuat saya geram karena terus menari dengan tempo lebih cepat.
Sayangnya, momen berharga itu sempat terganggu gejala mata kering yang saya alami bahkan sejak hari pertama latihan. Mata mulai terasa sepet, perih, dan cepat lelah. Awalnya saya mengira itu hanya akibat kurang tidur dan kelelahan. Maklum, saya bekerja depan laptop di malam hari sementara paginya mengurus rumah, dan siangnya lanjut menemani latihan tari. Jadi, yaaa mungkin hayati lelaaah...hehehe.
Tapi ternyata bukan "hayati" lelah, tapi mata emang lelah dan itu gejala mata kering. Untungya ada Insto Dry Eyes yang bantu ngasih pelumas seperti air mata sehingga mata terasa lebih nyaman. Saya jadi bisa kembali fokus menikmati momen membersamai anak tanpa terganggu rasa sepet, perih, dan cepat lelah pada mata.
Seberharga Apa Momen Membersamai Anak?
Sejak menjadi ibu, saya banyak mengalami perubahan, terutama dari sisi pengembangan diri. Berubahnya peran dari lajang, menjadi istri, hingga kini menjadi ibu, membuat saya belajar banyak hal baru, membagi waktu dengan lebih baik, dan menyesuaikan diri dengan prioritas hidup yang sama sekali berbeda.
Selain itu, menjadi seorang ibu nyatanya melahirkan versi diri saya yang baru melalui proses matresens. Fokus yang dulunya penuh dengan ambisi pribadi, kini berubah menjadi benteng empati dan kewaspadaan tinggi demi melindungi anak-anak.
Walaupun transisi ini sering kali memicu krisis identitas akibat hilangnya kebebasan masa lajang, di saat yang sama, otak dan mental saya ditempa ulang untuk menjadi jauh lebih tangguh, adaptif, dan bijaksana. Keren, bukan?
Lebih bijaksana? Mungkin saja. Tapi yang pasti, mendidik, menjaga, mengayomi, dan membersamai setiap perubahan serta perkembangan anak memberikan kebahagiaan dan kebanggaan yang tiada duanya. It feels like my life is complete.
Seperti proses membersamai anak di mana di sepanjang proses itulah saya belajar bahwa keberhasilan memang menyenangkan, tapi kegagalan sering kali memberi pelajaran yang jauh lebih berharga. Bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk saya sebagai ibu.
Katakanlah prosesnya udah ugal-ugalan tapi hasilnya misalkan, anak gagal meraih tempat di podium.
Disinilah “drama”-nya dimulai, apakah saya ikut kecewa, frustasi dan marah lantas menyalahkan anak mengingat usaha saya mendukung dia udah jor-joran? Atau, menerima bahwa, proses memang tidak akan mengkhianati hasil tapi hasil juga ditentukan oleh ……dewan juri, hehe.
Ketika anak berprestasi, rasa bangga tentu menorehkan momen bahagia dan rasa syukur. Tapi, momen “gagal" justru menjadi kesempatan terbaik untuk membentuk mental tangguh dan karakter anak.
Saat anak sukses, saya merayakan hasilnya. Tapi saat anak gagal, itu artinya saya sedang membangun fondasi masa depannya dengan cara “membenturkan” harapan dengan realita meski usaha nyata.
Jadi, momen membersamai anak itulah yang menjadi momen penting bagi saya, karena, ibarat menemukan oase di gurun pasir, di setiap momen membersamai anak hingga akhirnya selesai, saya menemukan “unta” yang membawa saya pada oase hikmah.
Saya belajar menjadi pribadi yang jauh lebih sabar, bisa menahan diri dan mengubah POV, proses yang juga saya pelajari ketika menemani anak berlatih tari bersama kelompoknya.
Berlatih bersama, melihatnya berkali-kali melakukan kesalahan, menghadapi rengekannya ketika mulai cape, bad mood, lalu kembali bangkit mencoba lagi. Hingga akhirnya saya menjadi orang pertama yang menyaksikan setiap kemajuan kecilnya.
Tentu saja, prosesnya tidak selalu mulus.
Selain anak yang kadang malas latihan, ada aja kejadian kecil yang bikin latihan harus break sejenak. Kucing tiba- tiba mecahin gelas atau temannya gak bisa datang latihan karena sakit. Bukan cuma “fenomena” eksternal ya, ternyata kondisi saya sendiri juga ikut menjadi kendala, yaitu gejala mata kering.
Ya, memang tidak sampai merusak momen, cuman agak annoying aja. Kebayang gak? Saya harus benar-benar fokus memperhatikan setiap gerakan tari, sekaligus mengarahkan formasi tim, tapi mata mulai terasa sepet, perih, dan cepat lelah?
Awalnya saya mengira, itu cuma efek kurang tidur dan kecapekan karena abis ngalong malam hari menyelesaikan pekerjaan, lalu paginya rutinitas rumah tetap jalan, dan siangnya lanjut menemani latihan tari. Tapi ternyata bukan wahai Fernando, apa yang saya alami adalah gejala mata kering!
Kenapa Mata Kering Bisa Terjadi dan Apa Penyebabnya?
Tentu saja, saya gak mau gejala mata kering jadi penghalang membersamai ujian tari anak. Jadi, saya mulai nyari tahu, kok bisa ya keluhan seperti sepet, perih, dan cepat lelah ini muncul? Apalagi sebelumnya saya pikir mata cuma kecapekan karena aktivitas yang padat.
![]() |
| Apa itu mata kering? |
Sementara itu, berdasarkan informasi dari NCBI Bookshelf, mata kering atau dry eye syndrome terjadi ketika mata tidak mendapatkan air mata yang cukup atau air mata terlalu cepat menguap sehingga permukaan mata tidak terlumasi dengan baik.
Penyebab Mata Kering yang Sering Tidak Disadari
Kok bisa ya mata kita mengalami kondisi seperti itu? Ternyata ada penyebabnya loh, gak ujug-ujug muncul begitu saja. Berikut beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan mata kering.
Banyak juga penyebabnya ya? Tapi secara umum, kalau melihat daftar tersebut, saya mulai ngeh sih kalau beberapa faktor memang ada dalam keseharian saya. Bekerja di depan laptop selama berjam-jam tanpa banyak berkedip, terkena angin, saya gak pakai AC tapi AG alias angin gelebug dari kipas angin, kurang tidur, dan kebiasaan saya yang kurang memperhatikan asupan cairan.
Jadi, ofkors saya gak denial ya. Kalau melihat kebiasaan sehari-hari, memang ada beberapa hal yang bisa ikut berkontribusi terhadap keluhan mata yang saya alami. Huff!
Setidaknya, sekarang saya jadi lebih tahu apa saja yang perlu diperhatikan. Bukan cuma ketika mata sudah terasa sepet atau perih, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang mungkin membuat mata semakin gak nyaman. Dari sini, saya bisa mulai mencari tahu gejalanya lebih jauh dan mengambil langkah yang tepat sebelum rasa tidak nyaman semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala Mata Kering yang Saya Alami
Jujur, sebelumnya saya gak begitu terlalu mikirin tentang mata kering karena saya pikir mata terasa gak nyaman cuma efek kurang tidur atau kelelahan karena aktivitas yang padat. Ya nanti juga hilang sendiri. Tapi nyatanya? Gak! Dua hari sejak gejala mata SEpet dan PErih muncul, rasa gak nyaman itu gak hilang juga.
Setelah saya cari tahu, menurut Alodokter dan beberapa referensi lainnya, beberapa gejala mata kering ternyata mirip dengan yang saya alami, yaitu:
![]() |
| Gejala mata kering |
Jadi, aduuh, ini sih bukan cuma masalah mata sepele yang bisa terus saya abaikan. Apalagi rasa gak nyaman itu sudah mulai mengganggu aktivitas dan konsentrasi saya.
Mengapa Gejala Mata Kering Jangan Disepelekan?
Banyak orang, termasuk saya, menganggap mata sepet atau perih cuma tanda lelah. Saya pun sempat mikir gitu kan? Selama masih bisa beraktivitas, yaaa segalanya oke-lah.
Padahal, bagi seorang ibu yang sedang membersamai ujian sekolah anak, fokus adalah hal yang penting. Dalam kasus saya, tantangannya bukan hanya bekerja di depan laptop, tetapi juga harus fokus memperhatikan setiap detail gerakan anak-anak saat latihan tari, mengingat urutan gerakan, hingga membantu mengatur formasi kelompoknya.
Kelihatannya sederhana, tetapi justru di momen seperti itulah saya merasa sayang kalau perhatian saya terpecah hanya karena mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah akibat gejala mata kering.
Menurut Mayo Clinic, mata kering yang berat dan tidak ditangani dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:
- Permukaan mata yang kekurangan pelumasan dapat mengalami abrasi, peradangan, hingga luka atau tukak kornea.
- Kekurangan air mata juga dapat mengurangi perlindungan permukaan mata sehingga risiko infeksi mata dapat meningkat.
- Rasa tidak nyaman yang terus-menerus dapat membuat aktivitas seperti membaca, bekerja di depan layar, atau beraktivitas di luar ruangan menjadi lebih sulit.
- Penglihatan dapat menjadi buram atau berfluktuasi ketika permukaan mata tidak cukup terlumasi. Pada kasus mata kering yang berat dan tidak ditangani, kerusakan permukaan kornea dapat terjadi dan berpotensi mempengaruhi penglihatan.
Naah kan? Baca dampak kalau mata kering dibiarkan gak main-main. Jadi, kalau udah tahu apa penyebab dan gejalanya, ofkors harus tahu gimana cari solusinya, kan? Ngucek mata? Basahin wajah seperti yang saya lakukan? Bukan!
Cara Mengatasi Gejala Mata Kering
Ujian tari anak bersama teman kelompoknya tinggal tiga minggu lagi nih, dengan jadwal latihan hanya tiga hari dalam seminggu. Itu artinya, kita cuma punya sembilan kali latihan dan satu hari saya gak mendampingi anak latihan. Bisa berabe!
Maklumlah, anak kelas 3 SD masih butuh dibimbing, kan? Apalagi soal formasi gerakan dan kekompakan.
Jadi, agar momen berharga membersamai latihan anak tidak terganggu oleh urusan fisik seperti mata kering, saya mulai menerapkan beberapa kebiasaan sederhana seperti pada gambar dibawah ini.
Nah, poin terakhir ini yang paling saya perhatikan, pakai Insto Dry Eyes! Produk yang saya temukan di dunia maya sambil nyari info soal keluhan mata yang saya alami.
Auto meluncur ke Indomaret dan beli dua pack sekaligus Insto Dry Eyes New Packaging. Kenapa Insto Dry Eyes? Karena setelah saya cari tahu, Insto Dry Eyes diformulasikan untuk memberikan pelumasan pada mata sehingga membantu meredakan gejala mata kering.
Kenapa Saya Memilih Insto Dry Eyes?
Ketika gejala mata kering mulai terasa, awalnya emang cuek. Tapi lama-lama rasa SEpet, PErih, dan LElahnya gak hilang juga. Sebel, kan?
Setelah kepo-kepo berbagai sumber di internet dan mencari tahu apa itu mata kering, penyebab, serta gejalanya seperti yang saya sebutkan di atas, saya mulai mencari produk yang bisa membantu memberikan pelumasan pada mata. Ketemu-lah Insto Dry Eyes.
Pilihan saya jatuh pada Insto Dry Eyes karena praktis dan mudah dibawa ke mana saja. Dengan ukuran botol 7,5 ml yang mungil, produk ini mudah disimpan di dalam tas sehingga bisa digunakan ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau cepat lelah.
FYI, Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang bekerja sebagai pelumas seperti air mata. Kandungan ini membantu menjaga kelembapan permukaan mata sehingga dapat membantu meredakan gejala mata kering. Selain itu, Insto Dry Eyes juga mengandung benzalkonium klorida yang berfungsi sebagai pengawet untuk membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam produk.
![]() |
Biar lebih aman, saya juga baca aturan pakainya dong, dan Moms juga harus ya, seperti:
- Lepaskan lensa kontak saat menggunakan Insto Dry Eyes dan tunggu minimal 15 menit sebelum memasangnya kembali.
- Gunakan hanya selama 30 hari setelah botol dibuka.
- Pastikan ujung botol tidak tersentuh atau menempel dengan permukaan benda lain.
- Jangan gunakan Insto Dry Eyes New Packaging 7,5 ml jika cairan di dalamnya sudah keruh atau berubah warna.
Gejala mata kering yang sempat mengganggu latihan pun terasa lebih terkendali. So happy karena saya bisa nemenin latihan anak dengan mata yang terasa lebih nyaman, tanpa terus-terusan terganggu rasa sepet dan perih.
Momen Terbaik Ibu Bersama Anak, Bareng Insto Dry Eyes
Hari ujian tari memang masih lama, tapi momen menemani mereka latihan tuh mendebarkan sekaligus menyenangkan. Melihat gerakan mereka yang kaku-lucu gitu, tertawa bersama untuk hal-hal sepele yang bikin saya ngerasa balik lagi jadi anak kecil, hahaha.
Yang paling penting, saya ingin anak saya tahu bahwa saya akan selalu ada di sana untuknya. Membantunya melewati masa sulit, mendukung, dan menemaninya sampai berhasil.
Mungkin beberapa tahun lagi, momen seperti ini akan semakin jarang terjadi karena anak bertumbuh dan mulai berjalan dengan langkahnya sendiri.
Tumbuh menjadi anak remaja yang galau-galau nyari identitas, yang mungkin mulai malu cerita apa-apa sama mamanya. Lalu jadi anak SMA yang merasa sudah bisa segala sendiri sehingga gak mau lagi merepotkan mamanya. Hingga menjadi anak kuliah yang siap menantang dunia dan berlabuh pada pujaan hati, lalu memiliki dunianya sendiri.
Aaaah, membayangkan semua itu malah bikin saya nangis dan... Ya Tuhan, memiliki anak selengkap itu rasanya ya.
Jadi, buat saya, momen berharga seorang ibu memang tidak selalu dimulai dari podium, tapi sejak momen itu dimulai dari titik nol.
Dari latihan yang berulang, kesalahan yang diperbaiki, rengekan karena lelah, sampai tawa yang muncul di sela-sela latihan. Dan di tengah semua proses itu, saya belajar bahwa menjaga diri sendiri juga bagian dari menjaga momen bersama anak. Sesederhana menjaga mata tetap nyaman dan gak membiarkan gejala mata kering mengganggu, karena #MataSePeLeJanganSepelein.
Untungnya, saya punya #InstoDryEyes yang membantu meredakan rasa sepet dan perih sehingga saya bisa tetap fokus menikmati setiap prosesnya. Karena buat saya, bisa hadir dengan nyaman dan bebas dari gangguan mata kering adalah bagian kecil dari perjuangan seorang ibu untuk tetap #BebasMataKering saat membersamai anak.
Dan kalau suatu hari nanti dia sudah terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk bertanya, "Maah, gerakanku sudah benar belum?", setidaknya saya pernah ada di momen bersamanya ketika dia masih membutuhkan jawaban saya, secepat kilat.
Saya jadi ingat satu caption yang pernah saya tulis di media sosial ketika kakaknya si bungsu kalah pertandingan futsal:
Pesan dari Ibu, untuk anak-anaknya.
"Pertandingan futsal tuh cuma simulasi, Kak. Real life lebih brutal dari ini. Kamu bakalan ketemu banyak perjuangan dan kekalahan. Jadi, tetap bangkit dan semangat! Kamu bisa."
Kejam? Oh, tidak. Hanya mengejutkan nalarnya dengan realita. Tentu, diucapkan sambil bercanda dengan intonasi lucu dan wajah menghibur layaknya stand-up comedian.
Ya, dia dan adiknya tertawa.
Mungkin saat ini mereka masih menganggap ucapan ibunya sebagai angin lalu. Tapi semoga candaan filosofis ini perlahan meresap ke alam bawah sadar mereka dan menjadi pendar cahaya ketika dunia mereka runtuh.
Ketika saat itu tiba, semoga mereka ingat ucapan ibunya.
Bahwa hidup memang tidak selalu tentang menang. Ada kalah, ada kecewa, ada jatuh, ada bangkit. Dan selama mereka masih membutuhkan saya, saya akan berusaha menjadi orang yang hadir di sana bukan untuk menghapus kekalahannya, tapi untuk membantu mereka memahami bahwa kalah pun bagian dari perjalanan.
Sama seperti saya yang sedang belajar menikmati setiap prosesnya sekarang.
Itulah momen terbaik bagi saya sebagai seorang ibu, bukan hanya ketika anak berhasil berdiri di podium, tetapi ketika ia tahu bahwa di balik setiap jatuh dan bangkitnya, ada seorang ibu yang selalu siap menjawab ketika ia menoleh dan bertanya, "Maah, aku harus bagaimana?".
Daftar Referensi
- Alodokter. Mata Kering – Gejala, Penyebab, dan Pengobatan.
- Golden, M. I., Meyer, J. J., Zeppieri, M., & Patel, B. C. Dry Eye Syndrome. StatPearls, NCBI Bookshelf.
- Mayo Clinic. Dry Eyes – Symptoms & Causes.
- Tear Film & Ocular Surface Society (TFOS). TFOS DEWS II Report.
- INSTO. INSTO Dry Eyes – Informasi Produk.









Posting Komentar