Ketika Kamu Tidak Percaya Tuhan

Tidak Percaya Tuhan




Ketika Kamu Tidak Percaya Tuhan, apa yang akan kamu lakukan? marah lantas meninggalkan sholat? mengapa kamu sampai tidak percaya Tuhan? Tidak percaya Tuhan atau marah pada Tuhan?

Saya tahu, gelombang kehidupan bisa begitu dahsyatnya. Keterpurukan tidak hanya akan dialami satu atau dua kali. Bisa jadi berkali - kali. Adalah hal yang sangat manusiawi ketika pada akhirnya kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, Allah SWT.
Benarkah Allah itu ada? bukan hanya isapan jempol semata? atau ciptaan seorang manusia yang putus asa? bukti ilmiah nya apa? apa yang membuktikan Allah itu ada? Lantas jika memang Allah ada, mengapa hidup saya selalu terpuruk? ini tidak adil! saya marah!
itulah pertanyaan yang sering saya rasakan ketika terpuruk. Rupa-rupanya hasil mengaji dan mengeruk ilmu agama sejak usia belia tidak mampu menopang tiang keimanan saya. Bahkan ujian yang berkali - kali datang menghampiri saya sejak kecil tidak lantas membuat iman saya semakin kuat. Bahkan di usia saya saat ini.

Menumbuhkan kembali rasa percaya sama sulitnya dengan mengembalikan kepercayaan saat kita dikhianati teman atau pacar yang selingkuh. Terlebih jika kita disakiti teramat sangat.

Lantas yang teringat ucapan sahabat saya semata wayang,
Iman itu perlu di pupuk. Solat perlu dipaksakan dan mulailah dengan membaca satu ayat saja dari Al Quran. Paksakan! 
Lalu ketika iman saya terlempar jauh, saya coba melakukannya. Hasilnya memang bukan solusi dari permasalahan yang saya dapat, tapi ketenangan hati. Melalui ketenangan hati inilah maka saya dapat mencari solusi dari permasalahan saya.

Random gak sih? jadi, saya sedang mengalami beberapa permasalahan yang dirasa cukup berat. Pertemanan yang tidak sehat, usaha yang mandek dan proyek yang berkali-kali memperlihatkan titik terang tiba-tiba sirna begitu saja tanpa progress sama sekali. Dalam keadaan hati bimbang saya bekerja dalam keadaan tidak fokus. Akibatnya, satu proyek yang sedang saya kerjakan hampir lepas dari tangan saya sepenuhnya.

Tapi Allah masih menyelamatkan saya bahkan dalam situasi saya “marah” pada Allah. Masih dalam ibadah yang dipaksakan, saya berdoa memohon agar proyek saya tidak lepas begitu saja. Alhamdulillah, pimpro berusaha menyelamatkan saya dari kesalahan yang saya buat karena tidak fokus. Dan saya masih mendapatkan fee walau hanya setengahnya. Itu saja sudah cukup bagi saya membayar tagihan - tagihan.

Kemudian saya tersadar, Allah sama sekali tidak membutuhkan manusia. Tetapi kita manusia yang membutuhkan Allah. Bagaimana iman saya bisa bertambah kuat jika sholat saja selalu di akhir waktu, tadarus jarang dan tahajud hanya dikerjakan saat kepepet?

Bagaimana iman bisa terus tumbuh jika ruh jarang diberi makan nasihat dan tausiah. Hati tak pernah diperdengarkan lantunan ayat Al Quran dan mulut langka berdzikir?

Bagaimana Allah akan masuk dan menetap dalam hati? dalam keadaan masih bingung saya membuka terjemahan dan tidak sengaja menemukan ayat ini,

Katakan lah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembali lah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah diri lah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat di tolong (lagi). (QS. Az Zumar {39} : 53-54).

 dan ayat ini

Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. At-Tirmidzi no.3540)

La Tahzan, La Tahzan. Jangan bersedih. Dalam situasi apapun, Allah selalu ada di sisimu dan menemanimu. Sapalah hati agar lebih dekat Dengan-Nya.

Bukan perkara kamu tidak percaya Tuhan, tapi kamu marah pada Tuhan. Layak kah kamu marah pada DZAT maha kuasa memberikan segalanya saat kamu meminta? Mintalah, mintalah dan mintalah. Saat kamu sakit lalu berserah diri dan Allah sembuhkan dengan caraNya, masih ingat kan?

Manusia memang egois, kamu egois dan aku egois. Hanya berlari pada Allah saat terjatuh dan lupa saat mendapat apa yang diinginkan. Kembalilah padaNya segera, saat ini juga sekarang juga,

Ambil air wudhu dan bertobatlah, Mulai lah dengan hari yang baru. Hari yang selalu ada Allah dalam hati dan pikiranmu.






17 komentar:

  1. Perjalanan hidup dan pengalaman hidup setiap orang berbeda, pengalaman spiritual tiap orang juga berbeda, intinya kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap hal yang pernah kita lalui dalam kehidupan ini

    BalasHapus
  2. Masyaallah ngena banget teh Eka tulisannya
    Semoga masalah apapun yang sedang di hadapi bisa di selesaikan dengan lapang dada ya. Semangat teh Eka.

    BalasHapus
  3. Masya Allah, salut dengan segala cobaan yg dihadapi..
    Insyaa Allah biidznillah segala sesuatunya akan menjadi lebih baik ya mba.. Aamiin :)

    BalasHapus
  4. mempertanyakan Tuhan sebetulnya adalah proses mempercayai Tuhan

    karena itulah ada yang bertambah imannya, atau malah sebaliknya


    yang lainnya berpindah agama seperti yang saya lakukan

    BalasHapus
  5. Ngerasain juga pas lagi futur. Harus upgrade iman biar gak down terus

    BalasHapus
  6. Masa-masa yang sama pernah mengalami juga nih mam, tapi tetep berbaik sangka sama Allah
    semangat kita

    BalasHapus
  7. Tulisan ini seperti menampar saya nih mbak. Saya pernah marah sama Tuhan merasa Tuhan tidak adil. Namun ternyata saya salah. Banyak banget Tuhan telah memberi saja kesenangan dunia tapi saya yg ga bersyukur

    BalasHapus
  8. setuju sama sahabat mb, ibadah itu harus dipaksakan. dipaksakan maksdunya kita harus bisa melawan ego kita, melawan rasa malas kita ya mb? dari sana lama-lama kita terbiasasa dan akhirnya menikmati setiap perjumpaan dengan Robbi

    BalasHapus
  9. Semangatt kak ekaa. Bismillaah semua bisa dilalui dengan baik. Jadi ujian dan insyaAllah naik kelas sama2 nanti

    BalasHapus
  10. kamu marah pada Tuhan dan tidak melihat kekurangan diri, seringnya kita giitu yaa, padahal kita udah dikasih apapun sama Tuhan.. semoga kita tetap mindful dalam beribdah ya teh

    BalasHapus
  11. Saya gabisa komen soal ini. Pilihan personal banget, alhamdulillah bukan pilihan saya

    BalasHapus
  12. Semangat selalu kak Eka..
    Yakin pasti akan ada pelangi setelah hujan.. Allah maha menyayangi hambanya

    BalasHapus
  13. Halo mamajooka.. Masya Allah, salut sama perjuangannya, teh.. tetep kuat ya. Yuk bisa yuk. Peluk jauh teh Eka..

    BalasHapus
  14. Masya Allah... aku pun jadi tertampar membaca tulisan in. Maksih y mbak.

    Yupa bebrapa mgkin merassa tdk menemukan solusi meski sudah ibdah tpi sebenarnya solusi itu g hadr tba2 tpi melalui ketenangan hati dg cara memgingat allah masya Allah

    BalasHapus
  15. Kalo sampai tahap untuk ga percaya Tuhan, rasanya ga pernah. Tapi merasa kalau Tuhan sedang menegurku, itu sering. Stiap ujian, stiap masalah, setiap musibah yg terjadi, aku anggab saat itu Dia sedang menegur.

    Aku bukan orang yg alim2 banget mba. Jilbab masih lepas pasang, sholat masih suka diakhir waktu, tapi aku ga pengen merasa marah dengan Tuhan. Malah sejujurnya kadang malu. Dari semua kebaikan yang Dia kasih, kok ya aku tetep belum sadar2 juga utk lebih dekat, LBH banyak zikir dll.

    Baca tulisan mba, sebenarnya jadi pengingatku banget, buat lebih dekaaat lagi ke Tuhan. Patuh ke perintah Nya. Jangan sampe bablas dan nurani jadi mati. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluuukkk kak Fanny. udah itu aja, hehehe

      lama sekali aku bikin artikel ini, pas ditengah dapat ujian dari segala mata arah penjuru mba. Rasanya udah terpuruk makin terpuruk. Yang tiba-tiba muncul adalah pertanyaan, why me? why me? dengan semua hal yang kurang enak terjadi sejak aku kecil sampai sekarang, kok rasanya its not enough. tapi, ya setelah sekarang melewati semuanya baru sadar, why me? karena dunia ya ujian ya. hakikatnya hanya persimpangan, so why bother so much soal ujian hidup. sekarang terasa jauh lebih ringan dan lebih bisa melihat diri dalam keadaan terpuruk jadi seperti menemukan, oh ya...aku gak boleh gitu lagi. kalo gitu lagi, aku gak naik kelas. sementara waktu ku, gak banyak lagi.

      with love for kak fanny,

      Hapus
  16. Harus tetap kuat, dan prasangka baik kepada-NYA.
    Kalau sampai tidak percaya pada-NYA, jangan sampai sih ya. Tetap semangat

    BalasHapus