Jurnal Kilan : Bulan Pertama Masuk TK

pengalaman anak masuk TK
Lihat Kilan gandengan tangan dengan teman erat sekali 😍

Hal yang paling bikin cemas adalah ketika Kilan, anak bungsu kami mulai masuk sekolah. Berbeda dengan Keenan kakaknya yang sejak awal antusias mau masuk sekolah, tapi tidak dengan Kilan. Beribu alasan dia proklamirkan "gak mau sekolah" hanya karena dia enggan bertemu situasi baru terlebih orang-orang baru.

Kilan, Pemalu dan Value Keluarga

Jangankan untuk sekolah, ikut kelas pengajian PAUD aja dia "edan-eling", kadang semangat dan mau ngaji tapi hari esoknya gak mau. Saya pun lemah iman dan menuruti mau nya dia. Bisa jadi rajin ngaji sampai seminggu hingga sebulan, tapi bulan berikutnya enggak mau. Di pengajian pun dia gak mau lepas dari saya dan saya wajib duduk dibelakang dia. Dia enggan berdiri ketika ustazah menyuruhnya berdiri sambil melafkan surat pendek atau rukun iman - islam dan suaranya kecil sekali ketika ikut membaca do'a. Gemes ya, hahaha. 
Akhirnya ya saya ikuti kemauan dia karena daripada dipaksa dia malah makin gak mau ngaji ya sudah. Lagipula saya emang agak malas adu argumen dan membujuk hingga Kilan mau mengaji. Membersamai Kilan denga aneka ria fantasi harian dia saja sudah membuat saya burn out, apalagi membujuk dia untuk mengaji.
Untungnya sang Ayah sependapat dengan saya, meski idealnya anak dikenalkan agama sejak dini tapi kami setuju tidak ada paksaan untuk anak. Terdengar klise memang, tapi ini yang kami yakini dan ini value keluarga kami. Anak tetap berproses seuai usianya, kami menggiring menuju apa yang baik tapi tidak ada pemaksaan atau keharusan mutlak.

pengalaman anak masuk TK pertama kali

Dasar dari agama bukan hanya hafal ayat, surat pendek dan fiqih lainnya bukan? esensi ke-Tuhanan dan etika serta akhlak menurut saya itu ajaran agama yang paling mendasar. Jadi itulah yang saya ajarkan dirumah dan biarlah urusan hafalan surat dan doa dia belajar di pengajian. Karena di pengajian hal-hal esensi seperti itu minim diajarkan.
Toh pada akhirnya, Kilan mau mengaji dan semangat mengaji. Meski terlihat malas dan ogah, ternyata Kilan termasuk anak yang fast learning. Kebiasaan membaca do'a harian yang kami lakukan bersama melekat kuat dalam ingatanya sehingga ketika dia mulai rutin mengaji, hapalan do'a dan surat pendeknya tidak terlampau jauh untuk dia kejar.
Untuk ukuran anak usia 5 tahun, bisa hafal dan lancar melafalkan tanpa tersendat surat pendek seperti An-naas, Al-Iklas, AL-Falaq dan At Takatsur sudah menjadi prestasi tersendiri. Hafal do'a mau makan, setelah makan, mau Tidur, bangun tidur dan berangkat bepergian adalah bonus yang menggembirakan.
Dirumah juga dia semangat mengerjakan PR ngaji ketika kakaknya mengerjakan PR. Dia menebaklan PR mnegenal huruf hijaiyah dan membaca ulang takmili yang dia pelajari di pengajian. Ini saja sudah cukup bagi saya. 
Jadi, kami tetap berpegang pada prinsip biarkan anak berproses secara perlahan mengikuti karakternya tetap kami pegang.

Bulan Pertama Kilan Masuk TK


Anyway, terkait Kilan yang super pemalu di lingkungan luar rumah tapi dirumah heboh apakah ini menandakan Kilan introvert? kayaknya sih engga, bisa jadi Kilan ambivert seperti saya ibunya, hehe.
Dirumah dia ceria dan aktif. Mau bermain dengan teman kakaknya dan sepupunya. Tapi giliran bertemu orang baru, dia akan meringis ketakutan lalu bergelayut dalam pelukan saya, enggan turun.
Bisa dibilang Kilan tipe anak yang melekat kuat bagai perekat dan kerap meringis histeris kala maunya tak kunjung terwujud laksana kilat hingga ibunya merasa terpanggang emosi. Separation anxiety, begitu kalau ahli psikologis anak bilang. Tapi untuk Kilan, proses ini lebih lama dibanding kakaknya. Yahh, setiap anak emang punya proses yang berbeda terkait hal ini.
Lantas apa yang saya lakukan agar Kilan mau sekolah? Tidak ada yang khusus, kecuali mewujudkan keinginnya untuk punya sepatu kets dan tas Spiderman.
Meski dia berulang kali bilang ogah saya tetap "maksa" dia untuk sekolah dan mengajak dia ketika daftar ulang. Sehingga dia bisa melihat dan meraba sekolah TK nya nanti. 
Dengan wajah tersipu malu dan enggan lepas dari pelukan saya, Kilan tersenyum malu ketika ditanya calon Ibu Gurunya, " Namanya siapa? Kilan ya? namanya bagus ya" sapa Ibu Guru. Kilan enggan menjawab dan hanya tersenyum malu, terunduk dan memegang erat lengan saya.
Kilan saya daftarkan di TK kakaknya dulu. Kenapa disini lagi? apa gak bosen bu? gak lah. Meski TK ini terbatas fasilitas, tapi tidak dengan skill Ibu Guru nya. Melihat Keenan dulu cepat bisa baca tulis, mudah bersosialisasi, semangat mengaji dan selalu ingin tahu sudah jadi alasan bagi saya bergumen TK nya bagus.


masuk tk pertama kali
Hari pertama Kilan masuk TK


Kilan ikut  baris hari pertama sekolah TK


Kilan Day 1 masuk TK


Hari pertama pun tiba. Kilan semangat dan antusias? nyatanya iya. Saya pun kaget dan takjub. Padahal kemarin dia tantrum dan merengek enggan masuk sekolah. Sambil semangat dia berkata, "Kilan mau sekolah dong Mah, kan biar jadi drummer hebat dan pintar". Subhanallah! saya takjub sampai merinding.
Dia merasa percaya diri mengenakan baju bebas pilihan dia (seragam belum dibagikan) dan sepatu favoritnya. Lalu dia menenteng tas spiderman kesukaannya dan minta uang jajan lantas di simpan di saku seragamnya, hehe. Lucu ya, gemes udah minta uang jajan! hahaha.
Seperti yang sudah diramalkan sebelumnya, hari pertama masuk sekolah Kilan enggak mau lepas dari saya. Bahkan saya harus berdiri di samping dia ketika berbaris, duduk di belakang dia ketika di kelas dan menemaninya sampai pulang sekolah. Repot ya? wkwkwk. Iya sih saya jadi ikut sekolah TK lagi, hahaha.
Hal ini berlangsung sampai tiga hari lamanya. Dikelas pun saya melihat tiga temannya yang ditemani orangtua di kelas. Bahkan ada yang masih saja menangis histeris meski ada ibunya disana. Untungnya sih Kilan enggak nangis, hanya sesekali menengok ke belakang memastikan pantat saya ada tepat dibelakang dia, hehe.
Lalu saya melihat ada teman perempuan Kilan, katakanlah namanya Mimi menangis histeris ketika ditinggal ibunya . Padahal ibunya standby di luar kelas sambil tetap mengawasi dan terus melihat kelas lewat jendela. Saya perhatikan, Ibu guru cuek dan hanya sesekali "ngupahan" Mimi agar tidak nangis sembari berkatan, " Yuk mimi kita mulai belajar, semangat yaa gak pake nangis. Kan Mimi anak hebat dan pintar. Tuh mamahnya nunggu di luar kelas, ada kok gak pulang". 
Penghiburan dari Ibu guru tidak berhasil dan Mimi terus menangis sampai histeris. Saya agak kecewa, kok dibiarkan sih? kasian loh anaknya nangsi terus begitu? psikologis anak gimana nanti? dan beribu pertanyaan mengapa oh mengapa.
Tapi ajaibnya, lambat laun tangisan Mimi mereda hingga berhenti dengan sendirinya. Gak lama kemudian Mimi mulai tersenyum dan mau berinteraksi di kelas. Ternyata cueknya Ibu Guru bukan tanpa alasan, itu untuk melatih anak mulai mandiri dan belajar berkegiatan tanpa didampingi ibunya.
Saya pun paham, 
kita harus sedikit tega pada anak agar anak berlajar mandiri
Sepertinya inilah yang harus saya lakukan agar Kilan mau masuk kelas dan belajar sendiri tanpa saya dampingi.
Esok harinya saya pun mulai beraksi. Dirumah saya mulai melancarkan aksi bujuk membujuk mulai dari pulang sekolah sampai mau tidur. Tapi tahu tidak metode apa yang paling berhasil dalam hal bujuk membujuk Kilan agar mau saya tinggalkan dikelas dan saya nunggu diluar kelas? dia minta bangbarongan baru yang asli!! yess, kembali ke bangbarongan favorit dia ya, wkwkwk.
Ya sudah, untung saya udah gajian jadi hari minggu saya langsung ajak Kilan untuk beli Bangbarongan asli. Hraganya lumayan tapi sebanding dengan Kilan yang mau mulai masuk kelas tanpa saya dampingi.
Dan hasilnya? alhamdulillah Kilan berani baris sendiri, masuk kelas sendiri dan mulai berinteraksi dengan teman - temannya juga Ibu guru. Hal ini membuat hati saya sedikit melow karena bangga, gak sadar sayapun sedikit menangis karena terharu. Ternyata Kilan yang segitu pemalu dan sulit bertemu orang baru bisa juga mulai mandiri. 

Ada Rasa Sepi


Saya takjub Kilan begitu cepat berinteraksi dan bersosialisasi dengan temannya sampai mengajak temannya bermain dirumah dan dia pun bermain dirumah temannya tanpa saya dampingi.
Kemajuan yang cukup pesat bahkan ketika saya ada urusan ke luar rumah, Kilan gak  minta ikut. Padahal biasanya kemanapun saya pergi, adalah kewajiban bagi dia untuk ikut. Ah saya lega, hehe. 
Saya gak khawatir lagi dan mulai merasakan Kilan tumbuh begitu cepat. Ada sedikit  rasa sepi yang harus saya lalui ketika Kilan mulai mandiri, padahal dulu mau gerak aja susah! wkwkwkw. Ya begitu ibu - ibu ya.



Bersama teman berpetualang, hehe



Kilan ikut lomba agustusan makan kerupuk

Kilan ikut lomba mewarnai

Kilan ikut senam



Bulan pertama Kilan masuk TK sungguh bikin takjub. Saya gak nyangka hanya dibutuhkan tiga hari saja untuk Kilan belajar mandiri. Kian pun mau ikut terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah seperti kegiatan outboud ke arena bermain dan ikut perlombaan 17an kemarin. Bahkan Kilan juara lomba balap karung! hehe
So proud Kilan, semoga tetap semangat sekolah ya Nak.  

4 komentar:

  1. MaasyaAllah Kilasan, Semangat terus sekolahnya yaaa. Jadi ibu memang sangat-sangat ekstra sabar ya mbak. Suka salut gitu sama ibu-ibu yang membangun keluarga dan berkarir ya juga

    BalasHapus
  2. Ada Istilah edan eling.. hehehe.. seru banget kalau aktivitas anak bisa dicatat jadi jurnal. Biar terdokumentasi juga perkembangan anak.

    BalasHapus
  3. Aku sedang menghadapi fase ini di anakku Rangin mba, 4 tahun. Dia mau disuruh sekolah, kelompok bermain, mengaji, gak mau. Katanya mau di rumah saja sama ibu. Udah dijejeli TK, PAUD, KB yang banyak mainannya, dilihatin seragam anak-anak lain yang lucu, sampai seragam polisi kesukaan dia pun dia gak mau. Akhirnya lihat postingan dari Bu Elly Risman soal anak laki-laki yang homo ludens, suka bermain. Jadi, ya diikuti saja alurnya begitu.

    Selamat Kilan, semoga betah sekolahnya ya nak ya. Semangat juga buat ibunya.

    BalasHapus
  4. Anak saya juga sedang masuk playgroup, fase ini juga kami rasakan. Kadang mau berangkat kadang gak. Tapi seiring waktu, anaknya sudah mulai terbiasa

    BalasHapus