mamajokaa food blogger bandung

Upcycling: Smart-Minimalist Sebagai Cara Berdamai dengan OCPD

Upcycling: Smart-Minimalist Sebagai Cara Berdamai dengan OCPD



Ketika konsep gaya hidup minimalis mulai saya kenal di awal tahun 2020, dalam hati saya bersorak, “Ah ini-mah saya banget atuh!!”, secara gitu saya jarang banget upgrade isi lemari dan punya hobi upcycling.

Gaya hidup minimalis ini pun masih saya jalani hingga kini. Selain karena survive mode on in this economy, memang pada dasarnya saya gak sesuka itu belanja sandang atau barang lain hanya karena lucu atau imut.

Dengan kreativitas dan sedikit sentuhan ide dari Pinterest, kita bisa loh menyulap barang lama menjadi barang yang punya nilai lebih, atau upcycling. Seperti box plastik bekas packaging, botol aqua hingga sprei lama yang sudah tidak dipakai.

Selain barang lama jadi punya nilai guna, Upcycling bagi saya adalah cara berdamai dengan OCPD yang saya idap belasan tahun. Smart-minimalist melalui upcycling juga bantu saya menemukan kembali ketenangan dalam kesederhanaan. Saat saya berhasil menyederhanakan (baca:alih fungsi barang tanpa beli yang baru) barang-barang di sekitar, perlahan saya juga menemukan siapa diri saya sebenarnya.

Upcycling Bukan Soal Hemat, Tapi Kewarasan


Pilihan saya untuk hidup minimalis dan hobi ngoprek barang lama, berkaitan erat dengan kondisi mental saya.

Dulu saya gak “ngeh” kalau mengidap OCPD (Obsessive-Compulsive Personality Disorder). Saya kira, hobi “beberes” dan decluttering yang biasa saya lakukan ya normal-normal saja. Apalagi banyak Reels IG yang membuat konten soal “beberes” bukan hanya soal merapihkan barang tapi juga pikiran.

Sampai saya evaluasi diri, “Kok saya selalu lelah banget setelah beberes, kenapa ya?”

Yah, mau gak lelah gimana coba, saya gak bisa tidur atau kerja kalau rumah dan dapur masih berantakan, bekas mainan anak belum dirapikan dan kasur acak-acakan.

Jadi, meski badan meronta minta rebahan, saya tetap memaksakan diri untuk beres-beres. Gak apa-apa capek fisik daripada capek pikiran, karena capek banget rasanya melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Hingga psikiater menyatakan saya OCD dengan kecenderungan OCPD, baru saya “ngeh”, ooh pantesan. Tapi, saya belum mau melakukan terapi intensif karena seperti yang pernah saya bilang di artikel midlife clarity, terapi itu artinya mengorek trauma penyebab OCPD dan saya enggan.

Jadi, yang saya lakukan adalah menurunkan standar kebersihan dan kerapian serta mulai konsisten menerapkan gaya hidup minimalis. Meski saya masih sering merasa kotor” kalau dua minggu gak decluttering dapur dan kamar.

Decluttering ekstrim emang salah satu ciri khas OCPD, yaitu memegang kendali. Decluttering memberikan dosis dopamin instan karena pengidap OCPD merasa punya kontrol penuh atas hidup.

Jadi, saya terapkan-lah gaya hidup minimalis karena menurut riset (meski tidak ada riset tunggal), hidup minimalis bisa menjadi "obat alami" bagi pengidap OCPD karena prinsip utamanya adalah mengurangi beban kognitif. Beberapa riset tersebut diantaranya :

  1. Studi dari UCLA (Center on Everyday Lives of Families) menemukan korelasi antara banyaknya barang di rumah dengan kadar kortisol (hormon stres) yang tinggi, terutama pada wanita. Minimalisme menurunkan kortisol ini, sehingga otak OCPD yang "waspada terus" bisa lebih rileks.
  2. Riset mengenai Decision Fatigue oleh Roy Baumeister menjelaskan bahwa manusia punya jatah energi terbatas setiap hari untuk membuat keputusan. Nah orang OCPD tuh punya kecenderungan melakukan over-analyzing pada setiap detail (misal: memikirkan cara melipat baju yang paling presisi). Dengan minimalisme, saya bisa membuang ribuan keputusan kecil yang tidak penting. Saat keputusan fisik berkurang, "baterai" otak tersisa lebih banyak untuk fokus pada hal penting, seperti membaca artikel atau bekerja.
  3. Riset psikologi lingkungan menunjukkan bahwa lingkungan yang terorganisir memberikan sense of mastery (perasaan mampu menguasai keadaan). Jadi, Minimalisme memberikan "kendali yang mudah" seperti, daripada mengontrol puluhan barang (yang bikin lelah), dengan decluttering atau upcycling, pengidap OCPD bisa mengontrol hanya belasan barang saja. Hal Ini memuaskan kebutuhan OCPD akan kendali tanpa menguras energi fisik sampai habis.

Jadi, hidup minimalis bagi saya lebih dari sekadar gaya-gayaan bisa decluttering atau upcycling, tapi menjaga kewarasan saya. Tapi, tampaknya saya masih doyan decluttering dan upcycling ya? Wkwkwk, iya.

Saya enggan menghilangkan ciri khas OCPD yang satu ini karena sudah melekat terlalu kuat, tapi setidaknya dengan smart-minimalist, saya bisa mengurangi jumlah barang yang gak dipakai, mengubahnya menjadi fungsi lain dan hidup saya terasa free, gak sesak. Saya jadi bisa mikir dan produktif.


Minimalisme, Zuhud dan Qana’ah : Obat Alami OCPD


Minimalisme juga mengajari saya arti “cukup” yang erat kaitannya dengan makna zuhud dan qana’ah dalam islam. Zuhud membuat saya tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada memiliki barang mewah, sementara qana’ah melatih saya untuk ridha dan merasa cukup dengan apa yang sudah saya miliki..

Bagi pengidap OCPD seperti saya, dua konsep ini adalah "obat penenang" yang sangat ampuh. Sebagai pengidap OCPD, saya cenderung terobsesi pada kesempurnaan dan kontrol penuh terhadap lingkungan. Jika ada satu saja barang yang tidak rapi atau tidak sesuai standar, pikiran saya bisa sangat kacau.

Namun, dengan menerapkan zuhud dan qana'ah, saya belajar untuk melepas obsesi tersebut. Saya mulai menyadari bahwa kesempurnaan yang saya cari selama ini seringkali melelahkan dan tidak ada ujungnya.

Alih-alih sibuk mengontrol setiap detail barang agar terlihat sempurna, saya memilih untuk merasa cukup dengan fungsi barang tersebut. Minimalisme menjadi jembatan bagi saya untuk mengalihkan energi OCPD yang tadinya fokus pada "keteraturan benda" menjadi "ketenangan jiwa", karena pada akhirnya, rasa cukup itu datangnya dari hati yang lapang, bukan dari ruangan yang penuh barang.


Apa Itu Smart-Minimalist dan Kenapa Saya Memilihnya?


Mungkin ada yang bertanya, “Katanya minimalis, kok malah hobi simpan botol dan kayu bekas? Bukannya minimalis itu buang-buang barang (decluttering)?”

Nah, disinilah saya memilih istilah Smart-Minimalist

Bagi saya, minimalis bukan soal memiliki sedikit barang atau mengosongkan rumah sampai melompong. Minimalisme versi saya adalah tentang fungsi dan kesadaran. Saya tidak sekadar membuang barang yang tidak diperlukan, tapi mengoptimalkan apa yang sudah ada. Tujuannya? Agar barang di rumah tetap sedikit dan terkendali, tapi fungsinya tetap terpenuhi.

Untuk memperjelas maksud saya, mari kita lihat bedanya Upcycling dan Daur Ulang menurut para ahli:

  1. Upcycling (William McDonough): Dalam bukunya Cradle to Cradle, upcycling adalah proses menaikkan nilai suatu barang lama menjadi produk baru dengan kualitas yang lebih tinggi tanpa menghancurkan bahan aslinya.
  2. Daur Ulang/Recycling (EPA): Menurut Environmental Protection Agency, daur ulang biasanya melibatkan proses penghancuran material (seperti dilelehkan atau dicacah) untuk menjadi bahan baku kembali.

Jadi, ketika saya mengubah sprei lama menjadi tirai kolong dapur, saya sedang melakukan upcycling. Saya menaikkan nilai gunanya tanpa butuh energi besar untuk menghancurkan bahannya.

Bagi saya, upcycling adalah bentuk nyata dari Zuhud dan Qana’ah. Ini adalah cara saya mempraktekkan rasa syukur dan merasa cukup dengan apa yang sudah ada di tangan, tanpa harus terus-menerus terjebak nafsu mengikuti tren belanja yang tidak ada habisnya. Dengan smart-minimalist, saya tidak lagi mencari kebahagiaan dari barang baru yang masuk, tapi dari kreativitas mengolah barang yang sudah saya miliki.


Proyek Upcycling ala Mamajokaa


Tampaknya ini salah satu ciri khas OCPD juga sih, bikin proyek, hahaha. Saya sangat semangat sekali kalau punya proyek apa aja gitu, mengubah ini dan itu.

Hal ini sesuai dengan penelitian Samuel E. Perry dalam psikoterapi gangguan kepribadian yang menjelaskan bahwa individu OCPD merasa dunia tidak aman jika tidak teratur. Maka, satu-satunya cara bertahan hidup adalah dengan menganggap setiap aspek hidup sebagai sistem yang harus dimanajemeni.

Dan, menurut teori Gary Torgow & Dr. Allan Tasman dalam literatur tentang gangguan kepribadian, menjelaskan bahwa bagi individu OCPD, efisiensi adalah nilai moral.

Satu lagi biar nendang, menurut kriteria DSM-5 (American Psychiatric Association) menyebutkan bahwa pengidap OCPD menunjukkan Preokupasi terhadap detail, aturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal sampai pada titik di mana poin utama dari aktivitas tersebut hilang.

Jadi, saya gak bisa sekadar "hidup" atau "santai". Setiap aktivitas (bahkan istirahat) harus punya sistem. Itulah kenapa saya menyebutnya "proyek", karena bagi OCPD, tidak ada yang namanya tindakan spontan tanpa rencana.Pengidap OCPD melihat waktu luang sebagai peluang untuk optimasi.

Jadi, berbekal kreativitas dan sedikit sentuhan ide dari Pinterest, saya mencoba menyulap barang lama menjadi lebih berguna. Berikut beberapa proyek yang sudah saya eksekusi:

1. Sprei Jadi Tirai


Ini agak lucu sih, karena saya jarang beli sprei baru yang bahkan hampir gak pernah, hahaha, Jadi, sprei yang saya punya tuh warisan dari ibu saya dan sebagian adalah mahar. 14 tahun sudah berlalu, sprei-sprei itu masih awet aja, tapi beberapa ada yang sudah agak “guladig” alias pudar.

Jadi, saya sulap sprei yang beneran sudah “guladig” menjadi tirai jendela dan tirai kolong dapur. Karena saya malas menjahit, jadi saya menggunakan "lem jahit" setrika agar tidak perlu repot menjahit manual.

Tiang? Saya gunakan kayu pohon jambu batu (yang ternyata kuat banget dan awet setelah di pernis clear)untuk jendela dan bambu kuning untuk rel tirai kolong dapur. Klep saya gunakan klem kabel plastik dan klep paralon ukuran kecil yang sesuai dengan diameter kayu pohon bambu dan turus bambu.

2. Tumblr Jadi Wadah Sutil


Ide ini kepikiran waktu saya renovasi peralatan dapur low budget. Jadi saya punya botol minum yang sudah kusam dan tutupnya hilang, lalu saya lapisi permukaan tumbler dengan stiker glossy seharga 5 ribu. Hasilnya? Wadah sutil yang cantik dan minimalis.

3. Gelas Bekas Es Krim/Botol Mineral Jadi Pot


Karena saya dan anak-anak sering beli es krim sundae di Mixue, jadi koleksi plastik gelas-nya lumayan banyak. Sebagian saya serahkan ke tempat penyortiran sampah plastik, sebagian lagi saya jadikan pot tanaman air. Selain itu, botol bekas air mineral juga saya jadikan pot tanaman sayur yang merampat. 

4. Kayu Bekas Jadi Box Perkakas


Perkakas tuh salah satu barang rumah tangga yang mesti ada, seperti palu, obeng, gergaji, cutter dan lain sebagainya. Karena barang-barang perkakas tuh berat-berat, jadi saya ke-ide-an bikin box perkakas dari kayu bekas cor-an semen sisa renovasi rumah ibu saya.

Dibersihkan-lah itu papan yang masih banyak nempel semen keringnya dan berkat sugu serta gergaji hasil pinjam tetangga, saya sulap papan bekas tersebut menjadi box perkakas.

5. Besek Hidangan Jadi Wadah Bumbu dan Tempat Tissue


Budaya hajatan di lingkungan rumah saya cukup unik sih, selain selalu ada “hidangan” untuk yang gak bisa hadir di hari H, juga kerap menggunakan besek untuk meletakan snack di hidangan.

Besek bekas hidangan saya gunakan untuk menyimpan bumbu sachet, stok mie instan dan stok telur. Bumbu-pun tersimpan rapi, tersembunyi dan terlihat estetik di rak dapur. Selain dijadikan wadah bumbu, besek juga saya jadikan wadah tissue ukuran kecil, tinggal di gunting saja bagian atasnya untuk lubang menarik lembaran tissue.

Tapi karena gak semua hidangan ada beseknya, untuk melengkapi ke-estetik-an dapur, saya beli besek online seharga 1500/pasang.

Jika Mom ingin tahu lebih detail bagaimana saya mengelola pernak-pernik ini dengan budget yang sangat mepet (bahkan di bawah 400 ribu untuk satu dapur!), Mom bisa baca ceritanya di sini: Upgrade Pernak-Pernik Dapur Low Budget ala Mamajokaa. Di artikel tersebut saya cerita soal drama menghitung kebutuhan kain bareng AI sampai sukses bikin botol minyak dari bekas botol orson!

Melihat barang-barang yang tadinya dianggap "sampah" kini punya fungsi baru yang berguna benar-benar memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Selain rumah jadi lebih rapi dan bebas dari tumpukan barang tak berguna, proyek upcycling sederhana ini juga menjadi cara saya melatih fokus dan kreativitas di tengah padatnya rutinitas.

Kesimpulan


Smart-Minimalist melalui upcycling bagi saya bukan tentang hemat, tapi tentang efisiensi dan fungsionalitas. Tujuannya bukan untuk terlihat keren, tapi untuk membuang gangguan, baik itu barang penambal trauma maupun drama mental, agar saya punya ruang untuk hal-hal yang benar-benar esensial.

Bagi saya yang hidup dengan OCPD, cara ini adalah bentuk perdamaian paling jujur dengan diri sendiri, mengubah obsesi kontrol menjadi kreativitas yang solutif.

Dengan mengkurasi apa yang saya miliki, saya memberikan diri sendiri kesempatan untuk meraih ketenangan. Di atas segalanya, hal ini adalah bentuk rasa syukur saya kepada Sang Pencipta, belajar merasa cukup dengan apa yang ada dan menghargai setiap nikmat-Nya tanpa harus serakah. Karena di usia ini, hidup yang "ringan" dan hati yang lapang adalah privilege.
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar