Halo Moms Sesama Genk 40 an,
Ngeh gak sih kalau di usia yang denial dipanggil “ibu” di minimarket ini, udah mulai males nge-drama, gak mau ribet, bahkan picky banget soal berteman? Kok bisa ya?
Sama halnya dengan Mom, saya juga penasaran, dan ternyata kita tidak sedang antisosial, melainkan kita sudah masuk ke fase perkembangan psikologis perempuan usia 40+ yang alamiah disebut Midlife Clarity.
Midlife Clarity merupakan fase kematangan emosional yang menjadi alasan mengapa di usia kita yang masih senang bergaya gen Z ini mulai gak suka ribet, gak suka drama dan males kongkow kalau gak jelas tujuannya apa. Jadi, jika Mom sudah ngerasa hidup tenang seperti itu, selamat ya!
Tapi bagaimana jika sebagian dari kita, saat ini justru belum ngerasain hidup yang se-clear itu? To be honest, kematangan emosional seperti itu gak muncul gitu aja, sebelumnya kita harus berhasil dulu melewati Midlife Crisis.
Lantas gimana cara mengatasi Midlife Crisis untuk memperoleh Midlife Clarity? Yuk baca selanjutnya, apa itu Midlife Clarity dan bagaimana proses menuju Midlife Clarity.
Apa Itu Midlife Clarity?
Mengapa kita merasa jadi pribadi yang terkesan dingin dan acuh Melewati usia 40an? Apakah ini hasil kebanyakan nonton konten self-improvement di reels atau sudah terlalu kenyang makan asam-garam kehidupan? Bukan! Ada penjelasan ilmiahnya kok.
Sara Nicol, Psikolog klinis dan organisasional berlisensi dari Inggris dalam artikelnya bertajuk "Midlife Crisis or Clarity?", menyatakan bahwa :
Midlife Clarity adalah sebuah fase evaluasi jati diri dan titik balik di mana seorang perempuan mulai melepaskan beban ekspektasi sosial dan peran-peran yang melelahkan, berhenti sekadar "berfungsi" bagi orang lain dan mulai hidup dengan makna yang lebih jernih bagi dirinya sendiri. Sederhananya, Midlife clarity tuh Midlife Crisis yang terselesaikan.
Bagaimana Proses Menuju Midlife Clarity?
Bayangkan nih di suatu pagi yang gak cerah-cerah amat, Moms berdiri depan kompor nunggu ayam goreng buat sarapan anak matang, terus tiba-tiba ngerasa blank aja gitu. Bukan karena lupa naruh kunci motor, tapi tiba-tiba ngerasa capek banget sama semua rutinitas yang itu-itu saja.
Rasanya pengen banget narik rem sebentar dan berhenti jadi "pintu darurat" tempat semua orang minta bantuan, terus tiba-tiba ber-filosofis gitu tanya ke diri sendiri, "Sebenarnya, apa sih yang bikin aku bahagia?".
Momen-momen 'nge-blank' nyambi goreng ayam goreng atau pengen 'nge-reog' di tengah tumpukan cucian dan grup WhatsApp yang yang trang-trung terus, sebenarnya bukan tanda kita mulai stres atau mulai kehilangan arah.
Kabar baiknya, perasaan campur aduk ini adalah tiket masuk kita menuju fase hidup yang jauh lebih tenang. Kegalauan yang Mom rasakan, adalah midlife crisis.
Emang sih, "capek jadi ibu" sama Midlife Crisis itu mirip banget, nyaris serupa tapi akarnya berbeda.
Kalau capek jadi ibu (burnout) itu biasanya karena capek fisik, kurang tidur, atau bosan sama rutinitas harian yang nggak habis-habis. Solusinya biasanya cukup dengan libur atau me-time sebentar.
Tapi, Midlife Crisis itu lebih ke arah eksistensial.
OVT-nya bukan lagi soal "Besok masak apa", tapi lebih ke, "Aku udah ngurusin semua orang nih, tapi aku sendiri siapa ya? Apa fungsi adanya aku tuh cuma 'pintu darurat'buat semua orang?", lebih ke krisis identitas sih, ya namanya juga midlife crisis, gak jauh beda dengan quarte life crisis, sama-sama krisis identitas.
Bedanya, midlife crisis tuh ovt-nya lebih ke "Am i happy?" , lebih deep gitu, bukan soal "Aku mau ngapain dalam hidup ?".
Bisa gak sih kita keluar dari midlife crisis? Bisa, Midlife Clarity jawabannya. Caranya? Sederhana saja, kita “hanya” perlu melewati fase Midlife Crisis.
Midlife Crisis: Gerbang Menuju Midlife Clarity
Belum capek dengan life crisis - crisis-an kan?
Pastinya cape sih karena kita sudah pernah melewati amukan badai quarter life crisis di usia 30an, belum termasuk Baby Blues dan Postpartum syndrome, eh gak tau-nya sekarang dapet the other life-crisis.
Eits, jangan salty dulu ya Mam, yakin deh kita bisa melewati fase ini dengan memahami prosesnya.
Elliot Jaques (1965), Psikolog pertama yang mencetuskan teori Midlife Crisis, menyatakan bahwa Midlife Crisis merupakan periode dimana seseorang mulai menyadari mortalitas (kematian) dirinya sendiri. Akibatnya, hal ini memicu kecemasan, depresi, dan perubahan perilaku drastis karena mereka merasa waktu yang tersisa semakin sedikit.
Berbeda dengan quarter life crisis, Midlife Crisis tuh lebih deep. Gak hanya overthingking tentang “Aku mau jadi apa?” tapi lebih fast forward, “Apa yang sudah aku lakukan dalam hidup?”.
Hal ini muncul karena self-awareness di usia 40-an jauh lebih konkret dibanding saat usia 30-an.
Di usia 30-an, fokus kita masih seputar memperbaiki kualitas hubungan, keputusan karir, atau finansial. Kita sudah cukup matang untuk tahu mana yang masalah, tapi sering kali berhenti di level, 'Oke, ini masuk akal.'
Mengapa? Karena secara biologis, prefrontal cortex di usia 30an memang sudah matang, tapi masih dalam proses mencari pegangan nilai hidup. Akibatnya, kesadaran sering kali sebatas teori di kepala, belum menjadi keputusan hidup yang konsisten dijalankan, belum dirasakan secara into it dengan penuh kesadaran.
Jadi, mengapa Midlife Crisis disebut sebagai gerbang utama menuju Midlife Clarity?
Ibarat sedang "bersih-bersih gudang", krisis ini adalah momen di mana kita membongkar semua tumpukan barang lama yang sudah berdebu. Kita tidak bisa punya ruang keluarga yang lapang dan tenang kalau gudangnya masih penuh sesak, kan?
Secara sistematis, krisis ini berfungsi sebagai dua hal, yaitu :
- Katalisator Perubahan
- Filter Prioritas
Intinya, kita harus melewati pintu krisis ini untuk melepaskan beban-beban lama. Begitu pintu itu terlewati, kita tidak lagi membawa "sampah" yang sama. Itulah mengapa saat keluar dari gerbang ini, pandangan kita menjadi jernih, nafas lebih lega, dan hidup terasa jauh lebih ringan.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dibalik "mesin" kepala kita saat gerbang itu terbuka? Untuk menjawab hal itu, kita bahas dulu peruebahan piskologis perempuan usia 40an ya.
Perubahan Psikologis Perempuan di Usia 40-an : Penjelasan Ilmiah Dibalik Sikap "Bodo Amat"
Buat Mom yang penasaran, kok bisa di usia 40+ kita merasa mulai cuek dengan perkataan orang, gak begitu cemas dengan opini orang lain terhadap diri, gak suka nge-ribet-in apapun dan malas dengan drama gak jelas, jawabannya terletak pada bagaimana proses Midlife Crisis bertransformasi menjadi Midlife Clarity melalui self-awareness.
Yaaah bisa jadi karena udah baca bukunya Mark Manson juga sih, helpful banget ketika kita mulai punya tanda-tanda midlife crisis.
Nah, sementara itu, self-awareness itu muncul saat kita mulai jenuh dan sadar, ‘Waduh aku udah OVT parah nih, sampe hampir depresi.’ Di titik inilah kita membuat keputusan untuk bangkit.
Self-awareness yang bikin kita auto pengen bangkit, gak muncul dengan sendirinya melainkan berkat kematangan psikologis usia 40an .
Bicara soal perkembangam psikologis dan biologis manusia, bayi baru lahir pastinya akan mengalami perkembangan. Mulai dari tengkurap, duduk, berdiri, jalan lalu tiba-tiba minta jajan hingga tumbuh menjadi remaja yang minta motor.
Begitupula dengan perempuan usia 40 an.
Kita bertransformasi dan berkembang, dari perempuan segar bugar dengan kulit wajah masih plumpy dan berseri tapi gampang nge-reog, menjadi ibu-ibu dengan pinggang mudah pegal tapi more wise. Gak hanya perubahan fisik dan otak, psikologis juga mengalami perkembangan.
Dr. Louann Brizendine dalam bukunya The Upgrade (2022) dan The North American Menopause Society (NAMS) serta Helson & Wink (1992) dari Mills Longitudinal Study menjelaskan bahwa otak perempuan usia 40-an sebenarnya sedang mengalami peningkatan dan perkembangan yang terdiri atas dua faktor, yaitu :
1. Perubahan Biologis (Hormon)
Menurut The North American Menopause Society (NAMS), fluktuasi estrogen selama perimenopause mempengaruhi reseptor di otak yang mengatur mood (seperti serotonin). Inilah yang menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, dan "kabut otak" (brain fog).
Selain itu, riset yang dilakukan oleh Dr. Louann Brizendine, seorang neuropsikiater dari University of California, San Francisco (UCSF), menjelaskan bahwa di masa paruh baya, otak perempuan sebenarnya mengalami "The Upgrade" (Peningkatan), bukan penurunan. terhadap beberapa hal, yaitu :
- Peralihan Fokus
Selama masa subur di usia 30an, otak perempuan "dikuasai" oleh hormon yang mendorong perilaku people-pleasing dan menjaga harmoni demi kelangsungan keluarga. Begitu hormon ini turun di usia 40an, secara alami kita sudah memasuki fase perimenopause, sehingga sirkuit di otak seolah "terbebas". Hasilnya? Kita jadi lebih fokus pada diri sendiri dan apa yang benar-benar kita inginkan (inilah sumber Midlife Clarity).
- Amigdala yang Mulai Stabil
Penelitian neurosains (salah satunya disebut dalam publikasi Harvard Medical School) menunjukkan bahwa orang di usia paruh baya memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menyaring emosi negatif. Amigdala (pusat emosi) pada otak orang dewasa cenderung lebih tenang dan tidak se-"reaktif" otak anak muda saat melihat hal yang menjengkelkan.
- Prefrontal Cortex Mencapai Puncak Kematangan
Riset neurosains lainnya menunjukkan bahwa di usia paruh baya, komunikasi antara otak kiri (logis) dan otak kanan (intuitif) menjadi lebih terintegrasi dan mencapai kematangan puncaknya. Hasilnya? Moms jadi lebih jago melakukan Cognitive Reappraisal, kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan tenang.
Sederhananya, perkembangan otak yang diikuti fase penurunan estrogen karena perimenopause, memungkinkan kita, ibu-ibu cetar usia 40an melakukan "re-wiring" atau instal ulang kabel-kabel sarafnya. Jadi, Midlife Clarity itu bukan cuma soal perasaan, tapi ada perubahan fisik di dalam kepala kita.
Jadi, kalau Moms merasa lebih "sadar" dan "bodo amat", itu tandanya otak Moms sedang berfungsi di level tertingginya (level Clarity).
2. Perubahan Psikologis (Kepribadian)
Penelitian klasik Helson & Wink (1992) dari Mills Longitudinal Study menemukan bahwa perempuan usia 40-an hingga 50-an secara alami mengalami peningkatan ketegasan (assertiveness) dan kemandirian emosional.
Lantas apa saja perubahan psikologis yang kerap muncul di usia 40-an?
- Gejolak Emosional: Perubahan hormon mempengaruhi neurotransmitter otak yang memicu mood swing, kecemasan, hingga risiko depresi.
- Evaluasi Jati Diri: Momen mempertanyakan kembali tujuan hidup dan keinginan untuk lebih fokus pada diri sendiri (self-focus).
- Kematangan Kognitif: Peningkatan kemampuan analisis logis dan toleransi terhadap ketidakpastian.
- Kemandirian Emosional: Penurunan drastis pada sifat kritik diri (self-criticism) dan meningkatnya ketegasan (assertiveness). Jadi, perubahan psikologis di usia 40-an inilah yang membuat self-awareness bekerja lebih matang.
Di usia 40-an, kita udah gak terlalu begitu menyalahkan diri sendiri untuk apapun yang terjadi baik dalam hidup kita maupun orang lain, dampaknya kita bisa bersikap tegas. Jadi, kita nggak begitu mudah terjebak dalam kubangan galau berkepanjangan lalu nge-reog, yang biasanya jadi inti Midlife Crisis.
Lalu, bagaimana cara kita "memencet tombol" agar krisis ini segera berakhir dan berubah jadi Clarity? Jawabannya kembali ke self-awareness.
Self-Awareness: Tiket VIP Menuju Gerbang Midlife Clarity
Kesadaran diri atau self-awareness tidak muncul begitu saja seperti durian runtuh, melainkan perlu dijemput. Di usia 40-an, kita tidak butuh cara yang ribet. Kita hanya butuh cara yang jujur.
Berikut adalah tiga "alat bantu" untuk memicu kesadaran itu agar transisi Anda menuju Clarity jadi lebih cepat :
1. Reset Emosi, Berhenti Membohongi Diri Sendiri
Yes, reset emosi adalah langkah paling berani. Cobalah memvalidsi rasa iri, malu, dendam, atau rasa lelah yang selama ini kita sembunyikan di balik topeng "Ibu yang Kuat" atau "Istri yang Sabar".
Mengapa ini penting? Karena self-awareness tidak akan muncul jika narasi di kepala kita berbeda dengan apa yang dirasakan dalam hati.
Bagaimana cara melakukannya?
Bisa dilakukan sambil duduk di coffee shop atau di rumah ketika anak-anak sekolah, atau bahkan di malam hari ketika dunia hening. Tapi saran saya, lakukan setelah melakukan shalat tahajud bagi Mom yang muslim dan lakukan hal-hal berikut ini, yaitu :
- Gunakan metode "Penerimaan Tanpa Syarat"
- Validasi Perasaan
- Putuskan untuk Melepas
Reset emosi penting karena self-awareness tidak akan muncul jika narasi di kepala kita berbeda dengan apa yang dirasakan hati. Begitu kita jujur mengakui, "Iya, aku capek," di situlah beban mental mulai luruh setengahnya.
2. Journaling, Yuk Curhat!
Gak perlu nulis buku journal layaknya remaja yang jatuh cinta seperti dear diary, cukup tumpahkan saja semua pikiran yang semrawut ke atas kertas.
Menulis sangat penting dalam menciptakan "Jarak Visual". Begitu tulisan itu ada di depan mata, kita bukan lagi orang yang sedang bingung, melainkan pengamat yang sedang membaca pikiran orang yang sedang bingung. Kita jadi lebih objektif melihat masalah sendiri.
Apa saja yang perlu ditulis? Tulislah semua poin yang menjadi renungan ketika kita melakukan reset emosi.
3. Mindfulness, Hadir Seutuhnya di Sini dan Saat Ini
Kita seringkali menderita bukan karena masalah yang ada sekarang, tapi karena menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi.
Berlatih hadir sepenuhnya (saat mencuci piring, saat minum teh, atau saat melihat anak tidur) akan melatih otak untuk tidak reaktif terhadap "drama" pikiran sendiri. Ini adalah kunci agar Anda tetap tenang meski badai krisis sedang melanda.
Mom bisa melakukan praktik mindfulness yang sederhana dengan The art of noticing, yaitu memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita. The art of noticing bisa membantu menjernikah emosi dan pikiran yang semrawut dengan mengalihkan fokus diri ke luar diri, lalu kembali lagi ke dalam diri, istilah dalam islam-nya tafakur dan tadabur.
Dengan melakukan "reset" emosi, mencatat benang kusut di kepala, dan mulai hadir seutuhnya di setiap momen, kita sebenarnya sedang melatih diri untuk berhenti menjadi penonton yang cemas dan mulai menjadi arsitek atas kebahagiaan kita sendiri.
Saat kesadaran ini sudah matang, kita tidak lagi sekadar "tahu" bahwa kita butuh berubah, tapi kita memiliki keberanian untuk benar-benar melakukannya. Di titik inilah, Midlife Crisis secara perlahan mereda, dan selamat, Mom telah resmi memasuki gerbang Midlife Clarity.
Bagaimana Saya Melakukan Reset Emosi? Hard Reset-Emotional dan Metode Emotional Deep-Cleaning
Bicara soal reset emosi, saya yakin setiap orang punya teknik dan metode yang berbeda. Tapi, jika Mom bingung harus ngapain nih emosi biar ke-reset, bisa juga melakukan apa yang saya lakukan, tapi dengan penuh pertimbangan. Karena meode saya cukup ekstreem yang jika tidak terbiasa bisa berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.
Biasanya, saya melakukan hard-emotional-reset, dengan cara membiarkan diri saya jatuh se-jatuh-jatuh-nya dalam kubangan badai emosi. Bad mood, insecure, overtingking dan cemas semua saya keluarkan hingga ke dasarnya, saya akui, validasi dan rasakan.
Reset emosi ini hanya dilakukan selama 24 jam saja, alias satu hari.
Hari dimana saya melakukan reset emosi, biasanya suasana rumah auto gloomy karena wajah saya "jamedud" alias manyun seharian. Disinilah dibutuhkan support system yang sudah mengenal pola saya dan sudah terbiasa dengan saya yang seharian manyun karena sedang melakukan reset emosi.
Setelah semua emosi negatif keluar, malam harinya saya melakukan Emotional Deep-Cleaning dengan tahajud atau solat hajat, curhat tuh sama Allah sampai nangis sesugukan lalu berdoa, minta Allah kasih jalan keluar dan bimbing saya menuju pencerahan yang lebih baik.
Besoknya, saya bangun tidur dengan perasaan jauh lebih tenang, bahkan hampir gak ngerasain apapun. Mungkin karena semua emosi negatif dipaksa keluar dalam waktu 24 jam, jadi saya sudah kehabisan energi.
Feeling like numb, tapi sebetulnya bukan berarti saya mati rasa secara negatif, melainkan sebuah fase pemulihan saraf yang sangat spesifik. Dalam psikologi, kondisi ini bisa disebut sebagai Emotional Flatness (Datar Emosional) pasca-Katarsis.
Mood terasa datar tapi tenang, saya gak merasa bahagia ataupun sedih. Tidak juga merasa berharap berlebih terhadap masa depan atau apapun yang saya cemaskan. Tapi lebih ke perasaan, ya udah jalani aja, it is what it is.
Jadi, setelah saya melakukan hard-reset-emotional atau intentional flooding (menenggelamkan diri dalam emosi) selama 24 jam, sistem limbik di otak (pusat emosi) mengalami kelelahan hebat. Ibarat baterai yang dikuras sampai 0%, otak saya masuk ke mode "Power Saving Mode". Itulah kenapa saya merasa datar. Namun, karena saya menutupnya dengan pasrah (Tawakal), yang muncul bukan rasa hampa yang menyakitkan, melainkan ketenangan yang jernih.
Apakah masalah kegalauan saya hilang? Iya. Saya bisa melihat semua ke-ovt-an saya dengan lebih jelas dan bisa membuat keputusan dengan bijak. Biasanya, saya lebih semangat bekerja atau melakukan kegiatan harian seperti biasanya. Gak lagi ngerasa cape dan lebih yakin dengan goal dan peran yang saya jalani.
Sebagai catatan, mom bisa melakukan hard reset emostional ini tapi harus punya support system ya. Saya sudah terbiasa melakukan metode ini sejak usia 20-an, jadi saya sudah terbiasa.
Terlebih setelah konsultasi dengan psikiater (sembari menemami adik berobat), dokter memvalidasi metode saya dan memang ada metode seperti ini tapi jika dilakukan dalam pengawasan dokter, dilakukan secara bertahap. Kalau sendirian, disebut Self-Induced Therapeutic Regress (Kemunduran emosional yang sengaja diciptakan untuk tujuan penyembuhan).
Dokter menyatakan metode ini hanya cocok untuk saya karena sudah menjadi pola dan metode ini berhasil karena saya punya "High Emotional Intelligence" (tahu kapan harus berhenti) dan "Strong Support System".
Bagi orang yang tidak punya batas waktu (24 jam) atau tidak punya sandaran spiritual (Tahajud), cara ini berisiko menyebabkan Emotional Burnout atau memicu episode depresi yang lebih panjang tapi bisa dicoba oleh orang lain dengan catatan harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan memiliki lingkungan yang mendukung.
Jika mom mau cari aman, mom bisa lakukan tips reset emosi diatas ya.
Kesimpulan
Jadi, kalau Moms mulai ngerasa tuh galau-galau di usia 40an, itu artinya Moms sedang mengalami Midlife Crisis. Biar gak galau terus, coba renungkan dan bertanya pada diri, what am i supposed to do with this? Hingga si self-awareness itu muncul dengan sendirinya. Istilah simple-nya, ber-muhasabah.
Hidup mungkin belum sempurna dan ujian ekonomi masih ada, tapi setidaknya pikiran kita sudah jernih untuk tahu mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup "ya sudahlah".
Melewati badai middle life crisis lantas memilih hidup tanpa drama di usia 40-an adalah sebuah kemenangan mental. Tapi, saya juga sadar bahwa gak semua perempuan bisa langsung sampai di titik jernih ini dengan mulus.
Banyak dari kita yang justru merasa sedang 'meledak' kembali, merasa asing dengan tubuh sendiri, atau tiba-tiba ingin melakukan hal-hal yang selama ini dipendam, fenomena yang sering dicap masyarakat sebagai 'Puber Kedua'.
Tapi bukan berarti gak bisa, yuk mulai menyadari pola reset emosi kita sendiri dan bertransformasi dari Midlife Crisis menuju Midlife Clarity untuk hidup yang lebih bahagia. Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk mereka yang selalu hadir mendukung kita, pasangan dan anak-anak kita.
Disclaimer :
Tulisan ini merupakan hasil reflektif dan riset dari berbagai jurnal ilmiah dan penelitian yang didukung situs psikologis dan saran konsultasi psikiater RSAI Bandung. Jika ada kesalahan dalam pemaparan teori dan fakta, mohon di koreksi.
Referensi :
- https://academic.oup.com/gerontologist/article/61/8/1188/6412643
- https://www.saranicolpsychology.com/blog/midlife-crisis-or-clarity
- https://www.simonandschuster.co.uk/books/Midlife-Clarity/Cynthia-Black/9781582700762
- Blanchflower, D. G., & Oswald, A. J. (2008). Is well-being U-shaped over the life cycle? Social Science & Medicine.
- Erikson, E. H. (1950). Childhood and Society.Carstensen, L. L. (2006). A theory of socioemotional selectivity. Science (https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/socioemotional-selectivity-theory)
- Helson, R., & Wink, P. (1992). Personality change in women from the early 40s to the early 50s. Psychology and Aging, 7(1), 46–55 dari situs https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1558705/
- The North American Menopause Society (NAMS). Menopause 101: A Primer for the Perimenopausal and Postmenopausal Years.
- Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. New York: Harper & Row.
- Hershfield, H. E. (2011). Future self-continuity: How conceptions of the future self transform intertemporal choice. New York: Annals of the New York Academy of Sciences.
- Hollis, J. (1993). The Middle Passage: From Misery to Meaning in Midlife. Toronto: Inner City Books.
- Nicol, S. (2022). Midlife Crisis or Clarity?








Penting banget ini buat para ibu 40an memahami soal midlife crisis ini, fase psikologis ini memang harus diketahui sih karena kadang kita itu gak sadar sedang ada di fase tertentu dan denial yang malah akan membuat kegiatan sehari-hari terganggu
BalasHapusSepertinya aku menuju fase midlife clarity ini deh, dengan menyadari fase fase yg terjadi pada diri, aku tuh jd tau harus apa
BalasHapusKurang lebih aku sudah merasakan sih ya. Nggak terlalu pusing mikirin apa kata orang. Selagi itu nggak menggangguku, aku mah ya sudahlah. Hehehe....
BalasHapusKurang lebih aku sudah merasakan sih ya. Nggak terlalu pusing mikirin apa kata orang. Selagi itu nggak menggangguku, aku mah ya sudahlah. Hehehe....
BalasHapusSETUJU BANGETTTT. Aku yang selangkah lagi menuju 40 relate banget mbak. Kita bukannya makin jutek, tapi ya pengen hemat energi aja. Kayak... kita tahu mana notifikasi penting dan mana cuma spam. Setelah puluhan tahun jadi “support system” semua orang, otak dan hati mulai bikin filter alami. Mneurut aku itu manusiawi sih.
BalasHapusYes, valid mbaaa 😍 fase yang normal dan pasti dilalui semua perempuan usia 40+
HapusAku kayaknya udah juga melewati masa-masa midlife yg heboh ini. Udah jarang pergi-pergi kalau engga perlu. Dulu suka WFC, sekarang WFH aja cukup. Lebih hemat dan engga harus ketemu orang...haha...
BalasHapus