mamajokaa food blogger bandung

Lepas KB Suntik Setelah 10 Tahun & Pindah ke IUD Langsung Nge-Reog? Ini Alasan Medisnya

pengalaman lepas kb suntik ke IUD


Entah titik awalnya dari mana, yang jelas minggu ini saya mengalami amukan “megatsunami” emosi dan mood. Bawaannya pengen marah-marah mulu, pengennya rebahan, makan indomie ramen, makan es krim atau seruput es teler.

Saya juga kesel luar biasa sama suami, yang bahkan lihat mukanya aja saya sebel.

Gak cuman itu, saya juga jadi sensitif banget, dikit-dikit nangis dan ngalamin flashback trauma. Padahal, it’s so obvious saya sudah tenang, alumni midlife crisis dan lagi asyik dengan midlife clarity yang bebas drama.

Setelah dipikir - pikir, semua gejolak emosi dan mood ini muncul sejak saya berhenti menggunakan KB suntik 3 bulan karena hipertensi dan beralih ke KB IUD seminggu yang lalu. 

Qadarullah, pasca pemasangan IUD saya langsung menstruasi. Masalahnya, saya lupa gimana rasanya menstruasi dan menghadapi amukan badai emosi atau PMS. Saya jadi bingung sendiri rasanya.

Ya, sudah 10 tahun saya gak menstruasi karena menggunakan KB Hormonal suntik 3 bulan. And here i am, curhat biar emosinya gak lari ke rebahan seharian, pasang wajah tutut ke semua orang, marahin anak-anak tanpa alasan atau ngamuk random sama pasangan.


Pengalaman Pakai KB Suntik 3 Bulan Selama 10 Tahun



Sejak pasca hamil anak pertama, saya gak pasang KB karena yakin se-yakin-yakinnya pakai sistem penanggalan. Entah kenapa saya enggan pakai KB padahal kami punya rencana hanya memiliki satu anak saja.

Karena banyak “ntar”, akhirnya saya lupa mengunjungi bidan dan qadarullah lahir-lah anak kedua. Mungkin ini bagian dari takdir ya, alhamdulillah diterima dengan baik meski ada syok dan drama dikit, wajar lah ya karena diluar perencanaan.

Sayangnya, selama hamil anak kedua saya banyak mengalami “drama”, mulai dari emotional wave, kena DBD sampai kemungkinan lahiran prematur. Selain itu, obgyn menyarankan saya lahiran sesar karena pasca lahiran pertama saya mengalami ruptur perineum stadium 4, jadi agak beresiko kalau lahiran normal.

Alhamdulillah proses persalinan sesar lancar dan pasca operasi sesar, obgyn langsung pasang IUD dan sebulan kemudian saya kontrol KB IUD. Hasilnya? Si IUD dilepas lagi, kenapa? Karena rasanya menusuk dan benangnya selalu nongol. Gak nyaman sama sekali.

Akhirnya saya coba pakai KB hormonal suntik 1 bulan tapi gak cocok karena saya selalu mengalami sakit kepala. hampir setiap hari. Solusinya? Saya beralih ke KB suntik 2 bulan, tapi, saya malah ngalamin keputihan cukup parah yang mengganggu.

Akhirnya seluruh eksperimen KB berlabuh pada KB suntik 3 bulan dan alhamdulillah saya nyaman.

Saya gak ngalamin sakit kepala hebat, gak ada keputihan parah dan badan nyaman. Berat badan juga gak yang drastis naiknya, standar aja, kadang naik kadang turun meski kebanyakan naiknya ya, wkwkwkwk. 

Nah, karena ngerasa udah cocok, saya terus menggunakan KB suntik 3 bulan selama hampir 10 tahun.

Meski secara medis efek samping utama KB suntik 3 bulan meliputi gangguan menstruasi (spotting, haid tidak teratur, atau amenore), peningkatan berat badan, sakit kepala, dan penurunan gairah seksual, hal ini gak saya alami kecuali gak haid.

Justru, saya mengalami kondisi kesehatan lain yang cukup bikin syok, yaitu sering ngalamin linu tulang dan sendi dan hipertensi hingga 150/110. Wow!!

Kondisi ini berlanjut selama lima tahun terakhir pemakaian KB suntik 3 bulan sih, tensi-nya fluktuatif tapi selalu di angka 130 -140. Puncaknya, ketika pemasangan KB suntik bulan ini, tensi gak turun-turun meski diulang keesokan harinya.


UPTD Cipadung, Bandung
UPTD Cipadung, Bandung

Akhirnya saya mengunjungi dokter umum dan menceritakan perihal hipertensi serta penggunaan KB suntik 3 bulan selama 10 tahun, dokter bilang, 

“Ya Bu, hipertensi ibu disebabkan penggunaan KB suntik 3 bulan. Udah ya bu, ganti KB ke IUD”

JLEB! Hati saya-pun mencelos, merana dan gundah. Terbayang sudah harus pindah KB dan menggunakan KB IUD. Belum apa-apa udah kebayang parno-nya, wkwkwkwk.

Saya langsung stress karena ingat gimana rasanya pencabutan IUD 10 tahun silam. Ngeri! Tapi tetap harus saya jalani daripada tensi terus naik kan?

Perkataan dokter yang saya kunjungi itu benar, dan terbukti secara ilmiah.

Menurut penelitian bertajuk “Hubungan Lama Pemakaian Kontrasepsi Terhadap Tekanan Darah Dan Kadar Kolesterol Total Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan” karya Risa Andri Prabawati DKK yang dipublikasikan di situs Jurnal Ilmiah Biosaintropis, menyatakan bahwa,

Mayoritas ibu dengan lama pemakaian KB Suntik 3 bulan 2-3 tahun (50%) mengalami hipertensi stage 1 dan mayoritas ibu dengan lama pemakaian kb Suntik 3 bulan 2-3 tahun (70%) memiliki kadar kolesterol total batas tinggi.

Jadi, tentu saya gak mau terus mengalami hipertensi dong terlebih hipertensi yang saya alami nyaris tanpa gejala dan ini yang berbahaya.

Apakah penggunaan KB Suntik 3 bulan menyebabkan hipertensi?
Apakah penggunaan KB Suntik 3 bulan menyebabkan hipertensi?

Akhirnya, Pakai KB IUD


Dengan keberanian penuh, akhirnya saya mengunjungi Poli Bidan di Puskesmas faskes 1 dan mengajukan pemasangan IUD menggunakan BPJS. Emang bisa? Bisa dong! Kan lumayan ya lebih hemat karena gratis, wkwkwkwk.

Curhatan ketika mau pasang KB IUD
Curhatan ketika mau pasang KB IUD


Cuman ya itu, kalau mau ke puskesmas, kudu dateng "nyubuh" buat ambil antrian nomer. Saya datang jam 06:30 dapat antrian No.02 tapi dipanggil jam 08:00 wib buat daftar dan dipanggil lagi di Poli Bidan jam 09:00 wib. lumayan lamaaaa kaaan? hiks. 

Tapi, pelayanannya gimana? T.O.P B.G.T (milenial pasti tau istilah ini, hahahaha).

Ibu Bidan dan asistennya luar biasa ramah dan cerewet alias banyak nanya. Mereka membuat saya nyaman dengan mengobrol ringan sebelum pemasangan.

Saking nyamannya, obrolan kami berlangsung selama lebih dari satu jam. Ya ofkors sambil mengukur tensi (yang alhamdulillah normal berkat asupan amlodipine 10 mg secara rutin setiap malam), dan pengukuran serta pendataan lainnya.

Sejam kemudian pemasangan-pun dilakukan. KB IUD yang digunakan adalah jenis T karena yang jenis spiral sekarang udah gak digunakan lagi. 

KB IUD T (Intrauterine Device) atau KB spiral adalah alat kontrasepsi jangka panjang berbentuk huruf T kecil dari bahan plastik berlapis tembaga atau mengandung hormon yang dipasang di dalam rahim. Alat ini sangat efektif, mencapai 99%, untuk mencegah kehamilan dengan cara menghalangi sperma bertemu sel telur, dan dapat digunakan selama 3–10 tahun.

Jadi, KB IUD adalah kontarsepsi paling aman untuk yang punya riwayat hipertensi karena  tidak mengandung hormon (estrogen/progestin) yang dapat memicu kenaikan tekanan darah, menyumbat pembuluh darah, atau berinteraksi negatif dengan obat darah tinggi. 

KB IUD sangat efektif, praktis , jangka panjang, dan kesuburan cepat kembali setelah dilepas. Tapi, punya efek Samping, umumnya menyebabkan menstruasi lebih banyak/lama (terutama jenis tembaga) atau kram perut.


Tes HPV ?& IVA ketika pemasangan IUD
Tes HPV ?& IVA ketika pemasangan IUD


BTW, gimana rasanya? Ya gitu we lah, yang pernah ngalamin pasti tahu ya, hahaha.

Lucunya, karena saya gak pernah menstruasi selama 10 tahun, mulut rahim mengecil like a virgin jadi susah tuh masukin IUD nya, bahkan sampai ganti alat hingga tiga kali. Asisten bidan bahkan sempat ngomong, “Kalau gak bisa, rujuk ke rumah sakit ya bu”, Oh No! Gak mau! Saya pun berdo’a sekencang-kencangnya semoga berhasil. Alhamdulillah bisa.

Alhamdulillah pemasangan IUD sukses dan sekalian juga Ibu Bidan melakukan tes HPV dan IVA (ya biar sekalian dong ya, hihihi), Alhamdulillah hasilnya negative.

FYI, Tes HPV DNA dan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) adalah metode skrining deteksi dini kanker serviks yang paling umum dan krusial bagi wanita, terutama yang aktif secara seksual. Tes HPV mendeteksi keberadaan virus HPV risiko tinggi, sementara IVA melihat sel abnormal pada leher rahim. Nah, di Puskesmas kita bisa seklian tes ini ketika pemasangan KB IUD. 

And then, “ujian” selanjutnya saya hadapi, yaitu perut kram pasca pemasangan IUD. Aaaah pantesan kenapa bidan meresepkan asam mefenamat dan antibiotik? Oh ternyata buat mengatasi kram perut.

Apakah berhasil mengurangi sakitnya kram perut? Oh tidak Fernando! Sakitnya luar biasa dan auto inget kek gimana rasanya kram perut ketika menstruasi.

Saya pun mengonsumsi asam mefenamat tapi gak mempan. Akhirnya saya rebahan di atas kasur seharian dan gak bisa ngapa-ngapain.

Guess what? Besoknya, setelah kram itu, muncullah yang namanya haid pertama. Oh pantesan. 

Tapi anehnya, badai emosi ini justru mulai terasa sejak dua hari setelahnya, ketika perut saya gak kram tapi haid makin gacor. Tetiba saya anxiety dan kesal luar biasa dengan pasangan. Bahkan lihat mukanya aja saya males, hahaha. Aneh kan? Kenapa sasarannya dia ya? Apa jangan-jangan ada hal tersembunyi yang selalu saya keep dan gak diutarakan dan akhirnya jadi emosi ketika haid datang?


Definisi KB IUD
Definisi KB IUD


Kenapa Gak Haid Selama Penggunaan KB Suntik 3 Bulan? Terus Haidnya Kemana?


Ya gak kemana-mana, karena memang gak diproduksi.

Banyak banget opini yang bilang kalau KB hormonal terutama KB suntik tuh gak bikin kita haid dan darahnya naik ke kepala atau darahnya jadi “racun”, dan yang paling parah darahnya bikin kista karena mengendap. 

Bener gak sih? Duh ternyata itu salah total secara medis.

Jurnal-jurnal membuktikan bahwa ketika KB hormonal suntik digunakan, rahim akan mengalami masa "beristirahat" dari siklus bulanan, jadi rahim gak “kerja” melainkan istirahat total.

Tentu, ini bukan sekedar teori, melainkan prinsip dasar Fisiologi Reproduksi. Dalam dunia medis, kondisi tidak haid karena penggunaan kontrasepsi hormonal disebut dengan Amenorea Terinduksi Kontrasepsi.

Jadi gini, yang namanya haid tuh terjadi karena setiap bulan dinding rahim (endometrium) menebal untuk menyiapkan "kasur" buat calon janin. Kalau tidak ada pembuahan, "kasur" ini luruh dan jadi darah haid. Sementara itu, KB hormonal terutama KB suntik, bikin rahim kita istirahat dan gak kerja. 

Dalam banyak studi yang dipublikasikan di jurnal Contraception, dijelaskan bahwa progestogen dosis tinggi  pada suntik 3 bulan/DMPA) akan menyebabkan terjadinya Atrofi Endometrium atau jaringan dinding rahim tetap tipis dan tidak aktif. 

Lantas, apakah haid gak keluar karena pakai KB suntik 3 bulan itu jadi penyakit? Oh, tentu tidak.

Dalam panduan Family Planning: A Global Handbook for Providers, WHO menjelaskan bahwa bagi pengguna kontrasepsi hormonal, tidak adanya darah haid bukan tanda penyakit dan tidak merusak rahim. Darah tersebut tidak "tersumbat", tapi memang proses penebalan dinding rahimnya dihentikan oleh hormon tersebut.

Bahkan, situs Mayo Clinic menjelaskan secara spesifik bahwa penggunaan suntik progestin (DMPA) setelah satu tahun, sekitar 50% wanita akan mengalami amenorea (berhenti haid total), dan itu dianggap aman secara klinis.

Mengapa KB suntik 3 bulan tidak haid
Mengapa KB suntik 3 bulan tidak haid


Menstruasi Pasca Pemasangan KB IUD, Normal Gak Sih?


Jawabannya, Sangat normal. 

Gitu sih kata Ibu Dokter di puskesmas waktu saya kembali kontrol hipertensi. Katanya Bu Dokter, transisi dari KB suntik 3 bulan (DMPA) ke IUD memang seringkali memicu perubahan pola perdarahan yang cukup drastis. Kok bisa?

Terkait hal ini, Dr. Mary Jane Minkin, Clinical Professor di Yale University School of Medicine, bilang bahwa rahim memerlukan waktu untuk "reboot" pasca pemasangan KB IUD. Selama masa reboot ini, flek atau perdarahan tidak teratur sangat umum terjadi.

Selain itu, Dr. Jen Gunter, dokter spesialis kebidanan dan kandungan (OB/GYN) yang sangat vokal di media sosial dan situs kesehatan, juga bilang bahwa IUD tembaga bisa meningkatkan produksi prostaglandin di rahim.

Prostaglandin adalah senyawa yang memicu kontraksi rahim, Itulah alasan logis mengapa kram dan perdarahan menjadi lebih banyak pada pengguna IUD non-hormonal.

Intinya, menstruasi pasca pemasangan KB IUD itu normal karena tubuh sedang beradaptasi dengan "benda asing" yang ada di dalam rahim.

Menstruasi pasca pemasangan IUD
Menstruasi pasca pemasangan IUD


Yuk Mengenal Emosi Selama PMS


Sebetulnya, penting gak penting sih mengenali jenis emosi ketika PMS, tapi cukup penting kalau gangguan emosional ini sampai menghambat produktivitas, kesehatan mental dan kualitas hubungan dengan orang terdekat, suami dan anak-anak misalnya. Yah seperti yang saya alami.

Jadi, ada baiknya memang kita mengenal jenis emosional ketika PMS, yaitu :

1. PMS (Pre-Menstrual Syndrome)


PMS adalah istilah yang paling umum mencakup gejala fisik dan emosional yang muncul 1–2 minggu sebelum haid dan biasanya membaik setelah darah haid keluar. Gejalanya gampang marah (iritabilitas), cemas, perubahan nafsu makan, dan suasana hati yang cepat berubah (mood swings). 

2. PMDD (Pre-Menstrual Dysphoric Disorder)


Jika PMS yang kita alami terasa sangat ekstrim, sampai rasanya seperti depresi, sedih berlebihan dan muncul keinginan marah yang meledak-ledak hingga merusak kualitas hubungan, maka emosi ini disebut PMDD.

Transisi dari KB suntik 10 tahun ke IUD ternyata bisa membuat gejala yang tadinya "tersembunyi" muncul dengan kekuatan seperti PMDD karena tubuh kaget dengan kembalinya hormon alami.

3. PME (Pre-Menstrual Exacerbation)


PME adalah istilah yang sangat pas untuk menjelaskan kenapa trauma masa lalu muncul lagi selama menstruasi. PME terjadi ketika gangguan yang sudah ada sebelumnya (seperti trauma, depresi, atau kecemasan) menjadi jauh lebih buruk selama fase menjelang haid.

Bagi orang yang memiliki riwayat trauma (PTSD/C-PTSD) atau gangguan kecemasan (anxiety), fase menjelang dan saat haid itu ibarat "badai sempurna" di dalam otak.

Penjelasan sederhananya gini, otak penderita trauma biasanya memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap GABA (zat kimia otak yang bertugas menenangkan saraf). Nah, ketika kadar hormon progesteron turun drastis menjelang haid, kemampuan otak untuk menenangkan diri ikut anjlok. Gak hanya itu, saat estrogen turun, kadar serotonin di otak ikut merosot.

Di saat inilah memori trauma yang biasanya bisanya kita "kunci", tiba-tiba pintunya terbuka sendiri. Sayangnya, karena hormon progesteron , serotonin dan estrogen kompak nge-down, kita jadi gak punya tenaga untuk bilang sama diri sendiri kalau "semuanya oke kok!".

Bukan cuman hormon, penelitian menggunakan MRI menunjukkan bahwa pada fase PMS, Amigdala (pusat takut dan emosi) pada orang dengan riwayat trauma menjadi jauh lebih reaktif. 

Akibatnya, suara mesin motor yang keras, atau sekadar nada bicara suami yang sedikit berbeda, bisa diartikan oleh otak sebagai ancaman besar.

Kondisi ini makin parah untuk perempuan seperti saya yang sedang mengalami transisi penggunaan KB dari yang hormonal ke non-hormonal dan perubahan emosional akan dirasakan lebih drastis lagi terlebih karena saya memiliki trauma dan anxiety.

Terkesan masih “ngagugulung” masa lalu ya, tapi gak. 

Emosi ini punya Istilah, namanya Post-Birth Control Syndrome (PBCS) yang merupakan kumpulan gejala yang muncul setelah seseorang berhenti menggunakan Birth Control (Kontrasepsi).

FYI, Istilah ini dipopulerkan oleh Dr. Jolene Brighten, seorang ahli endokrinologi fungsional. PBCS menjelaskan kondisi ketika tubuh mengalami "kekacauan" saat mencoba memproduksi hormonnya sendiri setelah bertahun-tahun disuplai oleh hormon sintetis.

Inilah yang memicu anxiety atau kecemasan yang rasanya mencekam, padahal tidak ada kejadian buruk yang sedang terjadi.


Kenapa Sering Marah Ke Suami Ketika PMS?


Lucu gak sih? Aneh tapi nyata ya, seringnya ketika PMS, suami tuh jadi sasaran empuk luapan emosi kita. Ada aja tingkah lakunya yang bikin kita gemas. Padahal, hari-hari biasa kelakuan anehnya ini gak se-aneh itu sih, biasa aja.

Ada alasan psikologis dan biologis yang saling berkaitan, apalagi dalam kondisi saya yang sedang "hormonal crash" pasca 10 tahun KB suntik.

1. The Safe Haven Effect (Tempat Paling Aman)


Secara psikologis, kita cenderung meluapkan emosi kepada orang yang paling kita percaya gak akan meninggalkan kita.

Otak bawah sadar tahu bahwa hubungan kita dengan suami itu kuat. Jadi, karena kita merasa aman bersamanya, sistem saraf "mengizinkan" diri untuk lepas kendali. Tentunya kita gak akan marah-marah ke tetangga karena ada konsekuensi di julidin kan? Tapi ke suami? Kita tahu dia adalah "samsak" emosi yang akan tetap ada di sana setelah badai reda.

Poin ini bukan asumsi ya, melainkan berdasarkan konsep dasar dalam psikologi hubungan.

Menurut para ahli hubungan seperti Dr. John Gottman (pakar pernikahan dari The Gottman Institute), manusia cenderung melakukan "Displacement" (pengalihan emosi).

Kita melakukan ledakan emosi terhadap pasangan ketika PMS karena pasangan adalah attachment figure (sosok lekat) yang memberikan rasa aman paling tinggi.

Selain itu, Dalam bukunya yang fenomenal, The Female Brain, Dr. Brizendine menjelaskan bahwa Amigdala tidak meledak ke sembarang orang. Otak kita memiliki sistem navigasi sosial yang tahu siapa yang "aman" dan siapa yang "berbahaya".

Dr. Brizendine menekankan bahwa karena suami adalah orang terdekat (paling intim), maka sirkuit emosi otak kita paling banyak berinteraksi dengannya. Karena dia adalah "sosok lekat" (attachment figure), Amigdala melepaskan seluruh beban emosinya ke sana karena di sanalah kedekatan itu berada.

2. Proximity & Sensory Overload (Kedekatan Fisik)


Saat PMS, panca indera kita jadi lebih sensitif (hiperestesia). Suara kunyahan, bau badan, atau sekadar cara suami menaruh handuk bisa terasa 10x lebih menyebalkan dari biasanya. Nah, karena suami adalah orang yang paling sering berada di radar sensorik, dialah yang paling banyak memberikan "stimulasi" yang memicu kekesalan.

Sehingga, hal-hal kecil yang biasanya kita maklumi, saat progesteron anjlok, berubah menjadi ancaman terhadap kenyamanan.

3. Penurunan Kontrol Impuls di Otak


Dr. Brizendine menjelaskan bahwa saat hormon progesteron dan estrogen turun drastis (fase PMS), bagian otak yang bernama Amigdala (pusat emosi) menjadi sangat reaktif terhadap orang-orang terdekat.

Beliau menyebut bahwa pada fase ini, otak perempuan bagian Prefrontal Cortex (si pengambil keputusan bijak) melemah saat PMS dan kehilangan "filter" sosialnya, sehingga kekesalan yang biasanya dipendam kepada pasangan akan langsung "meledak" tanpa saringan.

Kalau biasanya Mom berpikir, "Duh, aku kesel tapi mending diem dulu, deh daripada perang dunia!" , saat PMS rem itu blong dan outputnya, “ Duh aku kesel, bisa gak sih “:$%^^shjgahjolqwjkx?!!” sambil marah-marah.

Berapa Lama Post-Birth Control Syndrome Akan Berlangsung?


Berapa Lama sih si emosi PMS terutama yang sedang ngalamin PBCS berlangsung? Kabar baiknya, PBCS ini bersifat sementara dengan urutan fase sebagai berikut :

  • Bulan 1-3: Masa paling berat (puncak "hormonal crash").
  • Bulan 4-6: Tubuh mulai menemukan ritme baru.
  • Bulan 9-12: Hormon biasanya sudah kembali seimbang sepenuhnya.

Bisa dibilang, dalam waktu 1-3 bulan proses amukan badai ini bakalan berlangsung. Jadi, kuat-kuatin iman ya buibuuu, hehe.


Apa yang Bisa Kita Lakukan Ketika PMS Menyerang?


Udah tahu nih kita lagi PMS dan buat yang on process nyelesain anxiety atau trauma PMS nya berubah jadi PME. Lantas kita kudu ngapain nih biar kita masih bisa produktif dan “hidup” menjalani hari-hari selama menstruasi tanpa beban perubahan mood swing yang awokwow?

1. Validasi Perasaan


YES! Udah tahu kan kalau lagi menstruasi tuh mood pasti acak-acakan? Dan kita juga sudah tahu proses apa yang lagi terjadi secara biologis dan kimiawi selama masa haid. Jadi, jangan denial dan akui bahwa feeling kita lagi gak baik-baik aja karena PMS, bukan karena kita masih hidup dimasa lalu atau baper-an.

2. Lakukan Grounding


Saat anxiety atau memori trauma muncul, gunakan teknik 5-4-3-2-1 untuk membawa otak kembali ke masa sekarang.

Teknik Grounding 5-4-3-2-1 itu ibarat tombol restart paksa untuk otak kita.

Saat kita lagi dikuasai emosi PMS atau memori trauma, otak kita sebenarnya sedang "terjebak" di masa lalu (trauma) atau di masa depan (cemas/anxiety). Kita tidak benar-benar ada di saat ini.

Nah, teknik ini memaksa saraf untuk kembali terhubung dengan realita fisik di sekitar melalui panca indera. Begini cara praktis melakukannya saat kita mulai pengen nge-reog.

Yuk cari posisi duduk atau berdiri yang nyaman, tarik nafas dalam, lalu sebutkan :

  • 5 Benda yang kita LIHAT : Lihat sekeliling dan sebutkan benda yang spesifik. Contoh, cicak di dinding, gelas kopi, bantal merah, jam dinding, dan lainnya. 
  • 4 Benda yang bisa kita RABA/SENTUH : Rasakan teksturnya di kulit. Contoh merasakan kain baju yang lembut, meraba meja yang dingin, merasakan lantai yang keras, mrraba rambut sendiri.
  • 3 Suara yang kita DENGAR : Fokuskan telinga pada suara yang ada saat ini. Contoh suara kipas angin, suara kendaraan di luar, suara detak jam dan lainnya.
  • 2 Aroma yang bisa kita CIUM : (Kalau sulit, bayangkan aroma yang kita sukai). Contoh bau minyak kayu putih, bau cucian bersih, dan lainnya. 
  • 1 Rasa yang bisa kita KECAP : Contoh sisa rasa pasta gigi di lidah atau minum seteguk air dan rasakan airnya mengalir di tenggorokan.

Teknik grounding yang satu ini cukup ampuh mengatasi badai emosi selama PMS, karena :

  • Mengalihkan Amigdala
Saat kita fokus mencari "5 benda", otak bagian depan (Prefrontal Cortex) yang tadi "pingsan" terpaksa bangun dan bekerja lagi untuk mencari data. Ini otomatis meredam Amigdala (pusat emosi) yang lagi mengamuk.
  • Memutus "Flashback" Trauma
Memori trauma biasanya berupa gambar atau perasaan yang muncul tiba-tiba. Dengan menyentuh benda nyata (lantai yang dingin atau meja yang keras), saraf mendapat sinyal: "Hei, trauma itu sudah lewat, kamu aman di sini, di ruangan ini, sekarang."
  • Menurunkan Detak Jantung
Fokus pada indera secara perlahan membantu menurunkan hormon kortisol (stres) dan menstabilkan detak jantung yang biasanya naik saat sedang marah atau cemas.


Lakukan teknik grounding sebelum keinginan meledak ke suami muncul, ketika merasa dada mulai sesak, tangan mulai gemetar, atau pikiran mulai memutar memori lama. Jangan rebahan atau nge-reog duluan, langsung hentikan segala aktivitas, menjauh sebentar, dan lakukan grounding ini.

Teknik grounding adalah cara paling cepat untuk mengambil alih kendali "setir" otak kita dari bajakan hormon PMS.

3. Kurangi Kafein


Kalau lagi bad mood apalagi lagi PMS, paling enak emang seruput kopi sambil nongkrong bengong di cafe. Tapi, “wayahna” selama PMS-mah jangan healing sambil ngopi di cafe ya.

Mengapa? Karena Kafein dalam kopi bisa memicu pelepasan adrenalin saat saraf sedang sensitif dan membuat jantung berdebar lebih kencang, tangan gemetar, dan perasaan cemas yang makin parah. Ini yang bikin kita makin mudah merasa insecure atau kepikiran trauma lama.

Selain itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat memperlebar pembuluh darah dan memicu pembengkakan jaringan payudara ketika PMS.

Bukan cuman itu, kafein juga bikin naik kadar kortisol dalam tubuh dan auto masuk mode "Fight or Flight" (Lawan atau Lari), jadi bawaannya “hayu tarung” terus bahkan untuk hal-hal sepele.

Kafein juga bikin kita susah tidur karena dia menghalangi reseptor Adenosin (zat yang bikin kita merasa ngantuk dan tenang). Udah-mah kalau lagi PMS sering susah tidur, terus minum kopi, wah udah deh double combo sih itu, hehe.

Tapi ingat, kafein gak cuman ada di kopi aja loh. Tapi ada juga di minuman berenergi dan bersoda. Jadi kalau makan di restoran cepat saji, jangan pesen minuman bersoda ya, pesen air mineral aja atau lemon, emang kurang nendang sih, tapi yaaaa daripada auto nge-reog? wkwkwk.


Kesimpulan



Aaaaah, terlihat sepela tapi PMS dan mood swing-nya gak bisa diremehkan begitu aja ya. Apalagi kalau kita auto nge-reog dan bikin huru-hara dan akhirnya hari-hari kita selama menstruasi terasa begitu "dark and gloomy".

Ternyata, perjalanan pindah dari KB suntik 3 bulan ke IUD ini bukan sekadar urusan "ganti alat kontrasepsi", tapi sebuah perjalanan reboot tubuh yang luar biasa. Setelah 10 tahun rahim "tidur lelap", wajar banget kalau sekarang dia bangun sambil "ngamuk" dan membawa serta gerbong emosi yang selama ini terparkir rapi.

Mengalami Post-Birth Control Syndrome (PBCS) atau bahkan PME yang bikin trauma masa lalu muncul lagi itu melelahkan, tapi kabar baiknya: kita tidak gila dan kita tidak sendirian. Semua itu adalah reaksi kimiawi otak yang sedang mencari keseimbangan baru.

Jadi, buat ibu-ibu atau teman-teman yang lagi di fase "reog" karena hormon, Be kind to yourself. Jangan tambah beban pikiran dengan menyalahkan diri sendiri atau terus menggali luka lama yang sebetulnya, you already fine with it. 

Setelah akhirnya menstruasi selesai, sejujurnya mood saya masih setengah "waras", tapi udah mulai oke. Badan terasa ringan dan udah gak se-emosional itu. Lihat suami udah gak kayak se-sebel-nya saya ngeliat profesor Snape, atau pengen nge-reog tiap anak lupa nyimpen piring ke wastafel atau gak buang sampah bekas ciki-cikian. Udah mulai biasa lagi tapi, mood-nya masih belum se-oke sebelumnya.

Yah, berproses yaaa sampai normal kan? Nungu 1-3 bulan ke depan. 

Jadi, kalau udah mulai gatel pengen nge-reog, saya coba  praktekkan Grounding 5-4-3-2-1 dan kurangin kopi dulu sampai badainya reda. Ga perlu ngebut buat balikin mood dan pikiran yang terkontaminasi emosi PMS buat balik normal lagi, karena rahim dan otak kita butuh waktu untuk saling kenalan lagi. 

Stay sane and stay healthy, ya!


Daftar Referensi :
  • Jurnal Ilmiah Biosaintropis: Hubungan Lama Pemakaian Kontrasepsi Terhadap Tekanan Darah Dan Kadar Kolesterol Total Pada Akseptor KB Suntik 3 Bulan (Risa Andri Prabawati DKK).
  • Mayo Clinic: Depo-Provera (contraceptive injection) - Side effects and safety profile.
  • World Health Organization (WHO): Family Planning: A Global Handbook for Providers - Guide on Progestogen-only Injectables.
  • Healthline: Post-Birth Control Syndrome: What You Need to Know After Stopping Hormonal Contraceptives.
  • The Gottman Institute: Small Things Often: Understanding Emotional Displacement in Relationships.
  • Dr. Jen Gunter (OB/GYN Official Blog): The Truth About IUDs, Prostaglandins, and Cramping.
  • WebMD: How Hormones Affect Your Brain and Mood During PMS and PMDD.
  • International Association for Premenstrual Disorders (IAPMD): Pre-Menstrual Exacerbation (PME) vs. PMDD: Understanding the Difference.
  • Psychology Today: The Safe Haven Effect: Why We Lash Out at Those We Love Most.
  • https://biosaintropis.unisma.ac.id/index.php/biosaintropis/article/view/603#:~:text=Hasil%20penelitian%20ini%20menunjukkan%20mayoritas%20ibu%20dengan,tahun%20(50%25)%20mengalami%20hipertensi%20stage%201%20dan
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar