Beberapa bulan yang lalu saya gabut karena pengen healing me time tapi males keluar, akhirnya saya rebahan sambil scroll Youtube lalu muncul-lah channel-nya Luvita Ho di beranda dan saya pun terinspirasi untuk membuat kue saat itu juga.
Tapi, setelah scroll channel-nya Mba Luvita Ho, saya malah makin galau. Mau bikin kue apa yang simple dan prosesnya cepat. Hati saya pun berlabuh pada video bolu mentega Luvita Ho yang diunggah pada 09 Maret 2022. Wow, udah lama juga ya, dan saya baru re-baking tahun ini, wkwkwk.
Melihat Luvita Ho bikin kue, bikin saya happy sih karena setiap kue yang diciptakannya, unyu-unyu dan nyaris sempurna, seperti bolu mentega miliknya. Permukaannya berwarna coklat keemasan, gak gosong di bagian bawahnya, setelah dipotong juga sempurna, teksturnya tampak lembut dengan remah yang nyaris gak ada.
Setelah melihat video itu, saya pun semangat dan berkata pada diri sendiri, "Ah ini mah cetek atuh!" Dengan serta merta saya pun bangkit dari posisi rebahan, mengenakan kerudung dan jaket lalu melipir ke toko bahan kue sebentar.
Anak-anak pun penasaran dengan kesibukan saya yang tetiba pergi ke toko kue dan kembali membawa dua kresek penuh bahan - bahan kue, si bungsu tanya,”Mamah mau bikin apa sih?” tanyanya, “Bolu mentega, mau kan?” jawab saya singkat, “Waaah asyik! Makasih mamah" jawabnya antusias. Saya semakin bersemangat sembari membayangkan hasil bolu mentega se-paripurna milik Luvita Ho, aaaah mereka pasti senang.
Oke, resep kue bolu mentega Luvita Ho saya ikuti dengan jumlah takaran dan instruksi yang sama persis, kecuali saya gak pakai meses sesuai request anak-anak. Setelah hampir satu jam memanggang, sesekali saya mengintip melalui kaca oven dengan perasaan tidak sabar. Aroma mentega pun perlahan menyeruak memenuhi hampir seluruh ruangan.
Ketika oven tangkring akhirnya berbunyi tring! Eh salah, maksudnya timer, hahahaha, saya pun semangat mengeluarkan bolu mentega dan menyajikannya untuk keluarga. Waah waah, dag dig dug, hehe.
Perlahan saya angkat loyang menggunakan sarung tangan dan memindahkanbolu mentega ke atas piring untuk disajikan. Saya gak ngeh apapun saat itu, hanya perasaan senang bahwa bolu menteganya jadi.
Setelah disajikan, saya baru sadar kalau kue bolu menteganya agak bantat sedikit aja, Sungguh bikin patah hati sih karena gak se-paripurna buatan Luvita Ho yang pori-porinya terlihat manis, ditekan chuewy dan warna bagian dalamnya kuning keemasan. Sungguh bikin patah hati.
Kue bolu mentega buatan saya sebetulnya matang sempurna dan rasanya enak. Bagian bawahnya agak-agak semi-basah gitu sesuai yang diharapkan. Aromanya juga tetap harum, bahkan komentar pertama justru datang dari si cikal yang minta sepotong lagi hingga akhirnya habis bahkan sebelum waktu sore tiba. At least, hal itu mengobati kesedihan saya hari itu.
Hari - hari berlalu dan saya sudah lupa soal si bolu mentega yang retaknya terlalu lebar itu. Saya gak kapok tentu saja, dan berniat bikin kue lagi. Kali ini saya membuat brownies dan masih menggunakan resep brownies sederhana Luvita Ho.
Sayangnya, lagi-lagi saya kecewa dengan bentuknya yang tetep ya agak bantat, pendek dan gak cantik. Huh! Saya kenapa sih? Punya bakat bikin kue gak sih? Ih kok susah bikin kue gak bantat ya? Males bikin lagi ah, mending beli gak usah capek-capek bikin tapi hasilnya ngecewain!
Dan ya, brownies itu adalah kue terakhir yang saya buat hingga saat ini.
![]() |
| Rebake brownies dan bolu mentega resep luvita ho |
Belakangan saya sering memikirkan momen bikin kue bolu dan brownies yang saya nilai gagal hanya karena sedikit bantat dibanding bikinan Luvita Ho.
Saya berpikir, kenapa ya saya begitu sulit menikmati sesuatu yang sebenarnya sudah berhasil? Mengapa mata saya lebih cepat menemukan retakan yang terlalu lebar daripada menangkap momen romantis dimana anak-anak minta tambah dan dibikinin lagi?
Akhirnya saya sadar, kue buatan saya itu hanya simbol dari sesuatu yang lebih besar, yaitu proses penerimaan diri. Ya, siapa sangka dari bolu mentega kita bisa jadi filsuf dadakan dan belajar soal kehidupan. Lucu sih, tapi memang begitu adanya. Hal-hal sederhana seringkali memberikan pelajaran yang gak pernah kita sangka sebelumnya.
Bolu Mentega Luvita Ho dan Standar Hidup yang Kita Ciptakan
Dari bolu mentega ke penerimaan diri, ehhmm, menarik bukan? Sebetulnya, bolu mentega tuh cuman simbol dan contoh kecil dari hal-hal lain yang sering kita anggap kegagalan padahal sebetulnya gak.
Seperti menilai diri gagal dan memiliki hari yang berantakan hanya karena gak nyampe lima menit setelah beresin rumah, kembali berantakan karena si bungsu bikin mobil-mobilan dari kardus. Atau, baru kemarin nih kejadian, saya bikin kado ilustrasi buat dua sahabat saya tapi ternyata hasil printnya memiliki warna yang jauh dari ilustrasi aslinya di aplikasi gambar.
Saya kecewa, tapi, kedua sahabat saya gak menilai itu sebuah kegagalan. Mereka happy-happy aja bahkan terharu dan nangis baca puisi yang saya bikin buat mereka dilengkapi ilustrasi wajah mereka disertai bros. Yang saya anggap gagal, belum tentu dianggap gagal oleh orang lain.
Seperti ketika saya membuat bolu mentega dan kecewa dengan hasilnya yang gak separipurna dan legit milik Luvita Ho, itu karena saya mengejar kesempurnaan hasil dan membandingkannya dengan bolu mentega luvita ho di channel Youtubenya.
Ternyata apa yang saya rasakan valid dan diakui oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1954 yang menjelaskan bahwa manusia secara alami mengevaluasi kemampuan dan pencapaiannya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Pada situasi tertentu, perbandingan tersebut dapat menjadi sumber motivasi. Namun ketika kita terus membandingkan kehidupan sehari-hari dengan versi terbaik yang ditampilkan orang lain, perbandingan itu justru lebih sering melahirkan rasa tidak puas daripada semangat untuk berkembang (Festinger, 1954; Cherry, 2023).
Bukan fenomena anomali ya, saya rasa hampir semua dari kita pernah mengalami hal yang sama, meski bentuknya berbeda.
Ada yang melihat rumah orang lain di media sosial lalu merasa rumahnya sendiri kok berantakan? Atau ngeliat bekal anak yang disusun estetis di sosmed lalu kita mulai mempertanyakan kemampuan sebagai ibu, padahal gak ada korelasinya antara bekal makan anak yang estetis dengan kemampuan kita sebagai ibu.
Sama seperti saya yang berharap bolu mentega bikinan saya sebagus milik Luvita Ho, kita sering kali mengagumi sesuatu sampai lupa bahwa yang sedang kita lihat hanyalah hasil akhirnya.
Kita gak pernah tahu, berapa kali Luvita Ho menguji resepnya sebelumnya akhirnya direkam, berapa banyak percobaan yang gagal, atau berapa lama pengalaman yang dibutuhkan hingga dia mampu menghasilkan bolu mentega yang kalau kata Andra and The Backbone mah, ”Sempurna”.
Seringkali yang kita lihat adalah versi terbaiknya, sementara proses panjang yang mengantarkan ke sana nyaris gak kita sadari.
Sama seperti menjalani peran ibu, kadang yang kita lihat adalah bekal makan yang estetis, rumah minimalis dan bersih dan rapi serta tampilan modis ibu tetangga yang selalu charming padahal cuman bikin nasi goreng. Padahal, siapa yang tahu kalau sang ibu tetangga sering ngerasa overwhelming dengan pekerjaan yang belum selesai dan rasa lelah yang gak sempat diceritakan kepada siapapun.
Tapi ketika melihat orang lain, kita hanya melihat hasil akhirnya. Perbandingan yang timpang seperti ini sering kali terjadi tanpa kita sadari, sampai akhirnya muncul perasaan bahwa hidup kita jauh ketinggalan dari orang lain. Orang udha kemana, kita masih disini aja!
Saya lupa bahwa resep memang bisa diikuti, tetapi perjalanan Luvita Ho untuk bisa menjadi Chef Pastry yang tersohor dan menghasilkan kie-kue yang estetis tidaklah mudah.
Gak hanya itu, titik awal dan sumber daya-nya juga beda. Saya memiliki oven yang berbeda dengan Luvita Ho, merk bahan yang berbeda, bahkan suasana hati yang berbeda ketika mengaduk adonan. Lantas kenapa saya berharap hasilnya harus identik? Kalau anak saya bilang sih, “Mikir kids!” Hahahaha. Ya, itu benar.
Masalahnya Bukan pada Bolu Mentega, Tapi Penerimaan Diri
Beberapa hari yang lalu, saya memutuskan untuk kembali membuat bolu mentega dengan resep yang sama. Kali ini saya tidak membuka video Luvita Ho tapi saya hanya ingin menikmati prosesnya dan saya kangen aroma bolu mentega yang memenuhi seluruh ruangan.
Saya mulai memahami bahwa tujuan saya berada di dapur bukan untuk membuat replika bolu mentega Luvita Ho, melainkan menghadirkan sesuatu yang istimewa dan hangat untuk orang-orang yang saya cintai.
Menariknya, ketika saya mulai menurunkan harapan, pengalaman baking justru terasa jauh lebih menyenangkan. Saya tidak lagi panik ketika permukaan kuenya retak sedikit lebih lebar atau warnanya lebih gelap beberapa tingkat.
![]() |
| Belajar soal kehidupan dari kue bolu mentega Luvita Ho |
Saya mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatian, seperti aroma mentega yang memenuhi rumah, suara anak yang bertanya kapan kuenya boleh dipotong, atau senyum pasangan yang langsung mengambil sepotong begitu bolu mentega selesai didinginkan. Hal-hal sederhana itu ternyata jauh lebih membekas daripada bentuk kue yang sempurna.
Dari dapur kecil dan sederhana ini, saya belajar bahwa kita sering kali terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diminta oleh orang-orang terdekat. Beneran deh!
Anak saya gak pernah bilang kalau bolu mentega itu harus seperti milik Luvita Ho dan. keluarga saya juga tidak pernah menilai kasih sayang dari seberapa simetris bentuk kue yang saya buat. Standar itu sepenuhnya saya ciptakan sendiri, lalu tanpa sadar saya gunakan untuk menghakimi usaha yang sebenarnya sudah cukup baik.
Bukankah hal yang sama juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Merasa rumah harus selalu rapi, padahal pasangan hanya membutuhkan tempat yang nyaman untuk pulang atau merasa harus selalu produktif, padahal tubuh sesekali juga butuh istirahat.
Parahnya, kita sering merasa harus menjadi ibu yang mampu melakukan semuanya dengan sempurna, padahal anak-anak hanya membutuhkan kehadiran daripada kesempurnaan. Sering kali, beban terberat bukan berasal dari keadaan, melainkan dari standar yang diam-diam kita bangun sendiri.
Tapi, Menerima Ketidaksempurnaan Bukan Berarti Berhenti Bertumbuh
Ada anggapan bahwa menerima ketidaksempurnaan sama dengan berhenti memperbaiki diri. Saya justru melihatnya sebaliknya.
Ketika kita berhenti memaksakan standar yang tidak realistis, kita memiliki ruang untuk belajar dengan lebih tenang. Kita tetap mencoba membuat bolu mentega yang lebih baik pada percobaan berikutnya, tetapi tidak lagi menganggap percobaan pertama sebagai sebuah kegagalan.
Kita tetap belajar menjadi ibu yang lebih sabar, pasangan yang lebih hadir, atau pribadi yang lebih bijaksana, tetapi tanpa terus-menerus menghukum diri ketika ada hal yang belum berjalan sesuai harapan.
Bagi saya, inilah bentuk self-care yang paling sederhana sekaligus paling sulit dilakukan. Bukan tentang membeli sesuatu yang baru atau meluangkan waktu untuk sesekali memanjakan diri, melainkan memberi izin kepada diri sendiri untuk menjadi manusia.
Manusia yang bisa lelah, bisa keliru, bisa belajar, dan sesekali menghasilkan bolu mentega yang bentuknya bulat tapi agak menyon. Anehnya, ketika saya berhenti memusuhi ketidaksempurnaan, hidup justru terasa lebih ringan.
Penutup
Kalau hari ini seseorang bertanya seperti apa bentuk kehidupan yang saya inginkan, mungkin jawabannya sudah berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
Memang benar adanya bahwa hidup tak secantik dan moist bolu mentega Luvita Ho dan saya belajar untuk menerima bahwa kadang, hidup berjalan gak sesuai rencana dan akan selalu ada rencana yang berubah, pekerjaan yang tertunda, kue yang hasilnya bantat, atau hari-hari ketika kita merasa tidak berhasil menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Sejujurnya, hingga saat ini saya masih "mengejar" kesempurnaan terutama dalam menjaga rumah tetap rapi dan bersih karena saya mengidap OCPD dan itu gak masalah buat saya, karena saya tidak merasa terganggu dengan dorongan untuk merasa sempurna, melainkan merasa puas karena standar kesempurnaan dan keteraturan telah tercapai.
Di satu sisi, saya memegang kendali penuh atas standar kesempurnaan rumah karena kondisi Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD) yang saya miliki. Tapi, di sisi lain, saya belajar melepaskan kendali dan menerima ketidaksempurnaan dalam dinamika kehidupan yang lebih luas seperti halnya ketidaksempurnaan kue bolu mentega. Meski saya hidup dengan OCPD, saya masih mampu memisahkan mana area hidup yang "bisa dikontrol" (seperti kerapian fisik rumah) dan mana area yang "harus diikhlaskan" (seperti jalannya takdir dan hasil panggangan kue).
Sulit? Ya terkadang apalagi jika standar OCPD saya lagi di level atas, tapi saya auto mengingatkan diri sendiri bahwa," Gak apa-apa kok kalau pagi ini gak beres-beres, kamu butuh istirahat. Lanjut nanti sore aja" atau saya validasi rasa lelah dan membiarkan rumah agak berantakan hingga sore hari.
Untuk semua hal yang saya usahakan tetap "sempurna" dan saya relakan untuk apa adanya, saya bersyukur bahwa saya memiliki hidup yang "sempurna" dengan anak-anak yang aktif dan pasangan yang selalu membantu dan mendukung.
Saya jadi teringat sebuah quote yang mengatakan bahwa,”Jangan pernah mencari 5% dari 95% yang sudah ada, atau kamu akan kehilangan 95% hanya demi 5% itu. Basic hidup yang paling indah adalah, bersyukur”, dan itu benar.
The funny thing's, Luvito Ho yang selalu bikin kue dengan tampilan dan hasil sempurna, bilang:
"Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kalo somplak dikit yauda sih"
Bagaimana dengan Mom sendiri? Adakah kisah "romantis" kehidupan dari hal-hal sederhana seperti ketika membuat kue bolu seperti saya? Yuk share pengalaman Mom di kolom komentar yaaa.
FAQ
Mengapa kita mudah membandingkan hidup dengan orang lain?
Menurut Social Comparison Theory yang diperkenalkan Leon Festinger, manusia secara alami mengevaluasi dirinya dengan membandingkan kemampuan atau pencapaiannya dengan orang lain. Kebiasaan ini dapat memotivasi, tetapi juga bisa memicu rasa tidak puas jika dilakukan tanpa melihat konteks yang berbeda.
Apa yang dimaksud dengan mental load pada ibu?
Mental load adalah beban kognitif yang muncul dari tanggung jawab mengingat, merencanakan, dan mengatur berbagai kebutuhan keluarga. Beban ini sering kali tidak terlihat, tetapi menguras energi karena berlangsung terus-menerus dalam keseharian.
Apakah media sosial harus dihindari agar tidak mudah membandingkan diri?
Tidak. Media sosial tetap dapat menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan. Yang perlu dijaga adalah kesadaran bahwa sebagian besar konten menampilkan momen terbaik seseorang, bukan keseluruhan kehidupannya.
Apa makna Bolu Mentega Luvita Ho dalam artikel ini?
Bolu mentega Luvita Ho digunakan sebagai metafora tentang kesempurnaan yang sering kita lihat di layar. Melalui pengalaman membuat bolu mentega sendiri, artikel ini mengajak pembaca menyadari bahwa kehidupan nyata tidak harus sama persis dengan gambaran ideal yang sering muncul di media sosial.
Referensi
- https://www.instagram.com/reels/DMJwaEBBphm/
- Cherry, Kendra. "What Is Social Comparison Theory?" Verywell Mind, 27 November 2023, https://www.verywellmind.com/what-is-social-comparison-theory-2795872.
- Daminger, Allison. "The Cognitive Dimension of Household Labor." American Sociological Review, Vol. 84, No. 4, Agustus 2019, https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0003122419859007.
- Festinger, Leon. "A Theory of Social Comparison Processes." Human Relations, Vol. 7, No. 2, Mei 1954, https://doi.org/10.1177/001872675400700202.
- Robinson, Lawrence, dan Melinda Smith. "Social Media and Mental Health." HelpGuide.org, 2024, https://www.helpguide.org/articles/mental-health/social-media-and-mental-health.htm.





Posting Komentar