mamajokaa food blogger bandung

Pertegas Emosi dan Perasaan, Jangan Di Biaskan



Tiga hari ini cuaca gak jelas dan gak bisa ditebak, mirip perasaan kamu ke aku....ahiiw. Tapi emang beneran sih, setelah berminggu - minggu hujan badai juga angin dan hujan es di beberapa wilayah dan sekarang cuaca panas.
Bayangin aja, dari subuh sampai jam 10 pagi cuaca bbbrrrrrrr, dingin banget terus angin bertiup kencang. Sampai gak lepas jaket bahkan kerudungan di dalam rumah. Ehhh gak lama kemudian matahari nongol dan langsung terik. Tanpa banyak cingcong, langsung ku tarik semangat dan selimut di kamar ....langsung ku cuci, mumpung terik.

Tetapi betapa bete nya, jam 2 siang cuaca kembali sendu, awan mendung berkumpul dan berghibah ria sambil ditemenin angin ngegelebuk bikin jemuran terbang-terbang. Kami pun kembali ber-jaket ria. Stay dirumah sambil saling kerokan karena masuk angin, lalu makan siang dan ngelanjutin serial drakor Through The Darknest. Drakor yang mana pak suami lebih ngebet namatin nonton ini daripada akuuhh!! wkwkwk.

Lalu hari ini udara terasa bayeungyang, lembab tapi dingin. Tiba-tiba ceudeum ( mendung ) tiba-tiba panas terik. Angin ngahiliwir terasa menusuk sampai ke tulang. Tapi selain angin yang menusuk, ada yang lebih menusuk dari itu. Perkataan pak suami sore tadi.

Cuaca Galau Bikin Bad Mood, emosi Dan Mudah Naik Pitam


Naik gajah sih enak ya, emoy emoy gimana gitu. Naik pitam? bisa rusak segala rencana dan urusan. Apalagi naik pitam karena gerah gak jelas akibat cuaca galau beberapa hari ini. Somehow ngerasa gak sih kalau perubahan cuaca ekstreem ini ngaruh banget ke mood? jadi rungsing, rudet dan gak ngerti maunya apa.

Sebelum fase sekarang, hampir seluruh warga Indonesia terkena penyakit dengan gejala yang sama. Sakit tenggorokan, batuk, pilek, meriang dan pegel linu. Sekilas gejalanya mirip omicron, memang bisa jadi positif kalau melakukan SWAB. Tapi ada juga yang bukan karena itu, tapi terkena sakit Pak Raden. Penyakit yang kerap muncul di masa pancaroba.

Setelah kenyang di hajar oleh penyakit fisik, sekarang mental yang kena karena perubahan cuaca. Badmood dan rarungsing serta rudet dan sebangsanya. Belum ditambah penjualan yang merosot tajam, harga minyak yang tingginya gak masuk akal tapi langka dipasaran, wacana pemunduran pemilu sampai perang Rusia - Ukraina. Sampai aku mikir, dunia lagi kenapa sih Ya Allah?

Anyway bicara soal badmood karena cuaca, hal ini mempengaruhi banget statement emosi loh. Maksudnya? aku jabarin dengan cerita ya.

Seperti yang aku bilang, hari ini cuaca lembab, panas tapi dingin. Bikin bad mood dan mudah naik pitam. Baik saya dan pak suami sama-sama mengeluh tentang cuaca hari ini dan setuju betapa ngaruh ke mood. Jadi males ngapa-ngapain tapi tetep harus ke pasar dan hunting barang. Setelah mengangkat semangat yang terasa berat di angkat, memberanikan mandi air dingin yang sedingin es terus cukuran jengkot, pak suami bersiap berangkat hunting barang.

Setelah di pasar, ternyata selain hpp jadi mahal, barangnya pun langka. Pusing baby bala-bala kan? minuman dingin pun di teguk dan entah abis berapa untuk melepas dahaga. Setelah mendapat beberapa barang yang kategorinya...yaahh lumayan lah, pak suami pulang. Di sambut dengan wajah ceria anak-anak dan istri yang lagi rebahan sambil drakoran justice juvinelle ( ini beneran rame, hihihi ).

Mood masih oke, meski mulai rudet karena gerah. Tiba-tiba si bungsu berulah, bukan hanya rebutan mainan dengan kakak tapi juga minta ini dan itu sambil merengek. Kami yang kegerahan dan bad mood karena cuaca, makin bad mood lah dan rungsing. Tiba-tiba pak suami mulai naik pitam dan mengatakan sesuatu yang lebih bikin bete dari perubahan cuaca galau ini,

" Dirumah lebih cape dari di luar nyari barang!! "

Shock dan kesal dong aku. Maksudnya? ingin ku balas dengan nyolot dan mata terbelalak saking keselnya. Kalau emang situ gak betah dirumah dan lebih cape, sono pergi aja! gak usah balik lagi!

Cukup! marah dan bentak-bentaknya dalam hati aja! i know what he's feeling sebenarnya. Tapi tetep aja, pertegas emosi dan perasaan itu harus, jangan jadi bias. Emosi karena cuaca jangan di sangkut pautkan dengan anak rewel. Biasanya juga kalo anak - anak bertingkah, pak suami bisa tetap tenang melayani kerewelan mereka.

Selain karena cuaca, susahnya nyari barang juga jadi alasan pak suami berkata begitu. Kebetulan aja medianya jadi tersalurkan ketika anak bertingkah. Tapi ini gak bener, emosi itu harus tegas dan jangan bias.

Marah karena cuaca ya cukup ngomel, 
" duh cuaca ampun deh, gerah pisan!!! pengen mandi! " terus ngapain gitu biar feel better,

Marah karena barang susah dan mahal, cukup ngedumel, 
" Ya Allah sampai kapan pasar kaya gini terus ya? susah bener cari barang" terus biarkan badan istirahat 30 menit aja terus kerja lagi,

Marah karena anak-anak bertingkah, cukup tarik nafas dan tenang! baru tanggapi rewel mereka. Biasa juga gitu.

Jadi, kata-kata menyakitkan seperti itu gak bakalan meluncur mulus dari mulut dan membuat hati terluka, hatiku. hiks! sedalam itukah terlukanya hatiku? gak sih. B aja lagi, wkwkwkwk. Kesel saharitaeun, ketika waktu itu aja. 

Karena akhirnya aku balik "nyerang" dengan berkata,

" Gak usah ngomong kaya gitu ah " sambil melancarkan serangan perang dingin, manyun di wajah dan beres-beres rumah biar keselnya tersalurkan. Dalam hati aku tahu, Pak suami juga menyadari kok, bad mood dia bukan karena merasa lebih cape dirumah. Tapi pas dirumah semua lelah emang jadi lebih terasa. Namanya juga rumah, tempat istirahat, keluh kesah dan semuanya.

Jadi, apa yang diutarakan pak suami bukan apa yang dia maksud seutuhnya. karena aku juga sering begitu. Ini jadi cermin sih buatku, untuk gak lagi membiaskan emosi dan tegas. Terlebih ketika membesamai anak-anak. Dimana kalau aku lagi stress atau down apalagi super exhausted jadi lebih gampang naik pitam dan berkata yang tida seharusnya. Yah, namanya juga pernikahan. Ya Gitu Deh! uwow!

Aku dan pak suami fine-fine aja, romantis like always dan komunikasi baik. Salah satu komunikasi baik kami ya begini. Justru kalau berantem jadi lebih seru sih, gak bosen. Beneran, kadang bosen juga sih baik-baik terus sama pak suami, gak ada sparklingnya gitu! wkwkwk

Gak melulu chat konyol dan romantis yang bikin ilfil di whatsapp, atau cuddling all the time, nonton drakor bareng, jalan-jalan sore, masak bareng sampai nyuci laundry bareng? oh itu mah gak! pak suami mending milih masak dibanding nyuci! syeeeddiihh, hahahaha

Tapi yang jelas sih, kami jadi sama-sama tahu harus pertegas emosi dan perasaan, jangan dibiaskan. Marah karena A ya karena A , jangan di baurkan dengan karena B.

Bijak dalam mengelola emosi itu ternyata penting banget. Selain bijak, juga sabar dan gak nyerah sama emosi. Bukan hanya kepada pasangan, tapi juga anak-anak. Karena salah bicara karena emosi yang bias bisa jadi luka menahun dalam alam bawah sadar anak-anak. Seperti,

" Mamah tuh lagi capek! bisa gak sih kalian diam sebentar aja? kenapa sih kalian kaya kutu loncat gak bisa diem! nakal banget deh!"

Naahhh, sensor dong kata-kata NAKAL! kalau terus begini ntar terpatri lah tuh dalam alam bawah sadar kalao aku nih anak nakal. bahaya kan? bisa jadi cikal bakal inner child yang gak terselesaikan! huhuhu.

Baik aku dan Pak Suami emang harus mulai hati-hati dalam berucap ketika sedang emosi. Pertegas emosi dan jangan dibiaskan.

Kalau emang lelah, yaahh wayahna tarik nafas yang dalam sebelum merespon rewel anak. Terus bilang," Mamah lagi cape kak, boleh gak ke minimarketnya satu jam lagi? "

Meski ini sulit, harus ingat inner child anak euy! harus!!! Jadi gak akan keluar perkataan yang gak seharusnya dikeluarin pas lagi emosi.

Anyway, setiap percikan dalam pernikahan kami sebetulnya jadi media buat pribadi kami juga. Setelah bertengkar atau misscomunication kaya tadi sore, malamnya kami ngobrol. Apa yang dirasain dan harusnya gimana. Semacam evaluasi? iya mungkin atau bisa dibilang baikan lagi, persis marahan anak kecil wkwkwk. Tapi aku suka sih, karena cuddling abis bertengkar itu bikin hubungan dan komunikasi makin rapet dan hot! uwooowww, haha. Iya gak mom? wkwkwk

Berlaku Juga Untuk Lingkaran Pertemanan

Karena aku udah berkeluarga, maka lingkaran pertemananku adalah Pak Suami. Tapi kamu yang masih jomblowan dan jomblowati, mempertagas emosi juga sama pentingnya. Bete sama pacar atau temen yang A ya jangan nyolot ke temen B atau selingkhan C, eh, hihihihi. Bete karena lisptick abis terus stoknya di minimarket abis ya jangan jadi uting-uringan geje di depan temen-temen kamu. Gak penting kan?

Kasus yang paling sering terjadi sih ketika berantem sama pasangan atau temen yang lain terus yang kena semprotan temen yang lain lagi. Terus polanya berulang, akibatnya bisa fatal loh meski udah saling maafan. Tapi lama-lama si temen yang kena semprot males dan ilfil.. Bisa jadi end game lingkaran pertemanan.

Dalam skala besar dan formal, di dunia kerja apalagi. Pertegas emosi dan gak bawa-bawa emosi pas lagi kerja itu penting banget. Gak fokus kerja karena emosi dan akibatnya bikin kesalahan, bisa kena SP loh. And i've been there. Kuncinya emang bijak megelola emosi dan stress sih. Cuman itu aja.

Caranya biar bisa jadi bijak mengelola emosi dan stress? yah ini masih PR kami juga sih, mari kita belajar dan berlatih sama - sama dalam mengelola emosi. Yuk.


Bandung, 06 maret 2022
11.03 wib
dibeksonan suara meong minta mamam si kiki 😁

Posting Komentar