Post Page Advertisement [Top]





Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan berita yang tak sedap di baca dari harian online IDNTIMES bertajuk, " Dipaksa setubuhi kucing oleh temannya, seorang anak di Tasikmalaya wafat".

Tak ayal sayapun membaca caption keterangan berita tersebut dan mendapat informasi singkat mengenai peristiwa naas tersebut. Bullying menjadi penyebab tewas nya sang anak dan menurut Manajer program LPA, Diana Wati menyatakan bahwa dengan masih terjadinya kasus bullying menandakan bahwa masih adanya pola asuh orang tua yang salah.

Saya pun auto merenung dan evaluasi diri sebagai ibunya anak - anak, sudah tepatkah pola asuh yang selama ini saya terapkan kepada kedua anak saya? Hasil renungan sayapun saya lampiaskan lewat status WhatsApp.
“ Anak - anak itu seperti spoon dan kaca yang menyerap dan memantulkan pola pikir dan attitude orangtuanya. Teach them not only by words but also with attitude. Show them love, respect, empathy, and sympathy. The hardest part is how to control our moods and emotion. That’s why parenting is not easy, its livelong learning”.

Terkesan bijak dan saya sudah menjadi orang tua yang sempurna ya? tapi sebetulnya tidak. Saya bukanlah orang tua sempurna se-sempurna postingan status WA atau caption feed hingga tulisan saya di blog.

Nyatanya pola asuh orangtua yang saya terapkan pada anak-anak memiliki kecacatan yang berimbas terhadap perkembangan piskologis dan tingkah laku anak saya. Meski setelah saya menyadari kesalahan tersebut lantas memeluk anak saya dan meminta maaf, saya tahu kalau luka batin anak saya akibat sikap saya tak akan hilang. Luka yang kadung saya torehkan menjadi bagian kenangan masa kecilnya yang buruk yang suatu saat bisa manjadi luka batin pengasuhan atau inner child dia kelak.

Saya bukanlah orang tua yang sempurna tapi itu bukan alasan untuk memvallidasi pola asuh saya yang buruk. Rasa sesal yang diikuti isak tangis tak henti pun terasa tak berguna.

Saya Bukanlah Orang Tua Yang Sempurna


Bukan hanya berita di atas yang mengejutkan saya, tapi juga pernyataan anak pertama saya kemarin malam saat pillow talk sebelum tidur yang menyatakan bahwa “ mamah galak, lebih galak dan serem dari ibu guru. mamah mirip penyiksa anak kecil, nan ngerasa jadi anak pungut”

Astagfirullah!!

Sontak saya kaget, terhuyung jatuh dan saya merasa ambyar. Hancur sudah semua pola asuh yang selama saya terapkan dan saya merasa gagal total sebagai seorang ibu.

Bagaimana bisa anak saya hingga merasa seperti anak pungut dan ibunya adalah penyiksa anak? se buruk itu kah bayangan saya sebagai seorang ibu dalam benaknya? kerja keras saya sebagai seorang ibu dari pagi buta hingga malam begadang terasa tak ada artinya, rasa lelah karena terus mengerjakan tugas domestik tiada henti yang berulang setiap hari terasa tiada guna, semua sia-sia jika pada akhirnya anak saya merasa seburuk itu sebagai anak saya.

Awalnya saya denial dan merasa sudah sempurna menjadi orang tua, tapi nyatanya tidak. Saya sering meyakinkan diri sudah menjadi ibu yang baik dan “benar” dengan bersikap lemah lembut, open minded, memberikan fasilitas ini dan itu untuk kedua anak saya serta tidak pernah melarang sedikitpun apapun yang anak saya ingin lakukan.

Semua perjuangan, kerja keras dan keyakinan kesempurnaan itu sirna bagai deburan ombak yang menyapu pesisir pantai hanya karena satu kesalahan yang saya lakukan yaitu emosi tidak terkendali hanya karena anak-anak saya bertengkar!

“Yah namanya juga anak - anak, sering bertengkar itu wajar” begitulah ucap ibu mertua saya. Memang itu hal yang wajar dan setiap orang tua dengan anak lebih dari satu pasti mengalami fase ini. Akan tetapi saya sendiri yang mengalami hal ini selama hampir 3 tahun dengan frekuensi menghadapi pertengkaran adik- kakak setiap hari non-stop dari bangun tidur sampai kembali tidur, lama - lama saya jengah dan lelah juga!

Hingga akhirnya emosi saya mencapai puncaknya dan dengan penuh amarah saya membentak, mencubit keras dan mengunci mereka di kamar mandi sama persis dengan apa yang pernah saya alami ketika saya masih kecil oleh ibu saya!

Saat itu lah anak saya merasa saya ibu yang kejam, penyiksa anak kecil dan membuat dia merasa seperti anak pungut!

Masya allah, saya pernah merasakan apa yang anak saya rasakan ketika ibu saya marah dan mengunci saya dalam kamar mandi. Memori itu melekat kuat dalam ingatan saya hingga sekarang. Semua sikap baik ibu saya pun sirna hanya karena perbuatan buruknya yang satu itu. Saya jadi merasa takut, sangat takut.

Pikiran saya kalut dan takut jika kedepannya meski saya lebih bisa mengendalikan emosi dan menggambar kenangan indah masa kecil anak saya memori buruk terhadap kejadian itu tidak akan terhapus. Karena nyatanya sekarang saja anak saya masih merasa buruk dan merasa jadi anak pungut hingga tadi malam. Padahal kejadiannya sudah lama sekali, berbulan yang lalu dan sejak itu saya tak pernah melakukan hal yang sama. Saya berusaha bersikap lebih lemah lembut dan menahan amarah meski sudah burn out.

Bahkan saya menjelaskan sikap saya kenapa marah, membentak dan mengunci mereka di kamar mandi. Tapi rupanya, pertengkaran mereka pun bukan keinginan mereka, ada yang salah disana. Anak pertama saya selalu merasa saya lebih sayang adiknya dan menuntut mengalah pada adiknya. Di sanalah letak kesalahan saya. Akhirnya inilah yang menyebabkan perangai kakak yang lebih keras, sulit diajak kerjasama dan enggan mengalah.

Meski saya jelaskan kalau adik belum paham dan masih bergantung pada saya, tetapi daya pikir anak pertama saya yang masih 7 tahun belum berada pada tahap bisa memahami. Saya lupa bagian itu dan menuntut anak pertama saya melebihi kapasitas berfikir dan pemahamannya.

Saya pun menyesal hingga ubun - ubun, Kenapa sih saya harus melakukan hal yang sama dengan ibu saya? kenapa? kenapa? Ya Allah!! what am I supposed to do right now??

Sejujurnya saya masih belum menemukan jawabannya, saya masih merasa ambyar dan hilang arah sebagai seorang ibu. Saya tidak menemukan tombol erase, start and beginning. Diskusi dengan suami hanya membuat saya merasa lebih buruk meski dia memaafkan saya dan memaklumi perlakuan saya terhadap anak-anak meski kecewa. Dia terus berkata,

“ Besok jangan kaya gitu lagi., coba lebih bisa kendalikan emosi ya. So far what you did its good as a mother, tapi besok harus lebih baik lagi ya” well dad, It doesn't make me feel better, at all.

Inhale, exhale. Let’s start.

Yuk Eka, Kita Merenung dan Evaluasi


Saya tak bisa selamanya menyalahkan inner child sebagai biang kerok perilaku buruk saya. Oke fine, it is what it is. Ya emang si inner child ini penyebabnya karena secara gak sadar, alam bawah sadar saya menyuruh “kunci anak-anak dalam kamar mandi biar mereka kapok!” tapi saya lupa bagian, ini gak ngaruh marisol! kamu aja waktu dulu di kunci di kamar mandi sama ibu kamu yang ada trauma dan kapok kan? fatalnya, kamu gak tau salah kamu apa dan kamu gak merasa bersalah tapi di hukum! right?

Dan kakak merasakan apa yang kamu rasakan, sekarang! so, jangan salahkan inner child dan jangan validasi tindakan kamu hanya karena inner child!! harusnya kamu lebih bisa kendalikan diri dan menahan diri. Ingat terus rasa trauma itu dan ketika kamu marah ingat rasanya!!!

Ya Allah, maafkan hamba.

Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah (bersabar) niscaya Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu (QS At Taghaabun 11)

Saya menemukan ayat ini ketika berusaha menggali apa yang harus saya lakukan ketika menyadari saya sudah melakukan tindakan yang teramat bodoh dan fatal akibatnya. Meski demi mendapat pemahaman ini anak saya menjadi korban psikologis tindakan saya dan saya menyesal hingga ubun - ubun, ini harga yang harus saya bayar.

Pernyataan kakak menjadi tamparan besar bagi saya seakan mengingatkan, “ jangan sok merasa jadi orang tua sempurna, nyatanya kamu gak sesempurna itu eka! perbaiki sekarang sebelum semuanya terlambat!! “

Terlambat? ya sudah setengah terlambat setidaknya jangan sepenuhnya terlambat. Semua harus berhenti disini, sekarang juga!!.

Semua luka yang saya pernah saya alami jangan sampai kembali dirasakan kakak. Cukup sampai disini dan sekarang adalah saatnya saya kembali berjuang mengendalikan emosi dan mood. Ini pekerjaan rumah terbesar saya selanjutnya.

Saya menyadari kalau saya memilki pribadi yang perfeksionis dimana segala sesuatunya harus berada pada tempatnya. Rumah beres rapih, anak - anak beres main di beresin lagi, selesai makan piring simpan di dapur dan hal-hal sepele lainnya. Kadang saya kesal melihat rumah yang sudah saya rapihkan sejak pagi buta tiba - tiba berantakan, saya kesal ketika kakak dan adik bertengkar hingga mereka saling berkata kasar hingga saling memukul dan saya kesal ketika anak-anak sulit di suruh mandi apalagi makan. Saya mudah sekali kesal karena perfeksionis saya.

Hal ini berimbas dari kaku nya sikap saya dalam memahami sifat dan karakter anak yang secara alami memang belajar dari bermain yang berantakan, pertengkaran kakak adik dan emosi yang naik turun.

Sebetulnya, perkara rumah berantakan, mainan gak diberesin lagi dan piring kotor gak disimpan di dapur ini hanya soal menerapkan kebiasaan saja. Selama ini sudah diterapkan tapi mungkin cara saya yang salah. Masih menyuruh dengan kata bukan dengan ajakan dan saya-nya ikut melakukan apa yang saya perintahkan.

Perkara sibling rivalry dan pertengkaran kakak - adik, kedepannya saya akan lebih santay dan tidak ikut emosi meledak ketika mereka bertengkar. Biarkan mereka berdebat dan gak membela apalagi menuntut salah satu untuk mengalah.

Karena saya lupa, kalau dalam pertengkaran kakak - adik, saya sebagai ibunya anak - anak bisa tahu apa sih pikiran terdalam anak - anak terhadap eksistensi dirinya. Misal kakak berkata,

“ kenapa sih nan yang harus ngalah terus?”
“ bukan nan yang mulai duluan mah, tuuh adik yang mukul duluan”
“iiihh itu adik mah yang rebut mainan kakak”
“maahh, kakak nakal masa ngelelewe adik. kan adik kesel jadi adik pukul aja kakak”
(*ngalelewe = mencemooh)

Selain itu, ketika mereka bertengkar mereka akan berusaha membela diri dan saling menyalahkan dan akhirnya jika berakhir dengan tangisan mereka belajar mengenali dan meluapkan emosi. Tugas saya selanjutnya adalah merangkul keduanya secara terpisah. Lagi-lagi dalam hal ini, saya harus kendalikan emosi saya. Selalu ingat, “ jangan ikutan emosi, tahan! tahan! tahan! “

Stop Blaming, Fix It and be the New Better Mom


Memang menjadi anak yang lahir dengan kondisi keluarga terutama ibu yang toxic serta perceraian orang tua membuat saya kerja keras untuk pulih, bangkit, tetap waras dan berusaha se-normal mungkin setelahnya. Keluar dari inner child saja sudah menjadi perjuangan yang membuat saya babak belur, lalu sekarang saya harus dealing with parenting ghost, ini gak mudah fernando!

Tapi tetap, once again saya gak boleh memvalidasi tindakan saya yang buruk atas nama inner child. Case closed!

Ketika para mom’s sejagat instagram posting terkait inner child dan ghost parenting, seperti efek domino saya pun ikutan berbondong - bondong posting mengenai hal itu. Saya curhat habis - habis an di blog dan saya merasa sudah pulih dan sembuh. Tapi nyatanya belum se-sembuh itu. Terbukti dengan repeat pola asuh yang buruk dari orang tua saya yang secara gak sadar saya terapkan pada anak-anak.

Lingkaran setan ini harus berhenti di saya sekarang juga. Anak - anak jangan sampai merasa buruk lagi sebagai anak dan menilai saya ibu yang jahat. Saya bukan orang tua yang sempurna dan tidak ada orang tua yang sempurna, yang ada adalah orang tua yang mau belajar dari kesalahan dan memperbaikinya. 

Bismillah ya, semoga saya bisa belajar menahan dan mengendalikan emosi. Sehingga meski anak saya sekarang masih merasa buruk dan memori di kunci kamar mandi itu masih melekat kuat, dengan seiringnya waktu dan perubahan pola asuh serta tindakan serta sikap saya, anak-anak tidak lagi terluka. Semoga mereka bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang bahagia, merasa di cintai dan diakui keberadaannya oleh saya dan ayahnya.

note : terimakasih Quora, beberapa insight saya temukan dalam postingan di Quora

3 komentar:

  1. Pola asuh orang tua dulu ngaruh ya bunda. Saya pun begitu 😭 Seperti dendam, sebenarnya saya bukan dendam. Seperti copy paste saja kalau lagi emosi. Kadang anak yang bingung. Kenapa ummi marah? Hiru salah apa? Muka ummi ngapa cemberut? Kadang anak pelampiasan ketika sangat lelah setelah bekerja di luar

    BalasHapus
  2. ya Allah..peluk mbak eka, bismillah bisa jadi lebih baik lagi. Mungkin mbak eka bisa buat tulisan untuk mitigasi terjadi kejadian yang memicu emosi lagi..selamat memeluk diri sambil bertumbuh bersama anak2 ya mbak

    BalasHapus
  3. Tau ga sih mba, kemarin kan aku jalan Ama anakku yg perempuan, trus Krn saat itu aku sedang pake bulumata palsu, aku tuh berkali2 nanya ke anakku, 'masih rapi ga nih, ga aneh kan? Jangan bikin mami malu loh. Kalo aneh bilang aja' 🤣. . Dan si kakak bilang gini, 'tenang aja mi, masih baguuus. Aku sih ga pernah dendam Ama mami, walo sering dimarahin.'

    Ya ampuun pas denger aku LGS kayak diem gitu, teus nyeseeeel bgt. Iya sih aku sering marahin si Kaka, kalo sedang belajar. Padahal aku tau dia memang agak lambat kalo belajar matematika tapi bagus di pelajaran lain. Cuma Ntah kenapa aku kayak emosi bgt kalo sekali ngajarin tapi ga nangkep 😔😣. Padahal ngajarin anak itu ya ga bisa cepet2. Nyesel , bangetttt. Aku juga masih belajar utk nahan emosi. Ngatasin mood swing. Krn aku juga ga mau anak2 jadi inget hanya yg jelek2 dari masa kecilnya :(

    BalasHapus