Post Page Advertisement [Top]


Anak usia 5 Tahun Pun Bisa Stress


Ini kali pertama saya merasakan bagaimana menghadapai anak laki - laki saya, Kilan yang sedang mengalami stress. Saya kira saya hanya akan menghadapi anak - anak stress nanti  ketika mereka memasuki usia remaja dalam menghadapi masa transisi kedewasaan. 

Tapi ternyata anak usia 5 tahun pun bisa stress. Bagaimana anak usia 5 tahun bisa sampai mengalami stress? bagaimana cara mengatasinya? Berikut pengalaman saya Memahami Stress Pada Anak Usia 5 Tahun dan mengatasinya.

Anak Yang Gemar Budaya Sunda Reak dan Reog Gedruk


Sejak usia 3 tahun, anak bungsu kami sangat menyukai budaya Sunda Reak Bangbarongan. Apa sih Reak Bangbarongan? Reak sendiri merupakan salah satu kesenian masyarakat Sunda yang berbentuk singa barong dengan penutup karung goni ( Wikipedia). Sementara Bangbarongan merupakan salah satu makhluk yang ada dalam seni Reak. 

Kalau bicara soal seni Reak maka akan luas pembahasanya, karena Reak memiliki sejarah yang cukup panjang dan memiliki versi dari tanah Sunda (Reak), Jawa (Reog)  hingga Bali (Leak). Namun saya tidak akan membahasanya disini, tetapi anak bungsu kami gemar memainkan seni Reak sunda. Bukan hanya Reak Bangbarongan, tapi juga Gedruk jantilan dan ogoh-ogoh serta tari leak Bali. Dia borong semua memang budaya seni Reog ini, hehe.

Setiap hari dia memainkan Bangbarongan  dan menonton video seni reak dan Bangbarongan di channel youtube Panca Dharma Jati atau seni reak benjang.  Dia akan langsung beraksi, menari dan jadi-jadian yang  sama persis dengan video Bangbarongan yang dia tonton. Lewat video youtube, dia belajar sambil bermain budaya seni reak.


bermain bangbarongan
Kilan bermain Bangbarongan ala dia sendiri, pakai topeng, sabuk dan kerudung mamahnya 😂


Tiada hari tanpa "konser" Reak Bangbarongan. Sejak bangun tidur hingga menjelang magrib. Awalnya sih saya senang dan cukup bangga karena dia menyukai seni Sunda. Setiap mendengar suara khas tari Bnagbarongan entah dimana, sinyalnya langsung menyala dan minta mencari asa suara tersebut darimana. Begitu ketemu, dia gembira bukan main.

Tapi lama kelamaan saya jengah juga. Suara lengkingan alat musik (waditra) yang mengiringi pertunjukan Reak Bangbarongan sungguh membuat telinga saya sakit dan mood saya berantakan. Tidak percaya? coba saja anda dengarkan musik Reak Bangbarongan dan dengarkan sehari lebih dari 5x, setiap hari nonstop! 

Selain itu, ibu mertua pernah cerita kalau dulu adik sepupunya sampai meninggal dunia karena memainkan seni Reak Bangbarongan dan berperan sebagai penari kuda lumping menjelang magrib. Adik sepupunya Ibu mertua seketika seperti kerasukan lalu pingsan setelah memainkan kuda lumping dan tidak lama kemudian sakit hingga seminggu lalu meninggal dunia.

Inilah hal yang paling saya dan Suami khawatirkan. Karena memang dalam seni Reak Bangbarongan selalu ada tradisi "kerasukan" yang biasanya di gawangi oleh pawang yang  ahli dalam urusan gaib. Dan entah bagaimana prosesnya, para penari Reak Bangbarongan selalu kerasukan dan melakukan tindakan tidak wajar. Seperti berguling di tanah, mata terbelalak dan merah, memakan pecahan kaca hingga berguling di atas kolam lumpur dan mengerjar orang - orang yang menyaksikan pertunjukan mereka. 

seni reak bangbarongan kesukaaN Kilan
seni Reak Bangbarongan kesukaan Kilan


Atraksi ini bagi anak bungsu kami mungkin aneh, menyenangkan dan asyik. Tapi tidak asyik bagi kami kalau nyawa yang jadi taruhannya. Atas dasar kekhawatiran itulah, baik saya dan Suami melarang keras anak bungsu kami dan juga kakaknya memainkan Seni Reak Bangbarongan lagi. Saya simpan dan sembunyikan semua peralatan konser dia, seperti Bangbarongan, terompet, speaker hingga Jimbe.

Tapi ternyata tindakan kami ini berdampak buruk terhadap psikologis anak bungsu kami.  Anak bungsu kami stress selama seminggu yang ditandai dengan tidak mau makan, hanya mau rebahan di kasur, tidak bersemangat ( muyung ) dan parahnya selalu mengeluh pusing dan sakit perut. 

Anak usia 5 Tahun Pun Bisa Stress


Awalnya saya kita anak bungsu kami memang sakit perut mengingat beberapa hari sebelumnya dia sakit diare. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat, jadi kami kira dia masuk angin. Saya pun mencoba mengobati sakit perut anak saya dengan antangin anak, entrosnstop anak dan balur kayu putih dengan bawang merah. Tapi tidak berhasil. Berhari - hari dia mengeluhkan sakit perut yang sama sambil menunjuk perut di bagian pusar.

Kemudian saya mencoba berfikir dan mundur pada waktu sebelum anak bungsu kami mengeluh sakit perut berulang. Seketika saya sadar, sakit perutnya muncul setelah saya melarang dia bermain Bangbarongan lagi. Saya pun menyimpulkan anak saya mengalami stress karena tidak bisa lagi memainkan permainan yang dia sukai tetapi saya kurang suka.

Lalu saya coba membujuk dan merayu dia untuk diperbolehkan bermain Bangbarongan lagi. Hasilnya? dia langsung sehat, ceria dan jaj-jag waringkas (sehat kembali) seakan dia tak pernah sakit perut sebelumnya. Saya berikan kembali semua alat konser dia dan tanpa menunggu lama dia pun bermain atraksi Reak Bangbarongan.

Lalu saya tanya, " Kilan udah gak sakit perut lagi?"
Dia jawab, " Gak mah, kilan udah sehat! makasih ya mah udah bolehin Kilan main Banbarongan lagi" sambil tertawa dengan wajah ceria.

Tuh kan! Beneran dia stress. Sejak hari diperbolehlan bermain Bangbarongan lagi, Kilan tidak pernah mengeluh sakit perut. Agak geli memang, kok bisa sih Anak usia 5 Tahun Stress? ternyata bisa. Logikanya, kalau misal saya dilarang menggambar lagi oleh siapapun saya pun akan mengalami stress yang sama. Begitu juga anak kecil, apalagi anak kecil yang rentang emosi dan piskologisnya belum berkembang sempurna.

Ciri - Ciri Stress Pada Anak - Anak


Berkaca dari pengalaman diatas, saya dapat menyimpulkan beberapa ciri - ciri stress pada anak - anak. Semoga hal ini dapat membantu ayah - Bunda yang juga mengalami hal yang sama dengan saya. Berikut ciri - cirinya :
  1. Tidak berselera makan atau hilang nafsu makan
  2. Enggan bermain apapun
  3. Lesu
  4. Tidak bersemangat
  5. Mengeluh sakit tanpa alasan yang jelas atau di obati tapi tidak membuahkan hasil

Jika Putra/Putri Ayah dan Bunda memiliki ciri - ciri diatas, coba evaluasi apakah anak - anak kita memang sakit "beneran" atau sakitnya itu merupakan dampak dari stress yang dialami mereka. Kalau sakitnya sembuh setelah di obati maka mereka memang beneran sakit. Tapi kalau tidak, coba evaluasi apa penyebab stress mereka.

Belajar Setuju Di Saat Tidak Setuju


Akhirnya saya merasakan juga bagaimana rasanya menjadi ibu saya ketika dulu melarang saya kuliah jurusan Seni. Bukan tanpa alasan memang, karena menurut pandangan Beliau, pekerja seni tidak bermasa depan meski nyatanya kini pekerja seni justru memilki peluang kerja dan sukses yang cukup besar. 

Meski saya tidak menyukai seni Reak Bangbarongan, saya belajar setuju di saat tidak setuju dengan kegemaran anak saya. Mungkin masalah ini menjadi pelajaran  bagi saya bagaimana menghadapi "tantrum" mereka ketika remaja nanti.

Ternyata memang berat untuk setuju di saat tidak setuju dengan kegemaran atau cita-cita anak -anak. Tetapi kalau ternyata hal itu merupakan hal yang dia sukai dan jadi cita-cita mereka, saya harus belajar ikhlas. Karena hal itu lah yang paling membuat mereka bahagia. Dan saya akan bahagia ketika mereka bahagia.

6 komentar:

  1. Berat banget ya Bund, harus objektif ga boleh egois.

    BalasHapus
  2. Wah, tapi serem juga ya. Kadang aku takut sama pertunjukan2 kaya gitu, nggak berani karena berbau mistis, musiknya juga khas bikin merindings. Tapi keren akhirnya bisa handle "tantrum"nya kak, jadi bahan refleksi juga ya ^^

    BalasHapus
  3. Wah, jadi ingat pas masih SD dulu. Beberapa hari setelah sakit aku berangkat sekolah dan enggak tahu kalau ada PR. Mendadak sakit perut dan diantar pulang ketika itu 🤭

    BalasHapus
  4. Anak pun bisa stress ya mbak. Dan kita orang tua harus tahu cara menangani stress pada anak. Kita saja yang dewasa' tidak nyaman jika stress apalagi anak

    BalasHapus
  5. Bener, Mam, anakku yang Abang Pendar tuh kalau stres juga sakit perut. Pernah stres tertekan nervouse mau sekolah pasca pandemi ini, sampai muntah. Alhamdullilah akhirnya sudah terbiasa, tidak stres lagi

    BalasHapus
  6. Kadang aku juga ingin agar bisa selalu memahami anak2ku ... semoga bisa ya mom ... karna anak2 ini yg mereke butuhkan perhatian dan dimengerti tidak hanya sekedar fasilitas saja ya

    BalasHapus