Comfort food. Aaahh, membahas topik yang satu ini pastinya membuat saya ingin melakukan perjalanan waktu, melintasi berbagai fase yang pernah saya lewati dalam hidup.
Saya mencoba mencari dan menggali, makanan apa yang memiliki makna terdalam. Makanan yang akan selalu saya kenang dan rindukan, yang sanggup membuat saya merasa kembali menjadi anak kecil lagi.
Bagi saya, comfort food yang selalu menghadirkan kenangan indah masa kecil adalah kuliner khas Cianjur, yaitu bubur ayam Cianjur. Hmm, apa sih bedanya bubur Cianjur dengan bubur lainnya? Apa keunikannya? Di mana kita bisa mendapatkan bubur Cianjur yang otentik, dan mengapa semangkuk bubur ini bisa terasa se-meaningful itu bagi saya? Yuk, baca selengkapnya.
Keunikan Gurihnya Tradisi Bubur Cianjur
Berbeda dengan bubur ayam Bandung yang manis dengan taburan daging ayam dan cakwe, bubur ayam Cianjur punya "sidik jari" rasa yang sangat spesifik. Perbedaan paling mencolok yang langsung tertangkap mata adalah tampilannya yang tidak menggunakan kuah kuning kental melainkan pepes bawang daun yang menjadi bintang utama.
Dari segi tekstur, bubur ayam Cianjur punya tekstur bubur yang tidak terlalu encer, tapi juga gak sekaku bubur ala Tiongkok. Bubur ayam Cianjur punya konsistensi yang pas, lembut ketika menyentuh lidah dan tetap memberikan rasa "kenyang" yang mantap. Rahasianya ada pada kualitas berasnya yang menggunakan beras asli Cianjur (Pandan Wangi) dan kaldu rebusan ayam kampung yang meresap ke dalam butiran nasi saat dimasak dalam waktu yang cukup lama.
Pepes daun bawang adalah kunci yang memberikan dimensi rasa gurih yang kaya pada bubur ayam Cianjur. Tanpa menggunakan kecap manis, bubur ayam Cianjur justru menggunakan kecap asin dan micin untuk menambah rasa gurih buburnya.
Taburan kerupuk emping dan kerupuk bawang yang diremas, taburan kacang kedelai dan bawang goreng serta seledri yang melimpah menjadi pelengkap yang menyempurnakan simfoni rasa di dalam mangkuk. Jika ingin, kita bisa menambahkan pepes jeroan seperti usus atau ati ampela. Hmmm, nikmat!
Berbicara soal kenikmatan, ada satu hal yang tak bisa dilewatkan, aroma. Bayangkan uap panas yang mengepul dari semangkuk bubur yang baru saja disajikan, membawa aroma kaldu ayam kampung yang clean dan gurih, berpadu dengan wangi beras Cianjur dan pepes bawang daun yang wangi khas kunyit tapi gak berat. Di tengah suhu udara kota Cianjur yang cenderung sejuk, apalagi di pagi hari, semangkuk bubur panas merupakan sebuah pelukan nyata bagi tubuh.
Bagi penyuka tantangan rasa, jangan lupakan sambal. Sedikit sentuhan sambal merah yang pedas dan segar akan memberikan kontras rasa yang sempurna. Pedasnya sambal tidak menutupi rasa gurih, justru ‘membangunkan’ lidah dan membuat rasa pais jadi lebih pop-up. Perpaduan antara hangatnya bubur, gurihnya pais, dan pedas yang pas inilah yang membuat setiap suapan terasa begitu hidup.
Gimana cara makan bubur ayam Cianjur yang paling enak? Moms tim bubur diaduk atau gak? Kalau saya ofkors gak! Hahaha. Duh sayang banget deh menikmati bubur Cianjur terus cara makannya diaduk, gak bisa ngerasain sedikit demi sedikit bubur dengan campuran pepes bawang daun, atau se-sendok bubur ayam lengkap dengan toppingnya yang khas. Kalau diaduk semua, rasanya jadi nano-nano meski masih tetap enak.
Bubur Cianjur, Aslinya adalah Bubur Tiongkok
Plot twist gak sih? Hahahaha.
Jadi, menurut harian umum Cianjur Pikiran Rakyat, bubur ayam Cianjur masuk ke Cianjur bersama datangnya etnis Tionghoa ke Kabupaten Cianjur pada tahun 1707 pada masa pemerintahan Bupati Cianjur Dalem Astramanggala atau biasa disebut dengan Rd. Aria Wiratandu III.
Merunut dari sejarah, Dalem Astramanggala terbilang sukses membuka kota Cianjur hingga terkenal sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Barat. Untuk menambah tenaga kerja, Belanda membawa orang Tionghoa ke Kabupaten Cianjur.
Saat itu, kehidupan para buruh perkebunan warga Tiongkok rata rata miskin, sehingga untuk memberi makan seisi keluarga, mereka membuat beras menjadi bubur khas asal mereka Tionghoa.
Pada tahun 1950 para pemuda Cianjur mulai memodifikasi bubur beras khas Tionghoa ini agar terasa lebih enak dengan cara mencampurkan berbagai sayuran ke dalam bubur beras.
Salah satu pelopor Bubur Ayam Cianjur adalah Mang Endu yang memiliki gerobak bubur Cianjur di depan toko Su Ge Bojong Herang. Mang Endu-lah orang Cianjur pertama yang menjual bubur beras dengan campuran pais atau pepes daun bawang dan jeroan ayam yang dibungkus daun pisang.
Pasca kesuksesan Mang Endu, munculah pedagang baru bubur Cianjur lainnya pada tahun 1975 yaitu Haji Aep yang menjual bubur ayam di depan toko sampurna menggunakan tanggungan. Haji Aep lantas menggunakan gerobak pada tahun 1982 dan sampai saat ini masih eksis dan dikenal dengan bubur ayam sampurna dan memiliki toko atau tempat makan sendiri.
Wah tidak heran kenapa banyak sekali toko - toko di Cianjur yang pemiliknya adalah orang Tionghoa. Bahkan tetangga nenek saya di Jl Selakopi, bernama Jojon, adalah orang Tionghola yang ramah dan baik hati. Beliau selalu memberi saya bonus kue jahe setiap kali nenek menyuruh saya belanja ke toko beliau.
Bicara soal sejarah, jika Mom berkesempatan melancong ke Cianjur, masih banyak toko-toko yang dimiliki oleh orang Tionghoa dengan bangunan lama. Arsitekturnya masih indah dan terjaga hingga sekarang. Hanya saja, harus siap-siap bawa kipaa angin portable ya, karena Cianjur sekarang beda dengan Cianjur waktu saya kecil, panas banget!!
Mengapa Bubur Cianjur Begitu Meaningful?
Jika ditanya mengapa bubur Cianjur begitu berarti, jawabannya melampaui urusan lidah. Bagi saya, bubur ayam Cianjur adalah mesin waktu. Setiap suapannya membawa saya kembali ke tanah kelahiran saya, dimana saya menghabiskan masa golden age saya di sana, saat dunia terasa jauh lebih sederhana.
Pindah ke Bandung setelah usia 5 tahun, nyatanya tidak membuat saya lupa akan bubur Cianjur. Terlebih, bubur Cianjur selalu jadi kuliner incaran saya setiap pulang kampung ketika lebaran tiba.
Bubur Cianjur selalu membawa saya pada kehangatan ngumpulnya keluarga dari ibu di rumah nenek setiap lebaran. Keluarga kami termasuk keluarga besar dengan jumlah paman dan bibi total 16 orang, belum termasuk saya dan sepupu - sepupu yang lain.
Aaaah, ya masa-masa itu indah sekali.
Meski bertemu setahun sekali, tapi rindu tak pernah sirna bahkan selalu ingin segera bertemu lagi. Aktivitas sisa Ramadan akhir yang diisi ngabuburit bareng ke Masjid Agung Cianjur, atau sekadar jalan-jalan hingga pertokoan setelah pasar.
Cianjur tuh pusat kotanya kecil, jadi berjalan kaki keliling pusat kota setengah hari juga nyampe, hahaha. Apalagi, rumah nenek kami berada dekat dengan jalan utama jadi dekat juga dengan Masjid Agung, pasar, dan pusat pertokoan di tengah kota.
Hari kedua perayaan Idul Fitri , yang kami lakukan adalah berburu bubur Cianjur. Makan bersama dan bercengkrama sambil bercerita, menambah kehangatan suasana lebaran. Suasana yang gak akan pernah bisa terulang dan dirasakan lagi, karena kini, setelah nenek dan kakek meninggal, masing-masing dari kami menjalani "ritual" ngumpul bareng keluarga masing - masing, Terlebih, sebagian besar sepupu sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri.
Mencari Jejak Otentik Bubur Cianjur, Dimana Menemukannya?
Mendapatkan bubur Cianjur yang benar-benar otentik di luar kota Cianjur memang challenging. Banyak kedai yang menuliskan "Bubur Ayam Cianjur" di spanduknya, namun seringkali saya hanya dapat berkah dibanding dapet buburnya, wkwkwk.
Karena bubur ayam Cianjur tuh notabene punya rasa gurih, jadi bubur Cianjur di Bandung beneran KW dengan menggunakan kuah kuning seperti bubur Cirebon atau Bogor. Bahkan tanpa pepes daun bawang tapi menggantinya dengan sate usus atau telur puyuh. Selain itu, gak ada topping remahan kerupuk emping dan kerupuk bawang di atasnya.
Kalau soal rasa bubur, ya wajar kalau berbeda karena gak pakai beras asli Cianjur tapi soal topping, duuh ini yang paling bikin ngenes.
Kalau mau nyobain bubur Cianjur asli, ya harus datang ke Cianjur sih biar tahu rasa aslinya seperti apa.
Nah, kalau Mom’s berkesempatan mengunjungi kota Cianjur, mampirlah ke area sekitar Alun-Alun atau Masjid Agung di pagi hari. Di sana, ada pasar dan terdapat warung makan bubur Cianjur Sampurna, tepatnya di jl Mangunsarkoro Cianjur
Sementara bubur Cianjur Mang Endu, pun masih eksis berjualan hingga sekarang di depan toko SuGe di Bojong Herang tapi berganti nama menjadi bubur ayam Cianjur Mang Ade yang merupakan anak dari Mang Endu.
Tapi jangan khawatir, kalau malas masuk pasar, atau bingung dimana toko Su \Ge berada, Mom bisa juga menikmati bubur Cianjur yang selalu hadir di pagi hari di sepanjang jalan Siliwangi hingga Selakopi. Bahkan di jalan-jalan utama pusat kota. Ya, bubur Cianjur tuh udah kayak kupat tahu di Bandung, ada dimana-mana di seluruh pelosok kota Cianjur, karena hampir semua warganya se-suka itu dengan Bubur Cianjur khas mereka.
Tapi, rekomendasi saya adalah Bubur Cianjur Sampurna, dan bubur Cianjur di sepanjang jalan Siliwangi hingga Jl. Selakopi, seperti bubur ayam di Gg, Kalimantan dan depan Gg. Sumba daerah Selakopi Cianjur.
![]() |
| Aneka tambahan menu bubur ayam Cianjur (Dok,pribadi) |
![]() |
| Tukang bubur ayam Cianjur di jl. Siliwangi Cianjur (dok.pribadi) |
Kalau di Bandung dimana? Setelah saya berkelana mencari kesana-kemari tukang bubur yang menuliskan kata “Bubur Cianjur” di spanduknya, saya hanya menemukan satu kedai saja, yaitu Bubur Ayam Cianjur Ibu Euis. At least, bubur Cianjur Ibu Euis menyediakan kerupuk emping dan bawang warna putih dengan warna di pinggirannya, kecap asin, dan bumbu kuning bawang daun, meski bukan pepes ya. Jadi, rasanya lumayan mendekati-lah ya, sekitar 70%-nya dari rasa asli bubur Cianjur.
Akhir Kata
Comfort food memang bukan hanya soal rasa, tapi soal perasaan yang ditimbulkannya. Bagi saya, bubur Cianjur adalah pelukan hangat pelepas rindu dalam bentuk makanan. Bubur Cianjur adalah cara saya untuk "pulang" sejenak ke masa lalu dan bertemu si anak kecil dalam diri saya. Bubur Cianjur mengingatkan saya pada masa kecil yang bahagia, rumah lama kami, dan pada sosok nenek yang selalu kami rindukan.
Daftar Referensi :
https://cianjur.pikiran-rakyat.com/lokal-cianjur/pr-054178149/sejarah-bubur-ayam-cianjur-sajian-nikmat-untuk-buka-puasa-di-bulan-ramadan?page=all
https://www.kabarcianjur.com/2018/06/ini-sejarah-bubur-ayam-cianjur-menurut.html
https://www.facebook.com/buburayam.sampurna/
https://www.kompasiana.com/muhamadiqbalalhilal2301/614e780901019008f84e1562/bubur-ayam-sampurna-bubur-ayam-legendaris-asal-cianjur
https://www.facebook.com/CIANJURTEA/photos/suge-jl-taifur-yusuf-cianjur/415995294227/





Posting Komentar