mamajokaa food blogger bandung

Channel Youtube Gitasav dan Proses Saya Kembali Pada Allah SWT

Channel Youtube Gitasav dan Proses Saya Kembali Pada Allah SWT



Ah yaaa, saya masih ingat ketika pertama kali mengenal Gitasav, lima tahun lalu melalui segmen “Beropini” di channel Youtube-nya. 

Konten video Gita yang bertajuk “Boundaries : Pentingnya Memiliki Batasan”, adalah video pertama Gita yang saya tonton pertama kali yang terasa seperti angin segar yang menghentak kepala dan menampar kesadaran saya.

Saya yang pada saat itu masih people's pleasure akut, ngerasa, “Ohh ya ini waktunya aku mikirin diri sendiri deh”.


Segmen Beropini Gitasav, episode Setting Boundaries
Segmen Beropini Gitasav, episode Setting Boundaries

Sampai sekarang, ketika saya membutuhkan asupan bergizi untuk kesadaran, saya memutar ulang video-video Gitasav yang berjudul Life is a Matter of Choice, I’m Not Like Other Girls, Senyum dong, Neng!, Mencari IKIGAI, The Purpose, Kenapa Kita Membenci dan Gimana Caranya Berpikir Kritis.

Selain segmen “Beropini”, saya juga menonton segmen “Pagi-pagi” yang merupakan segmen diskusi Gita bareng suaminya, Paul.

Meski gak setiap episode “Beropini” saya tonton (karena milih juga kan konten mana yang sreg), saya tetap ngecek update-an konten Gitasav terutama segmen “Beropini” yang hingga tahun ini sudah mencapai 92 episode

Topik - topik yang dibahas Gitasav di segmen Pagi-pagi dan Beropini sebetulnya umum sih dan banyak dibahas juga di channel lain, tapi yang beda dari Gitasav adalah gaya bicara yang santai, lugas, kritis dan enak aja di denger gitu. She is so open minded sih menurut saya.

Gita tuh punya pola pikir yang sistematis dan itu jadi daya tarik tersendiri. Saya seperti diajak melihat sebuah masalah melalui mikroskop, detail, tajam, dan seringkali mengungkap sisi-sisi yang tidak terlihat oleh mata telanjang atau orang awam, bahkan yang kontroversi sekalipun.

Meski demikian, saya bukanlah seorang fans "blind follower" yang menelan semua opininya Gita mentah-mentah. Ada garis tegas yang tetap saya jaga, terutama ketika argumennya mulai bersinggungan dengan prinsip atau pemahaman agama yang saya yakini.

Di sinilah kedewasaan berpikir saya diuji, bagaimana saya bisa tetap mengambil manfaat dari ketajaman logikanya, tanpa harus kehilangan identitas dan kompas moral pribadi saya sendiri. Somehow, Gita bantu saya berproses pulang dan kembali pada Allah SWT serta berdamai dengan OCPD, bahkan dengan caranya yang sedikit kontroversi.

Saya Suka Cara Berpikir Gita yang Sistematis 


Satu hal yang mungkin membuat saya merasa konten Gitasav "ngena" adalah kemampuannya melakukan dekonstruksi dalam berpikir. 

Gita kerap membongkar konsep-konsep yang selama ini kita anggap "sudah dari sananya begitu" atau “tabu” (seperti standar kecantikan, peran gender, atau kewajiban sosial) dan bertanya, "kenapa harus begini? Siapa yang membuat aturan ini?" seakan skeptis, tapi positif. 

Skeptis tapi positif? Hemmm, bisa? Tentu, sikap skeptis yang sehat seperti itu sebenarnya bisa membantu kita  tidak gampang ikut arus, lebih sadar diri dalam mengambil keputusan dan punya argumen sendiri, bukan cuma sekadar "kata orang tua dulu" atau "katanya si ini".


Channel Youtube Gitasav
Channel Youtube Gitasav

Nah, pola pikir Gita yang sistematis dan terstruktur tuh, mirip banget dengan saya. Ya, saya tidak menyangkal bahwa memang ada indikasi "Attraction" atau daya tarik terhadap Gita karena adanya resonansi persamaan dalam cara berpikir. 

Yang membuat pola pikirnya menarik menurut saya adalah konsistensi logikanya. Meskipun kita tidak setuju dengan "titik berangkat" atau "kesimpulan" yang dia ambil, saya bisa melihat jembatan logika yang dia bangun. Dia tidak asal bicara karena emosi, tapi karena ada landasan pemikiran (biasanya dari literatur atau pengalaman empiris di Eropa) yang dia pegang teguh.

Daya tarik lainnya dari Gita adalah "kemandirian emosionalnya". Melihat dia bisa berdiri tegak meskipun dihujat se-Indonesia raya itu seperti memberi asupan keberanian untuk juga teguh pada keputusan pribadi
.
Saya yakin, pola pikir Gita yang demikian bukanlah pola pikir yang ujug-ujug terbentuk, melainkan melalui proses yang cukup panjang.

Terlebih, saya dan Gita punya latar belakang pendidikan yang sama yaitu kimia. FYI, anak kimia itu sudah terbiasa memecahkan soal tugas sekolah/kuliah yang terstruktur. Misalnya, berapa entropi atau rumus kimia natrium klorida? Untuk menyelesaikan soal itu ada tahapan penyelesaian. dimulai dengan soal, cara kerja yang detail, baru jawaban.  Hal ini ngaruh banget terhadap kebiasaan nyelesein masalah dalam hidup atau merespon sesuatu. 

Hal Ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar, melainkan soal bagaimana struktur otak kita dibentuk untuk menghadapi permasalahan di dunia nyata.

Selain cara berpikir, saya juga merasa respon kita dalam mengatasi titik terendah juga sama. 

Saya ingat, di segmen Pagi-pagi eps.4 bertajuk “Menghadapi titik terendah”, Gita bilang, waktu dia down atau patah hati, dia bisa nangis seharian but then, suddenly logika nya main, “Iiih buat apa sih aku nangis nangis buat dia? emang se-worth itu dia gue tangisi ? Emang dia siapa berani-beraninya nyakitin gue? trus aku stand up dan hilang sedihnya. auto aja gitu

Nah, cara Gita menyelesaikan masalahnya atau ketika menghadapi titik terendah tuh sama dengan saya. Membiarkan emosi meledak hingga ke titik terendah and then karena kecapean, logikanya jalan, saya menyebutnya hard-reset emotion.

Bagi saya, hard-reset emotion dalam waktu singkat adalah efisiensi energi dengan membiarkan ledakan terjadi untuk melakukan recovery dalam waktu singkat.

Jadi, menurut saya, Gita itu kontroversial karena dia tidak takut "tabrakan" dengan norma umum, tapi dia inspiratif karena dia membuktikan bahwa seseorang bisa punya prinsip yang sangat teguh di tengah arus opini orang lain.

Kombinasi ini yang sebenarnya mahal. Banyak orang yang kontroversial cuma demi cari sensasi (pansos), tapi sedikit yang kontroversial karena integritas pemikiran. Di sisi lain, banyak orang inspiratif yang terlalu "main aman" sampai-sampai jadi membosankan. Gitasav mengambil jalan tengah yang ekstrem, yaitu berani beda, punya dasar, dan siap dengan resikonya.

Di Balik Childfree dan Pro LGBT Gitasav, Antara Empati dan Batasan Syariat


Gita memang dikenal sangat blak-blakan (straightforward), yang terkadang bagi sebagian orang dianggap terlalu konfrontatif dalam menyampaikan opini yang sensitif. To be honest, ini sejalan dengan saya yang merasa cukup "eneg" dengan basa-basi sosial. Jadi, ketika melihat seseorang yang berani bilang "nggak" atau "saya nggak suka" secara lugas, itu rasanya seperti validasi bagi perasaan saya sendiri yang mungkin sering terpendam.

Namun, kejujuran Gita sering kali menjadi pedang bermata dua. Ada momen di mana saya merasa ia kurang bijak dalam memilih diksi, terutama saat merespons netizen. Salah satu yang paling membekas adalah pernyataannya soal childfree sebagai 'anti-aging alami'.

"Not having kids is indeed natural anti-aging. You can sleep for 8 hours every day, no stress hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have the money to pay for botox," tulis Gita di platform X ketika merespon pertanyaan salah satu netizen yang bertanya, "Aku yg umur 24 kalah sm ka git pdhl udah 30 awet muda bgt si," 

Sebagai sesama perempuan, saya merasa geram. 

Terlepas dari pilihannya untuk tidak memiliki anak, yang merupakan hak personalnya, menggunakan argumen 'tidak stres mendengar teriakan anak' dan 'uangnya bisa untuk botox' terasa nir empati bagi para ibu yang berjuang membesarkan anak dengan segala peluhnya.

Di sini saya melihat kontradiksi yang nyata. Di satu sisi Gita kerap meminta empati dan ruang validasi untuk isu LGBT atau proses spiritualnya, namun di sisi lain, ia tampak menutup pintu empati bagi pilihan hidup yang berbeda dari versinya (menjadi orang tua).

Saya teringat sebuah nasihat dalam Islam: 'Adab di atas ilmu'. Seberapa pun cerdas dan kritisnya seseorang, ilmu akan kehilangan cahayanya jika disampaikan tanpa adab yang baik. Di titik ini, saya menilai kejujuran Gita sudah melampaui batas dan menjadi kebablasan. 

Kejujuran memang mahal, tapi kejujuran yang menyerang kebahagiaan apalagi perjuangan orang lain bukanlah bentuk perjuangan hak asasi, melainkan sebuah kekhilafan dalam bersikap.

Gak Semua "Isme"-Nya Gita Saya Validasi



Gita dan Paul mengikuti pawai peringatan hari perempuan International
Gita dan Paul mengikuti pawai peringatan hari perempuan International 

Segmen Pagi-Pagi Gitasav, membahas LGBT, salah satunya.
Segmen Pagi-Pagi Gitasav, membahas LGBT, salah satunya.


Above all her controversi, topik yang kerap diangkat Gita terkaoit mental health tuh bagus banget. Terbukti dengan topik boundaries yang dia angkat, mampu bikin saya stand-up dan bantu saya gak jadi people pleasure lagi. 

Tapi, beberapa opini dan pernyataan Gita juga terasa sangat kontroversial dan berlebihan, terutama dukungannya terhadap LGBT yang secara nyata bertentangan dengan keyakinan saya. 

Meski demikian, saya mencoba memahami alasan dibalik mengapa Gita sampai pro LGBT. Saya melihat Gita adalah tipe yang sangat anti terhadap stereotip gender roles, seperti  "perempuan harus begini, laki-laki harus begitu" sebagai konstruksi sosial yang membatasi potensi manusia.

Di sinilah letak empati Gita, ia ingin setiap orang punya ruang untuk jujur pada diri sendiri tanpa harus memakai "topeng" demi diterima masyarakat. Prinsipnya dan Paul sederhana, berbeda itu bukan berarti harus dihancurkan. Ini soal kemanusiaan, di mana hak seseorang tidak boleh hilang hanya karena pilihan hidupnya berbeda dari mayoritas. Ia mungkin melihat isu ini murni dari kacamata human rights Barat.

Sebagai sesama anak kimia, saya memahami cara berpikir Gita yang sangat struktural. Ia melihat "reaktan" berupa tekanan sosial, diproses lewat "katalis" logika anti-patriarki, lalu menghasilkan "produk" berupa dukungan terhadap minoritas. 

Tapi, meski saya memahami alasan "mengapa" dibalik dukungannya terhadap LGBT, bukan berarti  saya memvalidasi "isme"-nya sebagai kebenaran, mengapa? Karena ada batasan iman yang saya pegang. 

Secara kemanusiaan, statement Gita  mungkin bisa dibenarkan, tapi secara agama tidak. 

Sebagai Muslim yang berpijak pada wahyu, saya melihat ada fitrah yang harus dijaga. Al-Qur'an bukan bermaksud membenci manusianya, tapi melarang perilaku yang merusak tatanan penciptaan. Kita bisa berempati pada perjuangan psikologis seseorang, tapi kita tidak bisa memvalidasi perilaku yang terang-terangan menabrak syariat. 

Di sinilah pentingnya ilmu yang dibarengi adab, kita tidak perlu mempersekusi, tapi juga tidak boleh mengaburkan batasan halal-haram demi terlihat open-minded.

Dalam Islam, batasan hukum perbuatannya sudah jelas "hitam dan putih".  Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf : 80-81 mengenai kisah Nabi Luth AS yang mengecam perbuatan keji sesama jenis sebagai tindakan yang melampaui batas. 

Begitu pula mengenai perilaku yang sengaja menyerupai lawan jenis, Islam merujuk pada prinsip menjaga fitrah ciptaan Allah (QS. An-Nisa: 119) dan dipertegas oleh Hadits Riwayat Bukhari di mana Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan (mukhannats) dan sebaliknya.

Seandainya saja Gita mau sedikit lebih open-minded mengulik pandangan Islam secara adil, ia akan menemukan bahwa Islam sebenarnya sudah sangat akomodatif dalam melihat spektrum identitas seksual secara medis dan psikologis.

Islam merangkul mereka yang secara biologis berbeda (khuntsa), namun tetap tegas pada batas-batas perilaku (perbuatan sesama jenis).

Dalam kajian literatur Islam, pemahaman mengenai spektrum identitas seksual dan gender sebenarnya telah dibahas secara mendalam dan akomodatif, terutama dalam membedakan aspek biologis dan psikologis. 

Dalam aspek biologis atau medis, fikih Islam mengenal istilah Khuntsa (interseks), yaitu individu yang lahir dengan kondisi alat kelamin ganda atau tidak jelas, di mana para ulama besar seperti Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab serta Ibnu Qudamah dalam Kitab Al-Mughni telah menetapkan aturan khusus yang sangat empati terkait hak waris, tata cara sholat, dan status hukum mereka sebagai bentuk takdir ciptaan Allah yang murni bersifat medis, bukan sebuah penyimpangan moral.

Sementara itu, dalam tinjauan psikologis, Islam melalui penjelasan Imam Nawawi dalam Kitab Syarh Shahih Muslim memberikan klasifikasi yang sangat adil bagi laki-laki yang memiliki pembawaan feminin atau kemayu, yang disebut dengan Mukhannats. 

Klasifikasi ini terbagi menjadi dua poin.

Pertama, Mukhannats Khalqi, yaitu individu yang secara fitrah atau bawaan sejak lahir memiliki sifat lembut, suara halus, atau gerakan gemulai tanpa maksud sengaja menyerupai perempuan, di mana Islam menegaskan bahwa tidak ada dosa maupun celaan baginya selama ia tidak melakukan kemaksiatan karena kondisi tersebut berada di luar kendalinya. 

Kedua, Mukhannats Takallufi, yaitu laki-laki yang secara sadar dan sengaja meniru-niru gaya, dandan, serta perilaku perempuan demi tujuan maksiat atau menentang fitrah, yang mana perilaku jenis kedua inilah yang dilarang keras dan dilaknat sebagaimana tercantum dalam Hadits Riwayat Bukhari No. 5885.

Dalam Islam, batasan hukum perbuatannya sudah jelas hitam dan putihnya.

Mengagumi pola pikir Gita memang mengajarkan saya untuk berani jujur pada prinsip sendiri, meski itu artinya saya harus berbeda pendapat dengannya. Suka tidak suka, saya tidak akan membantah bahwa Gita Savitri Devi mungkin bukan kompas moral bagi semua orang, tetapi ia adalah cermin yang memaksa kita melihat seberapa berani kita jujur pada diri sendiri.

Ketidaksukaan Pada Label Hijrah : Gitasav Bukan Gak Paham, Tapi Butuh Empati


Di segmen pagi-pagi episode yang paling kontroversial, yaitu “Traveling, Hijrah dan LGBT”, Gita banyak memberikan statement yang bener-bener bisa bikin kuping panas netizen. Selain LGBT yang saya bahas diatas, hal lainnya adalah statement Gita tentang kata hijrah.

Secara sadar, Gita menyatakan bahwa dia gak suka label hijrah disematkan pada orang yang baru mualaf atau yang baru pakai kerudung.

Oke, kalau dilihat dari kacamata agama, it could be wrong, karena Islam bukan agama "menurut gue" atau menurut ustad anu, melainkan ada rule dalam islam yang intinya jika membahas islam harus memakai dalil yang valid dari Al-Quran & Hadits sebagai referensi.

Dalam pemahaman saya sebagai Muslim, ada batasan-batasan syariat yang sudah jelas koridornya, mana yang boleh dan mana yang tidak. 

Di Balik Alasan Berkerudung-nya Gita: Submitting To God


alasan GitaSAV pakai kerudung
Segmen "Beropini" eps. 37 Tentang alasan Gita pakai kerudung


Meski kontem atau opininya Gita kerap menuai kotroversi, Gita yang berkerudung adalah nilai plus bagi saya terlepas "gaya" bekerudungnya seperti apa. Berbanding lurus dengan opininya terkait definisi hijrah, ketika dia memutuskan untuk mengenakan kerudung pada tahun 2015, Gita paham betul bahwa di agama islam, menutup aurat itu wajib baik bagi laki-laki apalagi perempuan.

Dan Gita, gak menemukan satu alasan justifikasi untuk menghindar dan mulai menerima fakta bahwa wanita dalam islam tuh wajib berkerudung. Two thumbs up Gita!.

Di videonya, Gita merasa ada rasa bangga akan identitas Muslimah yang ia bawa, yang memberinya ketenangan hati setelah berkerdung. 

Pernyataan ini bagi saya adalah bukti bahwa landasan spiritual Gita sebenarnya sangat dalam. Dia memandang hubungannya dengan Tuhan sebagai hubungan yang sangat privat dan jujur. Inilah yang kemudian menjelaskan mengapa dia begitu skeptis terhadap "label hijrah" yang seringkali hanya berhenti di permukaan atau sekadar mengikuti tren.

Bagi Gita, hijrah itu proses yang gak harus ada parameternya. Hijrah itu proses struggling yang bukan lantas jadi keharusan menjadi A atau B. 

Sayangnya, dibalik alasannya yang so deep as a muslim,  ada  celah perdebatan dalam pemikiran Gita ketika ia membawa konsep hijab ke ranah feminisme. Bagi Gita, hijab adalah simbol kedaulatan perempuan atas tubuhnya sendiri. 'It's all about choice,' ungkapnya di segmen Beropini eps. 37.

Mengetahui alasan Gita berkerudung lantas mengaitkan dengan isu feminisme, saya melihat ada sisi revolusioner sekaligus berisiko dalam cara pandangnya. Gita sadar hijab itu wajib, tapi dia menekankan bahwa ketaatan terhadap kewajiban itu adalah pilihan bebas manusia.

Di satu sisi, saya mengagumi keberaniannya memilih taat tanpa paksaan orang lain. Namun di sisi lain, saya tetap menyadari bahwa dalam koridor agama, 'pilihan' tersebut idealnya adalah bentuk kepatuhan pada Sang Khalik, bukan sekadar ekspresi kebebasan individu semata. Gita melihatnya secara revolusioner, sementara saya melihatnya sebagai perjalanan hamba yang sedang mencari keseimbangan antara otonomi diri dan ketaatan. 

Tapi tentu saja, pemahaman Gita mungkin baru sampai sana. Dan saya pun bukan fans yang  maha benar, sama-sama berproses terutama soal "jenis"kerudung. Bedanya, Gita melihat secara revolusioner, sementara saya melihat sebagai perjalanan hamba yang sedang mencari keseimbangan antara otonomi diri dan ketaatan.

Semua Orang Berproses dalam Hijrah, Termasuk Gita dan Saya


Sebagai orang yang punya pengalaman spiritual "krisis keimanan" berkepanjangan hingga marah dan mempertanyakan Tuhan, saya paham maksud Gita terkait hijrah sebagai personal process

Hijrah itu proses perbaikan diri yang panjangnya minta ampun. Bahkan, grafik proses kembali ke Tuhan (Allah SWT) fluktuatif banget, the never ending looping of naik-turun bahkan sampai jebol.

Dalam proses saya yang “jebol” itu adalah marah pada Tuhan dan ragu, “Kalau emang Tuhan ada kok ngasih aku masalah terus sih? Kok gak adil sih?” ,  dititik inilah saya bisa memahami bagaimana orang agnostik atau atheis berpikir, celah mana yang kosong yang bikin gak percaya Tuhan. Jawabannya? Bisa jadi karena marah, seperti yang saya rasakan. 

Marah yang saya rasakan pada Tuhan adalah sebuah krisis emosional dan hampir setiap manusia yang beriman pernah berada di titik lelah, kecewa, atau merasa diperlakukan tidak adil oleh keadaan. Marah adalah tanda adanya hubungan. Seseorang tidak akan marah pada sesuatu yang ia yakini tidak ada.

Seperti yang tercantum dalam buku Kitab : Shahih Muslim, Sub-Bab : Bayan al-Waswasah fi al-Iman wa ma Yaqulu man Wajadaha, Nomor Hadits: Nomor 132 (Dalam beberapa penomoran lain mungkin tertera sebagai nomor 209) dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. menyatakan bahwa :

Suatu hari, para sahabat Nabi datang menemui Rasulullah SAW dalam keadaan sangat cemas dan takut. Mereka berkata:

"Ya Rasulullah, kami merasakan sesuatu dalam hati kami (keraguan/pikiran buruk tentang Tuhan) yang rasanya kami lebih baik jatuh dari langit atau dibakar sampai jadi arang daripada harus mengucapkannya."

Rasulullah SAW kemudian bertanya: "Apakah kalian benar-benar merasakannya?
Mereka menjawab: "Ya."
Lalu Rasulullah SAW bersabda: "Dzakal Sharihul Iman." Artinya: "Itulah iman yang nyata (terang)." (HR. Muslim)

Bukankah fungsi akal yang diberikan Allah SWT adalah mempertanyakan tapi bukan untuk sombong? Pertanyaan yang bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT bukan sebaliknya.

Nabi Ibrahim AS sendiri pernah mempertanyakan dan mencari Tuhan dengan mengamati bintang, bulan, dan matahari untuk meyakinkan dirinya tentang siapa pencipta sesungguhnya, yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai contoh pencarian iman yang lurus. 

Kondisi Ini sering disebut sebagai Inbisat (curhat yang sangat jujur kepada Tuhan) atau krisis iman seperti ketika Nabi Ayub AS atau Nabi Yakub AS yang pernah mengadu betapa beratnya beban mereka.

Yang saya butuhkan sebetulnya jawaban atas pertanyaan, “Kenapa saya?”, lantas apakah terjawab? Oh tentu tidak Fernando! Hahahaha. 

dr Untung, psikiater yang kerap saya dan adik saya kunjungi berkata, 

Kamu gak bisa mendapatkan jawaban kenapa dari Dzat yang ngasih kamu begitu banyak masalah dan trauma dalam hidup. Karena, itu hak prerogatif-Nya untuk ngasih hidup kamu ini dan itu. Yang bisa kamu lakukan hanya satu, serahkan semuanya ke DIA”.

Itulah titik balik saya kembali pada-Nya secara utuh.

Di sepertiga malam, saya ambil air wudhu, sholat tahajud dilanjut sholat taubat dan mohon ampunan Allah SWT. Dalam doa saya memohon,

Ya Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Mohon ampunilah dosa hamba yang kerap marah padaMu karena merasa ini bukan hidup yang hamba inginkan! Hamba gak pernah minta dilahirkan dalam keluarga toxic yang bikin hamba trauma berkepanjangan terus kena OCD dan adik hamba ADHD, i didn’t sign for this!!!” Ucap saya sambil nangis setengah berteriak.

Ya Allah, Yaaaaa Rabb! Hamba mohon, hamba tidak tahu mengapa Engkau berikan hidup yang begitu bikin sesak dada di hampir sepanjang hidup Hamba, Engkau yang lebih tahu bagaimana perjalanan hamba untuk bisa, bahkan bertahan sebentar saja. Ya Allah, Ya Rabb, hamba mohon, perbaikilah hidup hamba jadi lebih baik, jadikan hamba manusia yang lebih baik, cabut sedih dan ketakutan yang kerap hamba rasakan karena trauma, karena hamba selalu ingin pulang padaMu ya Allah, hanya ingin pulang padaMu. Hamba tidak punya siapapun untuk bergantung, hanya padaMu

Huft.

Mengingat cerita saya sendiri, rasanya saya seperti terharu dan sedih tapi juga bersyukur. Meski saya marah sedemikian hebatnya, Allah SWT selalu memberikan saya kesempatan untuk kembali pada-Nya meski dengan cara yang kadang bikin geleng kepala.

Secara agama, saya tidak tahu apakah yang salah lalui adalah dosa besar atau tidak, tapi saya yakin Allah itu tidak diam dan tidak tidur. Dalam pengawasan-Nya, Allah selalu memperhatikan dan tetap memberikan rahmat kepada hamba yang dipilih-Nya untuk kembali pada-Nya.

Memikirkan dosa saja saya sudah kalang kabut dan takut, tapi saya lebih percaya Kasih-Nya dibanding murka-Nya. Bukan tidak percaya, tapi memikirkan dosa hanya akan membuat saya semakin terpuruk dan merasa, “ Ah ya sudahlah, kagok sudah banyak dosa, sekalian aja”. Gak gitu, justru merasa punya dosa besar bikin saya malu kembali pada-Nya dan ngerasa insecure, layak gak sih pulang kembali padaNya?

Wallahualam, tapi saya berpegang pada firman Allah SWT dalam Al-Qur'an (QS. Az-Zumar: 53),

۞ قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Qul yā 'ibādiyallażīna asrafụ 'alā anfusihim lā taqnaṭụ mir raḥmatillāh, innallāha yagfiruż-żunụba jamī'ā, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: 

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jadi, selain fokus memperbaiki ibadah yang bersifat syariat, saya juga mulai fokus membangun bonding yang lebih dalam dengan Allah SWT. Menurut saya itu krusial karena, yang saya tahu, di sepanjang saya mempelajari islam sejak zaman STM hingga masuk banyak aliran, mempertanyakan eksistensi Tuhan bisa menjadi bagian dari proses perjalanan iman (spiritual journey).

So, saya paham betul definisi hijrah versi-nya Gita. Karena, definisi itu tidaklah tunggal, melainkan luas dan Gita yang skeptis pada label "Hijrah", sebetulnya secara tidak sadar sedang melakukan esensi dari hijrah itu sendiri.

Dalam kitab Aun al-Ma'bud, Syaams al-Haq Abadiy (merujuk pada penjelasan al-‘Alqamah) membagi perjalanan ini menjadi dua spektrum. Ada Hijrah Lahir, upaya fisik menjauh dari fitnah demi menyelamatkan iman yang di era sekarang, menurut Yusuf al-Qardhawiy, lebih tentang bagaimana kita bergabung dalam jamaah yang menegakkan nilai Islam di mana pun kita berada. 

Namun, ada jenis kedua yang jauh lebih menantang,  Hijrah Batin (hijrah al-qulub wa al-jawarih). Inilah peperangan mental untuk meninggalkan segala bentuk ajakan nafsu dan bisikan setan, sebuah kesadaran untuk berbalik arah dari kegelapan masa lalu menuju jalan cahaya.

Jika merujuk pada definisi hijrah al-qulub tadi, saya melihat bahwa apa yang dilakukan Gita sebenarnya adalah esensi dari hijrah itu sendiri. 

Ketika ia memutuskan berkerudung di tahun 2015 karena sadar akan kewajiban, ia sedang melakukan hijrah batin. Ia berkomitmen meninggalkan apa yang menghalanginya dari mengingat dan lebih dekat dengan Allah SWT. 

Jadi kalau bicara soal hijrah, Gita dan saya sama-sama sedang berproses dengan cara kami masing-masing. Kami mungkin punya titik henti dan kecepatan yang berbeda dalam memahami syariat, tapi kami punya napas yang sama dalam mencari kejujuran di hadapan Tuhan. Karena bukankah esensi dari menjadi hamba adalah terus berjalan, meski tertatih, menuju cahaya-Nya?

Ada Baiknya Kita Memahami Alasan di Balik POV Orang lain


Setelah mencoba membedah setiap alasan dan argumen yang dinilai kontroversi, terutama soal hijrah, akhirnya saya bisa memahami apa yang Gita dan Paul maksud tentang hijrah, bahwa hijrah bukan soal labeling agama tapi empati.

Bisa jadi, empati itu tidak akan pernah kita peroleh bahkan dari lingkaran terdekat, tapi kita perlu berproses, mengais setiap hikmah, menyatukan setiap kepingan hingga terbentuk jawaban dengan sendirinya.

Bisa jadi jawaban itu tidak terbentuk, tapi melalui proses pada akhirnya kita mengetahui apa peran kita di dunia ini, setelah sadar, disitulah clarity muncul.

Proses yang saya lalui bisa jadi ekstrem, tapi saya bersyukur bisa melalui proses kehidupan yang pasang surut dan lebih banyak surutnya dibanding pasangnya, tapi dengan demikian ketika menghadapi midlife crisis, saya bisa mencapai midlife clarity dengan baik.

And so, jika Mom memiliki orang terdekat yang tengah menghadapi krisis identitas, meragukan Tuhan dan depresi klinis, rangkul dan jemput hatinya, berikan ruang validasi dan genggam erat tangannya.

Seperti halnya saya melihat ketidaksukaan Gita pada label hijrah sebenarnya adalah bentuk empati yang besar. Dia ingin proses kembali pada Tuhan itu dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan karena tuntutan sosial.

Dan dari pengalaman saya sendiri, saya belajar bahwa iman sejati justru sering ditemukan di titik-titik paling rapuh, saat kita berani jujur dengan segala keraguan kita, persis seperti yang sering Gita suarakan: jadilah kritis, jadilah jujur, dan berhentilah berpura-pura atau menyangkal demi validasi.

Bagaimana dengan Gita? Entahlah, saya yakin dia punya cara sendiri bagaimana berproses kembali pada-Nya. 

One thing for sure, Gita yang sekarang sukses besar sebagai influencer dan owner produk skincare bertajuk MOIN, punya cara sendiri menjalani hidup, mencintai diri sendiri dan berbuat kebaikan melalui caranya sendiri sebagai influencer dan pemilik brand skincare. 

Epilog: Memilih untuk Memilah


Channel Youtube Gitasav adalah bagian dari bagaimana saya berproses kembali pada Allah SWT. Rentang waktunya memang cukup lama dari sejak pertama mengenal Gita pada tahun 2021 hingga sekarang, ya namanya juga proses, bukan tahu bulat yang prosesnya dadakan. 

Entah opininya kontroversi atau tidak, apapun statement yang diberikan Gita, nyatanya memberikan saya jendela yang terbuka lebar untuk melihat dunia dan hal apapun dengan lebih kritis dan jelas.

Tentu saja, channel Youtube Gitasav bukanlah aktor tunggal dalam proses kembali saya pada keimanan, dibantu dengan channel Youtube Pandjie dalam segmen Putbal bersama Ust Felix juga banyak membantu, terutama pembahasan tentang Qadha & Qadar dan Bagaimana Mencari Hidayah.

Siraman rohani offline yang kerap saya kunjungi juga punya peran yang sama, hadir disana dan mendengar ustad atau ustadzah memberikan materi ketauhidan, membuat hati saya merana dan rapuh karena sadar, betapa Allah SWT Maha penyayang.

Menjadi kritis dan ragu bukan berarti menjauh dari Tuhan, tapi bisa jadi itu adalah cara terjujur untuk pulang, karena Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT telah menuliskan sebuah ketetapan di atas Arsy-Nya:

نَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

"Inna rahmati sabaqat ghadhabi."

Artinya: "Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku." 
(HR. Bukhari no. 7404 & Muslim no. 2751).


Lantas, apakah saya menyesali masa lalu? Tidak. Sama sekali tidak.

Alhamdulillah, setelah semua proses panjang itu saya lalui, meski baru benar-benar mencapainya di usia 40 tahun, saya mulai bisa menerima hidup saya apa adanya (it is what it is).

Saya tidak hanya memaafkan keluarga saya, tapi juga menerima mereka lengkap dengan paket “toxic”-nya. Saya kini lebih bisa memahami alasan di balik mengapa mereka bisa bersikap demikian; bahwa mereka pun sebenarnya adalah korban dari rantai trauma yang belum sempat terputus.

Hubungan kami pun berangsur membaik. Saya sangat bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berbakti, meski dengan cara saya sendiri.

Mom, I know how hard your life has been and how hard you’ve struggled since you were a kid. Dad, I know how hard it is for you to stand up in this difficult life. Thank you so much for giving me the best of your lives for me. Stay healthy, and may Allah SWT always protect you and shower both of you with His blessings.

Gita, thank you. Semoga Allah SWT selalau menyertai dan meridhoi setiap langkahmu agar lebih dekat dengan-Nya.
 

Referensi 
  • Bukhari, I. (n.d.). Shahih Bukhari: Kitab Tauhid (Hadits No. 7404). Al-Qur'an dan Hadits Online.
  • Devi, G. S. (n.d.). Gita Savitri Devi Official YouTube Channel. https://www.youtube.com/@GitaSavitriDevi
  • Devi, G. S. (n.d.). Gita Savitri Devi Official Instagram. https://www.instagram.com/gitasav/
  • Devi, G. S. (2018, 11 Maret). Boundaries: Pentingnya Memiliki Batasan. YouTube.
  • Kemenag RI. (n.d.). Surah Az-Zumar Ayat 53. Al-Qur'an dan Terjemahannya.
  • Muslim, I. (n.d.). Shahih Muslim: Kitab Iman, Sub-Bab Bayan al-Waswasah fi al-Iman (Hadits No. 132). Al-Qur'an dan Hadits Online.
  • Ghufron, M., Aprillindra, C., Putri, S. V., & Jendri, J. (2025). Tafsir Ayat Al-Qur’an Tentang Hijrah. Reflection: Islamic Education Journal, 2(1), 114-126. https://doi.org/10.61132/reflection.v2i1.404
  • Pragiwaksono, P. (n.d.). Segmen Putbal (Putar Balik) bersama Ust. Felix Siauw. YouTube.
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar