mamajokaa food blogger bandung

The Art of Noticing: Cara Saya Terkoneksi Dengan Diri sebagai Upaya Merasa Lebih Hidup

The Art of Noticing: Cara Saya Terkoneksi Dengan Diri sebagai Upaya Merasa Lebih Hidup

Apakah akhir - akhir Moms merasa hidup terasa bosan dan melelahkan? Mengalami Midlife crisis? Mungkin ini saatnya moms  “merasa lebih hidup” dengan kembali terkoneksi dengan diri sendiri. 

Udah mirip iklan obat sakit kepala ya, hehe. Tapi seriusan, kalau akhir - akhir ini Mom ngerasa kek stuck dan life is boring, merasa hilang jati diri meski udah usia 40 plus, coba deh terkoneksi dengan diri lagi. 

Apa korelasinya antara merasa lebih hidup dengan terkoneksi dengan diri?

Korelasinya sebab-akibat.  Dengan terkoneksi dengan diri, kita bisa merasa hidup makin hidup, hidup yang menyala abangku!

Saat terhubung dengan diri, kita bisa menyadari emosi yang kita rasakan tuh sebetulnya apa.  Hal ini membuat momen kehidupan terasa lebih bermakna dan tidak sekadar melewati hari secara "otomatis".

Terkoneksi dengan diri juga membantu kita memahami apa yang benar-benar kita yakini dan inginkan. Saat kita mampu bertindak sesuai dengan "asli"-nya kita, kita akan merasa lebih berenergi, bersemangat, dan "hidup".

Apa yang akan terjadi ketika kita merasa down atau galau khas Midlife crisis tapi tidak melihat kedalam diri? Biasanya yang terjadi adalah, mencari validasi dari luar (media sosial atau pendapat orang lain) yang endingnya memicu perbandingan diri, dan ini melelahkan, gak bikin tenang. 

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk terkoneksi dengan diri, sebagian dari kita mungkin melakukan journaling, membaca buku, me time atau bahkan naik wahana roller coaster dan nonton film thriller hanya agar hidup terasa lebih hidup. 

Journaling adalah salah satu cara mudah untuk terkoneksi dengan diri karena, kita "dipaksa" ngomong sama diri sendiri, "Maunya aku tuh apa sih?",  Mungkin jawabannya gak langsung muncul, tapi bisa mengurai emosi yang semrawut karena udah curhat. 

Journaling juga ampuh  dalam menyelesaikan Midlife crisis, karena gak hanya curhat tapi juga mengurai alasan mengapa merasa ini dan itu lantas dicari solusinya. Dengan cara ini, kita udah auto terkoneksi dengan diri dan memperoleh clarity atau hidup yang terasa hidup. 

Tapi, karena saya pemalas yang padahal dulunya rajin journaling, saya punya cara lain untuk terkoneksi dengan diri terlebih ketika saya menghadapi burnout atau stres kronis. Caranya ada dua, yaitu hard-reset-emotion dan melakukan praktik MindfulnessThe art of noticing. 

Sama halnya dengan journaling, hard-reset-emotion dan The art of noticing sama-sama melihat ke dalam diri, mengenal emosi dan mengurainya lantas dicari solusinya. Bedanya, cara saya tidak dilakukan dengan "menulis" melainkan bergerak. Menarik kaan? Bergerak tapi bisa Mindfulness? Bisa merasakan hidup yang lebih hidup? Bisa dong. 

Perjalanan Menemukan The Art of Noticing, Cara Saya Terkoneksi Dengan Diri


Tahun 2009, adalah tahun pertama saya mengenal The art of Noticing

Tahun itu saya memutuskan kuliah lagi setelah lima tahun meninggalkan dunia akademik dan menjadi budak korporat pasca lulus Diploma III Pertanian. Saya mengambil jurusan yang berbeda namun masih fakultas yang sama, saya mengambil jurusan Arsitektur Lansekap.

Keputusan yang cukup berani kala itu karena saya masih bekerja (yang jika dipikir ulang, jabatan dan salary yang terima lebih dari cukup), tapi tetap saya ambil kuliah lagi karena saya mengalami quarter life crisis yang terasa awokwow.

Terjebak antara tekanan yang semakin berat di pekerjaan sebagai manajer cabang, trauma inner child yang kerap menghantui dan masalah keluarga yang tak kunjung usai, menyebabkan saya hilang arah dan bingung, what am i supposed to with my life? Who am i?

Galau paling tak nyaman, seakan hidup berputar di satu titik dan sulit keluar, maju salah mundur kena. Bingung kan? Jadi, membuat keputusan ekstrem tampak seperti fast-exit untuk saya.

Mengalami quarter life crisis kok ambil kuliah lagi Buu? Why?  

Mengambil kuliah lagi di tengah quarter life crisis yang wadidaw bagi saya bukanlah cara untuk mencari kesibukan, melainkan sebuah upaya untuk mencari identitas diri.

Lantas setelah kuliah arsitektur lansekap apakah quarter life crisis yang saya alami terselesaikan? Ya tidak sepenuhnya, but at least saya menemukan dunia baru dan mencoba menemukan tempat saya di dunia ini.

Satu hal yang menjadi turning point bagi saya adalah, mata kuliah desain.

Di Awal kuliah, dosen saya berkata, “Untuk memahami desain, kamu harus bisa melihat hal - hal kecil disekitar kamu, bertanya mengapa dan bagaimana

Saya mengerutkan dahi, tak paham, apa sih ini? Pikiran saya terlalu rumit dengan personal issue yang saya pikul bertahun tahun hingga sulit memahami hal sesederhana itu. Udah overload nih otak kek-nya ya.

Coba perhatikan pohon dadap merah, perhatikan warna bunganya yang merah, cantik merona dengan kulit mahkota seperti beludru. Cabangnya yang berbentuk tidak karuan mencuat kemana mana, seakan menjangkau harapan, daunnya yang pendek tapi gemuk berisi seakan hati kita ikut penuh dan tekstur kulit batang yang tak kasar tak juga halus, seakan nikmat dipeluk. Coba lihat bayangan pohon itu di atas tanah ketika matahari berada di atas kepala kita, bentuknya indah sekali. “ ucap dosen saya,

Ah, mulai terbayang meski belum menemukan, “Ini indahnya disebelah mana sih?”

Jika sulit membayangkan pohon, coba lihat pulpen ini. Lihat dengan seksama batang nya yang lurus tapi tidak polos, batangnya berbentuk segi enam memanjang. Kenapa harus segi enam memanjang? Lalu tutupnya, kenapa harus runcing di atas dan memanjang asimetris di salah satu ujungnya? Lalu perhatikan, mengapa bagian bawahnya memiliki tutup berulir dan bergerigi?” Lanjut dosen saya. 

Desain bukan soal bentuk saja, tapi juga fungsi, dan setiap fungsi harus memiliki nilai keindahan” Ucap dosen di akhir matkul. 

Aaahhh saya paham.

Sejak saat itu, saya mulai berlatih menangkap hal-hal kecil yang biasanya terlewat begitu saja. Selain karena ternyata emang ada keindahan disana,  tapi juga karena memperhatikan detail adalah bagian dari kemampuan dalam mendesain. Jadi ya, ini kemampuan yang awalnya memang dipaksakan. 

Saya ingat ketika pertama kalinya melakukan noticing, saya duduk santai menikmati es krim di bawah pohon taman kampus menunggu matkul selanjutnya.

Saya coba inhale-exhale dan mulai memperhatikan sekitar. Saya terpaku melihat ujung-ujung daun yang berkilau, memantulkan cahaya matahari sore yang hangat dan keemasan. Beautiful feeling, indeed.

Pandangan saya terus berkelana, mengagumi tekstur batang pohon yang ternyata begitu artistik, melihat kupu-kupu yang mendadak hinggap, hingga menghirup aroma rumput basah sisa hujan yang menyeruak. Di seberang sana, keriuhan teman-teman yang sedang mengobrol terdengar seperti latar musik yang pas. Saat udara segar sekaligus hangat itu menerpa wajah, di situlah saya tertegun. Detik itu juga, saya merasa benar-benar........hidup.

komorebi jepang
Memperhatikan daun yang diterpa sinar matahari, memberikan perasaan hangat dan damai, di Jepang, "kegiatan" ini disebut komorebi.


Itulah momen di mana saya benar-benar bisa merasakan apa yang dimaksud dosen saya, melihat keindahan pada hal kecil, sederhana dan tampak remeh. Lebih dari sekadar mengagumi hal kecil, memperhatikan hal kecil membuat saya bisa merasakan kehadiran diri saya sendiri di dunia ini. 

Terkoneksi dengan diri? Bisa dikatakan demikian. Saya merasa akhirnya punya ruang untuk lebih mengenal diri tanpa harus terburu-buru mengejar apapun meski yaaa bel matkul selanjutnya keep running ya.

Lucunya, kebiasan itu gak hanya jadi kebiasaan conditional, tapi jadi kebiasaan yang auto

Waktu berjalan sudah 16 tahun berlalu sejak saat itu, kebiasaan memperhatikan hal kecil telah menjadi bagian hidup saya saat ini. Secara tak sadar entah ketika sedang menunggu anak di sekolah, mengantri di kasir, berjalan-jalan di trotoar kota atau bahkan ketika menjemur pakaian, mata saya auto aja gitu memperhatikan hal kecil di sekitar saya.

Entah memperhatikan si Mba kasir yang berdandan cantik melayani konsumen, layout produk di minimarket, pop promo yang menarik, anak tantrum minta dibeliin coklat, daun yang bergerak karena angin, layangan yang terbang di langit, awan berarak, bahkan jemuran, sandal atau apapun yang menarik perhatian saya. 

Tak ada arti atau nyari makna yang dalam, hanya melihat saja menikmati pemandangan detail yang terlihat. Somehow, cara ini meski sederhana dan singkat, saya terkoneksi dengan diri.

Bahkan, “ritual” ini menjadi penyelamat setiap kali rutinitas harian terasa wadidaw. Biasanya saya rutin jalan kaki setiap pagi atau sore, tapi jika malas yaaa duduk di teras sambil ditemani mochi atau munaroh, kedua kucing saya.

Rute jalan kaki pun tidak jauh, hanya sekitar 1,5 km menuju taman ditemani playlist musik post rock dan kpop yang ceria tapi sendu dan headphone kesayangan, hadiah lomba tulis Astra 2025. Lelah emosional-pun  melebur bersama tarian daun diterpa angin, kepak burung, atau cuaca mendung-cerah favorit saya dan  ribuan langkah kaki dari rumah ke taman, dan kembali ke rumah. 

Terkadang, ketika saya mulai galau gak jelas, saya kembali melakukan hard-reset-emotion, dan jalan kaki sambil memperhatikan hal kecil, hal ini membantu me-release pergulatan emosional yang dengan sengaja saya jatuhkan dalam prosesnya sebelum melakukan deep clean emotion malam harinya lewat tahajud.

Tapi kalau lelahnya gak yang cape - cape amat, cuma cape fisik karena aktivitas domestik, atau selesai membimbing anak ujian selama 2 minggu, ya saya hanya butuh healing atau me time biasa yang gak perlu menyalakan filsafat mode-on, cukup rebahan, makan enak, nonton film di IMAX atau nongkrong di cafe sendirian. 

Saya tak pernah keberatan jika harus duduk sendirian di kafe, melamun di taman, atau menyusuri hiruk-pikuk kota menuju toko buku kesayangan. 

Bagi saya, kesendirian adalah me time atau healing terbaik karena terasa menenangkan. Sebab, The art of noticing yang saya praktekan secara auto, bikin saya  merasa hidup dan 'hadir' sepenuhnya di tengah harmoni manusia dan alam yang selalu ada di sana.Energi saya kembali begitu juga semangat dan pikiran yang lebih jernih. 

Noticing juga membantu saya berhasil melewati badai midlife crisis dan akhirnya mencapai titik Midlife clarity, ritual memperhatikan hal-hal kecil ini membuat hidup yang saya jalani terasa jauh lebih bermakna. Pola pikir saya kini sudah jauh berbeda, dunia tak lagi terlihat abu-abu atau terburu-buru. Segalanya tampak begitu jelas, begitu nyata, dan begitu hidup.

Sebetulnya, kita gak harus selalu memaknai setiap "penglihatan", terus jadi ber-filsafat mode on. 

Memperhatikan hal kecil bukan berarti "harus" selalu mengunjungi taman dan duduk dibawah pohon terus noticing, ketika kita duduk santai di cafe, berjalan - jalan ditengah kota, berada di bank sambil nunggu antrean atau menghadiri rapat sekolah bahkan, sambil duduk bareng pasangan sambil seruput teh panas dan bala-bala juga bisa.

Biasanya, kalau diluar mengunjungi taman sembari jalan kaki, saya memperhatikan hal - hal yag "gak penting", seperti bentuk kursi, bentuk gelas, desain interior ruangan bahkan posisi pot atau pemilihan jenis tanaman indoor. Ya mungkin ya kebiasaan dulu waktu kuliah mendesain ruang jadi kebawa sampai sekarang, hehe. 

Kadang saya juga memperhatikan hal-hal yang lucu, misal kucing yang posisi duduknya lucu, melihat ekspresi bapak-bapak yang kaget karena suara klakson, atau bahkan sekadar memperhatikan bentuk awan yang mirip paha ayam goreng saat saya lagi lapar-laparnya.

Hal-hal receh ini nggak butuh perenungan mendalam sampai harus nunggu dapet wangsit. The art of noticing juga tentang memberikan ruang bagi diri kita untuk tertawa pada absurdnya dunia, "Wah, ternyata dunia itu lucu ya".


noticing the small things
Mindfulness "noticing" ala mamajokaa, saya paling suka memperhatikan daun diatas pohon yangbergerak karena angin dan diterpa sinar matahari, objek tiang listrik, tanaman liar, sendirian di cafe sambil menggambar dan mengambil foto sepatu diatas aspal. (gambar : dok, pribadi)

The Art of Noticing, Praktek Nyata Mindfulness


Dikarenakan rasa ingin tahu saya selalu tinggi, maka saya-pun mencari tahu, sebetulnya ritual noticing yang sering saya lakukan ini ada istilahnya gak sih secara psikologis? Setelah saya cari tahu, Mindfulness, adalah istilah yang paling tepat mewakili.

Tapi bicara soal mindfulness, ruang lingkupnya luar biasa besar. Terlebih jika melihat definisi awalnya yang diperkenalkan oleh Jon Kabat-Zinn pada tahun 70-an, mindfulness merupakan sebuah keterampilan kognitif untuk mempertahankan kesadaran metakognitif terhadap isi pikiran dan sensasi tubuh kita.

Dewasa ini, mindfulness telah bertransformasi dari teknik klinis menjadi sebuah gaya hidup tenang. Kita mengenalnya lewat ritual mindful eating, mindful reading, hingga mindful walking yang menurut Jon Kabat-Zinn adalah ritual-ritual mindfulness informal.

To be honest, bagi saya menerapkan gaya hidup mindfulness dirasa terlalu berat dan terlalu serius. Terlebih, saya enggan FOMO dengan gaya hidup yang diikuti banyak netizen secara berbondong-bondong padahal saya gak paham maksudnya apa.

Ya sudah, lakukan saja tanpa menyebut istilah.”, yaaah bisa saja, tapi untuk memahami lebih dalam dan karena saya selalu kepo berat tentang hal apapun, akhirnya saya cari tahu juga, kebiasaan saya memperhatikan hal kecil ini disebut apa.

Istilah mindfulness-lah yang paling mendekati karena akar dari mindfulness adalah menghadirkan kesadaran untuk membawa perhatian penuh pada momen saat ini (present moment) secara sengaja, terbuka, mengamati diri dan lingkungan.

Wow!! Definisinya sesuai nih dengan noticing ala mamajokaa.

Tapi, ketika saya menelusuri remah roti soal mindfulness ini, saya menemukan istilah lain yang berjalan beriringan dengan mindfulness tapi memiliki pendekatan yang berbeda, The art of noticing.

Diperkenalkan oleh Rob Walker melalui bukunya bertajuk, The Art of Noticing: 131 Ways to Spark Creativity, Find Inspiration, and Discover Joy in the Everyday, praktik ini mengajak kita merebut kembali hak kita untuk memperhatikan dunia sekitar.

Siapakah Rob Walker? 


Rob Walker, adalah seorang jurnalis, penulis, dan pendidik asal Amerika Serikat yang terkenal melalui bukunya The Art of Noticing (2019). Buku dan buletin Substack-nya berfokus pada kreativitas, perhatian, dan cara menemukan inspirasi dalam keseharian dengan memperhatikan hal-hal yang sering diabaikan. 

Dikutip dari Wikipedia, Rob Walker telah menulis dan bekerja sebagai editor di berbagai publikasi seperti The New York Times, The New York Times Magazine, Slate, Money, The Atlantic, Design Observer, dan The American Lawyer.

Rob Walker, penulis buku The Art of Noticing
Rob Walker, penulis buku The Art of Noticing (Sumber : Wikipedia)

Buku The Art of Noticing
Buku The Art of Noticing


Rob Walker adalah lulusan University of Texas di Austin. Meskipun latar belakang pendidikannya adalah jurnalisme, kariernya yang panjang sebagai kolumnis di The New York Times Magazine (khususnya kolom "Consumed") menjadikannya seorang ahli dalam membaca perilaku konsumen dan objek fisik.

Walker juga merupakan salah satu  staf pengajar  program MFA Products of Design di School of Visual Arts.  Loh? Latar belakang pendidikan kok bisa ngajar desain?

Jadi, dikutip dari profil fakultas di SVA, Rob Walker direkrut sejak tahun 2013 untuk mengajar di program MFA Products of Design

Rob Walker bisa jadi dosen di School of Visual Arts (SVA) New York bukan karena dia bisa gambar atau bikin produk, tapi karena keahlian spesifiknya sebagai jurnalis dalam melakukan observasi tajam. Rob Walker diminta mengajar di sana karena para calon desainer perlu belajar cara "melihat dunia dengan mata yang berbeda" sebelum mereka menciptakan sesuatu.

Saya pun heran, mengapa seorang jurnalis tetiba menulis terkait mental health.

Setelah saya menonton tayangan Youtube di channel School Visual of Arts yang menayangkan kuliah bersama Rob Walker di fakultas SVA bertajuk : Rob Walker on "The art of Noticing" , The Fourth Annual Phill Patton Lecture, Masters in Design Research Writting and Critism, saya menemukan beberapa fakta menarik terkait lahirnya buku The Art of Noticing

Bertahun-tahun menulis tentang "barang" dan "tren" di kolom Consumed, Walker menyadari bahwa manusia modern cenderung membeli barang atau mengikuti tren hanya untuk merasa "hidup," padahal mereka kehilangan kemampuan dasar untuk melihat apa yang sudah ada di depan mata.

Walker merasa kita hidup di era di mana perhatian kita "dicuri" oleh algoritma dan layar. Karena dia mengajar di program MFA Products of Design, dia sering berinteraksi dengan desainer yang harus punya mata tajam terhadap detail. Dia menyadari bahwa kemampuan untuk "melihat" adalah sebuah otot yang bisa dilatih oleh siapa saja, bukan cuma seniman.

Pendidikan jurnalisme dan pengalamannya sebagai dosen di School of Visual Arts (SVA) membuatnya ingin menciptakan "perlawanan" kecil. Bukunya bukan tentang meditasi duduk diam, melainkan cara aktif untuk merebut kembali perhatian kita melalui pengamatan.

Dasar-Dasar The Art of Noticing: Bukan Sekadar Melihat, tapi Menyadari


Sebetulnya, Mindfulness dan The art of noticing adalah dua konsep yang sangat berkaitan erat bahkan sering dianggap sebagai bagian dari satu sama lain, namun memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda. Secara sederhana, Mindfulness adalah keadaan mental/kesadaran, sedangkan The art of noticing adalah tindakan praktis untuk mencapai keadaan tersebut.

Dalam kuliah umumnya, Rob menegaskan bahwa alasan terbesar ia menulis buku ini, selain karena tugas-tugas unik yang ia berikan kepada mahasiswa desainnya, alasan lainnya adalah keresahannya terhadap distraksi teknologi. 

Rob melihat bahwa kita hidup di era attention economy, di mana perhatian kita terus-menerus "dicuri" oleh algoritma dan praktik noticing lahir sebagai perlawanan untuk merebut kembali kendali atas pikiran kita sendiri.

Definisi The art of noticing
Definisi The art of noticing (Sumber gambar : Pinterest di edit menggunakan Canva)


Lima Tahap Praktik The Art of Noticing 


Praktik noticing, sebetulnya sudah sering kita lakukan ketika journaling, duduk di angkot, bengong di cafe atau nunggu janjian dengan teman. Tapi kita gak sadar sudah melakukan itu. 

Nah untuk Mom yang ingin in-dept dengan praktik midfulness yang satu ini, dalam bukunya Rob Walker membagi praktik The Art of Noticing kedalam lima pilar utama yang bisa dengan mudah kita coba, yaitu :


1. Looking (Melihat)


Dasar pertama noticing adalah melatih mata untuk benar-benar melihat, bukan sekadar melirik. Bayangkanlah diri kita sebagai "turis" atau tamu yang melihat keadaan sekitar dan kepo dengan banyak hal. 

Tujuannya agar kita bisa melihat keajaiban dalam hal sepele yang biasanya dianggap angin lalu oleh otak yang sedang mode autopilot. Dengan cara ini, "bengong"-nya kita di cafe, nunggu teman atau bahkan di angkot tidak akan terasa membosankan, bahkan terasa lebih bermakna. 

Kalau pengen melihat lebih jauh dan deep, bisa coba teknik Komorebi (木漏れ日) ala jepang, dengan memperhatikan dengan seksama ujung daun yang tertempa sinar matahai atau sorot matahari yang mencuri masuk lewat dedaunan diatas pohon. 

Dan langkah ini-lah yang pertama kali saya lakukan ketika mulai memperhatikan hal-hal kecil, melihat dengan seksama setiap hal. Melihat dengan seksama artinya, mengajak mata dan pikiran "kerjasama" fokus pada hal-hal yang mendetail pada benda atau mahkluk. 

Misal,  ketika duduk saya perhatikan gelas belimbing, "Kenapa bagian bawahnya mengecil dan harus bergelombang?" atau ketika jalan-jalan ke Braga terus melihat kotak pos jadul dan merasa terkesima dengan itu.


2. Sensing (Merasakan)


Bukan cuma mata, noticing juga melibatkan seluruh indra. Sensing artinya, menyentuh. Apa yang disentuh? Jika saya sedang memperhatikan rumput atau batang pohon, maka saya pegang dan sentuh seluruh bagiannya, saya rasakan rumput diseluruh jemari dan kasarnya batang pohon di telapak tangan.

Berbeda dengan menyentuh gelas, biasanya kalau jalan-jalan ke taman saya dengan sengaja menyentuh pohon, merasakan permukaannya yang kasr dan tenksturnya yang unik. Begitu juga dengan daun dan ranting.

Dalam psikologis, hal ini disebut juga grounding, kita menyatu dengan alam, menyentuh dan merasakan, termasuk telanjang kaki diatas rumput atau aspal. 

Grounding, salah satu metode The art of noticing
Grounding menyentuh rumput dan batang pohon, salah satu metode The art of noticing (Sumber gambar : Pinterest di edit menggunakan Canva)


3. Going Places (Mendatangi Tempat)


Intinya adalah mengubah cara kita berpindah tempat. Alih-alih berjalan dari poin A ke B secara linear dan terburu-buru, kita diajak untuk mengeksplorasi rute dengan kacamata baru. Mencari yang "lain dari biasanya" (the unusual) di tempat-tempat yang sudah biasa kita datangi agar otak tetap segar dan waspada. Yes, seperti jalan kaki sambil olahraga ke aman, ke toko buku atau mengunjungi sahabat lama. 


Praktik mindfulness "The art of noticing"
Praktik mindfulness "The art of noticing" yang bisa dilakukan, melihat, merasakan dan mengunjungi tempat favorite. (Sumber gambar : Pinterest di edit menggunakan Canva dan dok, pribadi)



4. Connecting with Others (Terkoneksi dengan Orang Lain)


Noticing juga soal bagaimana kita memperhatikan manusia di sekitar dan  keluar dari "gelembung" diri sendiri serta mulai menyadari kehadiran orang lain. 

Caranya? Perhatikan detail-detail kecil seperti mendengar potongan percakapan atau memperhatikan ekspresi orang di transportasi umum sebagai pengingat bahwa kita adalah bagian dari dunia yang luas.

Connecting with others ini yang paling bikin saya merasa lebih "hidup"  dan merasakan kehadiran saya di dunia ini. 

Saya perhatikan ekspresi wajah, dan menebak apa yang sedang dipikrkan atau rasakan. Terkadang saya juga melihat kaum papa dan disanalah nurani saya bergerak, mendoakan atau bersedekah jika mampu.

Sayangnya, karena kebiasaan noticing ini begitu kuat, saya kesulitan ketika mengunjungi pasar atau pasar kaget. Terlalu banyak informasi yang "harus" saya terima dan filter, hasilnya, pulang dari pasar saya sakit kepala dan mual. 


5. Being Alone (Menikmati Kesendirian)


Terakhir adalah belajar hadir secara utuh saat sendirian tanpa pelarian ke teknologi. Bagian ini mengajarkan kita untuk tidak takut pada kebosanan. Dengan memperhatikan detail kecil saat sedang sendiri, kita sebenarnya sedang melatih jarak pandang yang sehat terhadap pikiran kita sendiri agar tidak terjebak dalam overthinking.

Duduk sendiri ditaman atau cafe sambil bengong? Wht not" Banyak banget yang bisa diperhatikan, lingkungan, pelayan, interior, bahkan kopinya. Sambil seruput sugar brown coffee latte, merasakan aroma kopi dan udara segar , saya menarik nafas merasakan ruang untuk saya sendiri dan merasa "hidup" dengan sendirinya. 


Dasar dari The Art of Noticing bukan tentang menjadi pintar atau puitis, tapi tentang menjadi hadir secara utuh. Dengan melatih kembali otot perhatian dan melewati tahap-tahap tersebut, kita sedang memberitahu diri sendiri bahwa dunia ini masih memiliki banyak kejutan yang layak dinikmati di luar layar ponsel kita.


Kenapa Memperhatikan Hal Kecil Bikin Hidup Terasa “Hidup”? Berikut Alasan Ilmiahnya


Saya-pun penasaran, kenapa dengan memperhatikan hal kecil bisa membuat saya merasa tenang dan terkoneksi dengan diri sendiri, gak lagi misuh soal kesibukan sehari-hari dan lebih slow.

Praktek mindfulness yang satu ini, secara nyata memang memberikan dampak positif yang cukup besar terhadap kesehatan mental. Berikut beberapa riset ilmiah yang mendukung apa yang saya rasakan ketika dan setelah memperhatikan hal kecil atau The art of noticing.

1. Pikiran yang Tenang dan Melambat


Saat saya memperhatikan pola cahaya di lantai atau tekstur daun, fokus saya berpindah dari pikiran yang rumit seperti benang kusut, mendadak sunyi, dan waktu terasa berjalan lebih lambat. 

Hal ini pun membuat pikiran menjadi lebih tenang. Ibarat gerah diguyur air seember secara tiba-tiba, agak shock tapi efeknya bikin seger kan?

Kondisi yang saya rasakan sejalan dengan protokol Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) yang dikembangkan oleh Jon Kabat-Zinn yang secara neurologis, noticing mampu mengalihkan otak dari Default Mode Network (DMN) area yang menurut riset Harvard Medical School bertanggung jawab saat kita terjebak dalam overthinking.

Secara teknis, Default Mode Network (DMN) adalah jaringan luas yang melibatkan beberapa area di otak, terutama di bagian medial prefrontal cortex (bagian depan) dan posterior cingulate cortex (bagian tengah belakang).

DMN ini ibarat mesin 'autopilot' di otak yang terus-menerus memutar ulang rekaman masa lalu atau kecemasan masa depan.

Nah, saat saya mempraktikkan The art of noticing, saya seolah-olah 'mematikan' paksa mesin autopilot tadi dan menarik kesadaran kembali ke kemudi. Fokus dipaksa mendarat di apa yang ada di depan mata sekarang, sehingga otak berhenti berandai-andai dan beralih menuju kesadaran penuh pada masa kini.


Lokasi jaringan Default Mode Network (DMN) di otak manusia
Lokasi jaringan Default Mode Network (DMN) di otak manusia


2. Perasaan Lega karena Rasa Kagum yang Menurunkan Ego


Ada perasaan lega yang aneh saat saya menyadari dunia ini begitu luas dan penuh detail indah. Saat saya mulai memperhatikan dan merasa kagum, bagaimana semut-semut berbaris rapi di retakan semen atau batang pohon, melihat cara air hujan tertahan di ujung helai daun, saya merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam diri.

Hal-hal ini tetap berjalan dan berfungsi dengan baik tanpa butuh campur tangan saya, ini cara Tuhan bekerja memperlihatkan kekuasaanNya pada manusia.

Melihat keteraturan pada hal yang paling sepele seperti itu membuat saya sadar bahwa hidup tetap berjalan meskipun saya tidak memegang kendali atas segalanya. Kelegaan yang saya rasakan lahir dari rasa kagum yang semakin terasa sempurna ketika mengucap, “Subhanallah”.

Bicara soal rasa kagum atau takjub, dikutip dari situs enotes, pada tahun 1757, lahir sebuah revolusi dalam pemahaman tentang rasa kagum yang dimulai berkat filsuf Irlandia bernama Edmund Burke.

Hal ini sejalan dengan riset Dacher Keltner dalam bukunya Awe, yang menjelaskan tentang fenomena Small Self.

Secara teknis, saat kita merasakan ketakjuban bahkan pada level mikronya (Micro-Awe) aktivitas pada jaringan yang memproses fokus diri sendiri akan menurun. Ketika ego atau "si aku" ini mereda, beban pikiran yang tadinya terasa raksasa mendadak jadi lebih proporsional. Saya tidak lagi merasa menjadi pusat dari masalah, melainkan bagian kecil dari harmoni yang jauh lebih besar.


Dacher Keltner dan bukunya Awe
Dacher Keltner dan bukunya Awe

3. Terkoneksi Dengan Diri


Terkoneksi dengan diri adalah hal yang paling krusial ketika saya memperhatikan hal kecil, kok bisa? Saat saya fokus mengamati detail kecil, katakanlah butiran debu yang menari di bawah sorot lampu atau urat-urat pada selembar daun, secara tidak sadar, sebenarnya saya sedang melatih jarak pandang.

Di momen itu, saya bukan lagi subjek yang lagi "babak belur" karena life crisis atau galau karena tongpes, melainkan pengamat yang sedang menyaksikan sebuah fenomena.

Ajaibnya, saya yang berubah peran menjadi pengamat alam, perlahan menular menjadi pengamat diri. Saya mulai bisa melihat emosi saya seperti objek yang saya amati tadi, sesuatu yang ada di sana dan nyata.

Proses "melihat dari jarak aman" inilah yang sebenarnya membuka pintu bagi saya untuk kembali terkoneksi dengan diri secara utuh.

Ketika jarak itu tercipta, Self-Awareness mendadak aktif, saya jadi tahu persis dimana titik lelah saya tanpa harus merasa bersalah. Saya mulai masuk ke fase Penerimaan Diri, dimana saya menerima kalau saat ini saya memang sedang cemas, sama seperti saya menerima fakta bahwa daun itu memiliki urat yang kasar.

Dari sini, muncul rasa Welas Asih (Self-Compassion). Saya jadi lebih bisa berbaik hati pada diri sendiri karena saya sadar bahwa emosi ini cuma bagian kecil dari diri saya, bukan seluruh identitas saya. Di sinilah saya menemukan "saya" yang tenang, yang berdiri tegak di balik rumitnya pikiran dan mood yang berantakan.

Apa yang saya lakukan, terkoneksi dengan diri dengan memperhatikan hal kecil, secara ilmiah disebut efek dari melakukan Cognitive Defusion yang dikembangkan oleh Steven C. Hayes dalam bukunya : Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

Praktik ini memposisikan kita seperti sosok Flâneur dalam esai Charles Baudelaire, di mana kita belajar "melihat" emosi dan diri kita dari jarak yang sehat, sehingga kita bisa terkoneksi kembali dengan jati diri kita tanpa terhanyut oleh label-label emosional.

Proses pengamatan hal kecil ini melatih fungsi eksekutif otak untuk beralih dari Experiential Fusion (kondisi di mana pikiran dan diri menyatu) ke arah kesadaran objektif. Ketika kita mengamati objek eksternal secara mendetail, otak mengaktifkan jalur saraf yang berbeda dengan jalur emosional yang reaktif.

Latihan "melihat" benda ini secara teknis memperkuat kemampuan kita untuk melakukan hal yang sama pada pikiran, kita tidak lagi tenggelam dalam narasi negatif tentang diri , melainkan sadar terhadap kehadiran emosi.

Steven C. Hayes dan buku Acceptance and Commitment Therapy (ACT).
Steven C. Hayes dan buku Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

4. Keluar dari Pola Hidup yang Monoton


Ritual ini memberikan kesegaran karena memaksa otak saya keluar dari cara berpikir linear yang sering kali menjebak dalam looping masalah hidup yang itu-itu saja.

Edward de Bono dalam bukunya Lateral Thinking memvalidasi bahwa memperhatikan detail yang biasanya diabaikan melatih otak untuk menemukan perspektif baru di tengah rutinitas yang menyesakkan.

Jadi, secara ilmiah, The art of noticing efektif mengatasi krisis hidup karena ia mampu menonaktifkan mode autopilot otak (Default Mode Network) yang memicu overthinking, lalu menggantinya dengan rasa takjub (small self) yang mengecilkan ego serta beban masalah.

Melalui latihan mengamati detail kecil, kita sebenarnya sedang melatih teknik cognitive defusion, sebuah kemampuan untuk menciptakan jarak sehat antara diri kita dengan emosi yang sedang kalut, sehingga kita tidak lagi terhanyut oleh label negatif, melainkan kembali terkoneksi dengan jati diri yang lebih tenang, objektif, dan welas asih.


Quote noticing the small things
Quote noticing the small things (sumber gambar : Pinterest)

Akhir Kata


Tarik napas dulu setelah mencapai ke-2.433 kata di artikel ini. Wow ya, hehe. 

Tulisan kali ini cukup panjang ya, karena membahas topik The Art of Noticing memberikan excitement tersendiri bagi saya. Menyuntingnya menjadi 1.200 kata seolah menghilangkan esensi yang ingin saya bagikan. Jadi, terima kasih banyak sudah membaca hingga akhir.

The art of noting, menyadarkan saya bahwa hidup itu indah, lengkap dengan ketidaksempurnannya dan warna-warna yang ada di dalamnya. 

Sebetulnya, konsep The Art of Noticing ternyata juga sudah diterapkan diberbagai disipilin ilmu, tidak hanya desain, sepeti fotografi misalnya. 

Bagi para fotografer, noticing adalah harga mati. Hasil jepretan yang paling menyentuh justru seringkali bukan objek megah seperti menara Eiffel, melainkan hal-hal kecil yang remeh,  sisa embun di kaca jendela, atau cara jemuran tetangga bergoyang ditiup angin. Kamera hanyalah alat, tapi 'mata' yang menyadari keindahan itulah yang membuat gambar dan hidup terasa lebih bermakna

Bahkan, di Jepang noticing sudah menjadi bagian dari hidup mereka bertahun-tahun jauh sebelum Rob membuat buku Noticing. Terdapat banyak istilah yang mendekati noticing ala Walker, seperti Yutori (ゆとり), Komorebi (木漏れ日), Wabi-sabi (侘寂) dan Shinrin-yoku (森林浴).

Plot twist ter-gong adalah, saya baru “ngeh” kalau The art of noticing, sangat identik dengan konsep Tadabbur dan Tafakkur dalam islam, Masya Allah, bukan?

"Maka perhatikanlah tanda-tanda rahmat Allah..." (QS. Ar-Rum: 50)

The art of noticing adalah latihan praktis yang sejalan dengan perintah Allah SWT untuk Tafakur (berpikir tentang ciptaan) dan Tadabbur (menghayati makna). 

Dengan berhenti sejenak untuk memperhatikan detail urat daun atau butiran debu, atau tertawa karena tingkah laku lucu kucing, saya tidak hanya sedang terkoneksi dengan diri, tapi juga sedang menata ulang koneksi saya dengan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Agung yang memegang hidup saya tepat di atas skenario terbaik-Nya.


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia...'" (QS. Ali 'Imran: 190-191)


Semoga makrifat diri dengan memperhatikan hal kecil tidak hanya menjadi cara untuk terkoneksi dengan diri sendiri, tapi juga menjadi jembatan untuk lebih dekat kepada-Nya. Karena saat kita mencoba melangkah untuk mengenali-Nya kembali, Dia akan menyambut kita dengan luar biasa:


"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku... Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendatangiNya dengan berlari." > (HR. Muslim)



Disclaimer:
Tulisan ini dibuat berdasarkan perspektif, pengalaman pribadi, dan hasil riset mandiri penulis. Konten di blog ini bertujuan untuk berbagi inspirasi dan informasi, bukan sebagai saran profesional (seperti medis atau psikologis). Setiap langkah yang diambil pembaca berdasarkan tulisan ini merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing. Keep an open mind and enjoy the read!


Referensi :
  • Rob Walker’s Newsletter: https://robwalker.substack.com/about
  • https://www.youtube.com/watch?v=H4fFD187b7A
  • Wikipedia Mindfulness: https://en.wikipedia.org/wiki/Mindfulness
  • Buku The Art of Noticing (Indonesia): https://kbk1456462.perpustakaandigital.com/detail/the-art-of-noticing-seni-menemukan-inspirasi-dan-melakukan-kreativitas-dari-hal-kecil-dalam-kehidupan-sehari-hari/105566
  • Forest Medicine (Dr. Qing Li): http://forest-medicine.com
  • Association of Nature and Forest Therapy: https://www.natureandforesttherapy.org
  • Riset Ilmiah (PubMed): https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/
  • Noticing Thoughts: https://www.instagram.com/p/DBa8572zcfh/
  • Awe Engages Five Processes (PMC): https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10018061/#:~:text=Awe%20engages%20five%20processes%E2%80%94shifts,%E2%80%94that%20benefit%20well%2Dbeing.
  • Why Do We Feel Awe (Greater Good Berkeley): https://greatergood.berkeley.edu/article/item/why_do_we_feel_awe#:~:text=A%20new%20science%20is%20now,self%20in%20a%20social%20identity.
  • White Paper on Awe (GGSC Berkeley): https://ggsc.berkeley.edu/images/uploads/GGSC-JTF_White_Paper-Awe_FINAL.pdf
  • The New Science of Everyday Wonder (DailyGood): https://www.dailygood.org/story/1305/why-we-feel-awe-dacher-keltner/?lang=id&sso_checked=1
  • Dacher Keltner: The Thrilling New Science of Awe (On Being): https://onbeing.org/programs/dacher-keltner-the-thrilling-new-science-of-awe/
  • Riset Nature and Well-being: https://www.journalcswb.ca/index.php/cswb/article/download/321/929?inline=1
  • Summary of The Sublime and the Beautiful (Edmund Burke): https://www.enotes.com/topics/sublime-beautiful/questions/what-summary-sublime-beautiful-481496#:~:text=Apa%20ringkasan%20dari%20The%20Sublime%20and%20the%20Beautiful%20oleh%20Edmund,sebagai%20cikal%20bakal%20estetika%20Romantis.
  • Self-Aware and Self-Connected (Medium): https://medium.com/@ruchirathor_23436/what-does-it-mean-to-be-self-aware-and-self-connected-7c4a3f56c084
  • Mindfulness: What Does It Mean to Connect with Yourself: https://katekendrick.com/mindfulness-what-does-it-mean-to-connect-with-yourself/
  • Kabat-Zinn, J. (1990). Full Catastrophe Living: Using the Wisdom of Your Body and Mind to Face Stress, Pain, and Illness. University of Massachusetts Medical School.
  • Keltner, D. (2023). Awe: The New Science of Everyday Wonder and How It Can Transform Your Life. Penguin Press / Greater Good Science Center, UC Berkeley.
  • Brooks, C. V. W. (1974). Sensory Awareness: The Rediscovery of Experiencing. (Berdasarkan metode Charlotte Selver).
  • Hayes, S. C. (2005). Get Out of Your Mind and Into Your Life: The New Acceptance and Commitment Therapy. New Harbinger Publications.
  • Baudelaire, C. (1863). The Painter of Modern Life (Le Peintre de la vie moderne).
  • De Bono, E. (1970). Lateral Thinking: Creativity Step by Step. Harper & Row / The de Bono Group.
  • Harvard Medical School / Harvard Health Publishing. Riset mengenai Default Mode Network dan dampak meditasi pada otak.
  • Tadabbur, Tafakkur, Tawassum: Contemplative Spirituality: https://cpsglobal.org/thoughts-of-maulana/tadabbur-tafakkur-tawassum-contemplative-spirituality#:~:text=These%20spiritual%20experiences%20cannot%20be,the%20chirping%20of%20the%20birds.
  • Gambar DMN 1 : https://acrabstracts.org/abstract/psoriatic-disease-associated-with-neuroconnectivity-alterations-in-the-default-mode-network/ 
  • Gambar DMN 2 : https://www.researchgate.net/figure/Node-connections-of-the-default-mode-network-and-the-salience-network-Cartoon-of-node_fig1_333456542
  • Gambar Steven C. Hayes dan buku Acceptance and Commitment Therapy (ACT) :  https://kimberleyquinlan-lmft.com/ep-83-act-with-steven-hayes/
  • Gambar riset Dacher Keltner : https://www.mprnews.org/episode/2023/03/17/professor-dacher-keltner-on-the-significance-of-awe
Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar