mamajokaa food blogger bandung

Midlife Clarity, Alasan Perempuan Usia 40 Plus Gak Suka Ribet & Anti Drama

 
Midlife Clarity


Memasuki usia 40-an, saya mulai menyadari kalau saya mulai gak suka drama dan anti ribet, terhadap apapun. Mulai dari urusan bekal sekolah anak yang penting 4 sehat 5 kenyang, sampai urusan beresin rumah.

To be honest, saya mengidap OCPD (Obsessive-Compulsive Personality Disorder), jadi urusan beberes tuh krusial buat saya. Kalau beberes rumah gak sampai kinclong atau display alat dapur dan toples bumbu gak simetris, jadi masalah besar buat saya. 

Tapi saya menolak tawaran psikiater adik saya untuk terapi, karena kalau terapi itu artinya saya harus kembali menceritakan dari awal trauma saya yang bikin saya kena OCPD, duh saya udah males bongkar lemari luka lama euy. So far, meski terseok, saya bisa survive meski luka itu gak hilang sepenuhnya, ya udah gak apa-apa, biar luka itu jadi “tato” dalam hidup saya. 

Saya merasa, kalau saya terapi dan berobat, semua perjuangan saya untuk tetap waras tanpa bantuan “obat” terasa sia-sia, jadi saya yakin OCPD juga demikian. 

Jadi langkah pertama saya adalah, menerima display toples miring, susunan baju di lemari gak berdasarkan warna, beresin rumah cukup satu kali saja sehari dan ngebiarin anak asyik bikin mainan sendiri dari kardus sampai bikin dapur berantakan. 

Kembali ke urusan mulai gak suka drama dan anti-ribet, hal ini juga hal yang bikin saya penasaran selain karena saya berusaha sembuh dari OCPD. 

Ternyata apa yang saya alami, secara psikologis bukanlah hal  yang aneh, melainkan fase normal yang dialami perempuan usia 40a, yaitu midlife clarity

Jadi, saya mau bahas soal ini nih, karena pembahasannya sangat menarik. Saya ingin berbagi se-jernih apa perasaan dan pikiran saya saat ini dan bagaimana saya bisa sampai ke tahap ini. 

Tapi, artikel saya kali ini cukup panjang, karena ada banyak hal yang mendasari mengapa usia 40-an menjadi gerbang fase kejelasan dalam hidup. Terlebih, saya adalah orangnya logis, jadi selain soal spiritual, alasan ilmiah juga perlu saya pelajari. 

Jadi, jika keberatan dengan artikel panjang dengan penjelasan ilmiah, boleh skip.

Saya sangat menghargai waktu Moms, sebagaimana saya kini sangat menghargai kewarasan saya sendiri.

Namun, jika Moms  mulai lelah dengan drama yang itu-itu saja dan ingin tahu mengapa otak kita justru bekerja lebih hebat di usia ini, mari lanjut.

Siapkan kopi dan cemilan dan mungkin bantal udah bersandar, karena kita akan membedah mengapa di angka 40 ini, kita mulai gak suka drama dan gak suka ribet dari sisi kacamata psikologis dan penjelasan ilmiah.

Turning Point


Sub-judulnya singkat ya, hahaha. Iya ini tentang turning point kenapa saya gak suka drama, bukan hanya karena emang udah fase-nya saya masuk ke tahap ini tapi ada dorongan dari luar juga. Tanpa konflik, saya rasa saya gak bakalan sampai ke tahap hidup anti drama.

Kalau teori Disintegrasi Positif (Kazimierz Dąbrowski) bilang sih, seseorang harus "hancur" atau retak dulu dari nilai-nilai lama agar bisa menyusun kembali (instal ulang) kepribadian yang lebih tinggi dan lebih jernih.

Semua berawal pada tahun 2022, saya mulai tuh merasa kehilangan jati diri, gak puas dengan pencapaian hidup, mood swing udah makanan sehari-hari, rasanya kerjaan gak beres-beres, mulai mempertanyakan banyak hal kenapa begini dan begitu sampai, " Kenapa saya?" dan mempertanyakan arah hidup.  

Ekstremnya, saya belanja impulsif skincare sampai jutaan hanya untuk bikin kulit wajah saya kembali plumpy seperti usia 30-an, hahaha. 

Dalam situasi "galau" begitu, saya terlibat konflik eksternal di sekolah anak-anak saya di TK si bungsu dan SD si sulung. 

Jadi, dulu tuh saya penganut slogan Yamaha, "selalu di depan". 

Bukan hanya karena saya wakil korlas POMG di TK si bungsu tapi juga korlas di kelas SD si sulung. Jadi, kalau ada acara, saya selalu yang terdepan ngasih ide dan rela 'lembur' demi bikin kreasi di kelas, bahkan saya ngasih jasa gratis bikin desain banner pendaftaran dan banner outingclass

Tapi, selang beberapa bulan kemudian, Bang! Saya terlibat konflik ekternal antara pihak ibu-ibu dengan sekolah, dan yang kena "buntut maung"  alias yang disalahkan siapa? Saya karena saya "pejabat". 

Saya gak bisa cerita detailnya karena menyangkut privasi, tapi intinya saya baru sadar kalau niat tulus saja tidak cukup untuk menghadapi dinamika yang penuh intrik. Kadang, semakin kita di depan, semakin mudah kita jadi sasaran tembak.

Konflik yang bikin trauma banget sih, sampai cukup menyadarkan saya bahwa, gak semua orang perlu ditolong. Better, selamatkan kewarasan diri.

Statement "gak semua orang perlu ditolong" bukan karena self-ego atau egoisme tapi saya menekankan pentingnya menetapkan batasan (boundary) dan memilah bantuan agar tetap bijak. Kebaikan perlu disaring agar tidak menjadi bumerang, mengorbankan diri sendiri, atau justru membiarkan orang lain tidak mandiri. Saya hanya fokus pada mereka yang benar-benar membutuhkan dan menghargai bantuan, bukan yang memanfaatkan kebaikan.

Jadi, kalau di awal saya penganut slogan Yamaha,  setahun kemudian saya beralih jadi penganut slogan Tolak Angin, "Orang Pintar, Pilih Tolak……Tolak drama, tolak ribet", dan tolak semua hal yang berpotensi merusak kewarasan dan ketenangan pikiran.


Galaunya midlife crisis, galau usia 40an
Galaunya midlife crisis, galau usia 40an (sumber gambar : Canva generate image)


Kebayang kan, udah-mah saya lagi galau midlife crisis terus ditambah konflik ibu-ibu? Duuuh bikin dunia serasa ambrug dalam satu hentakan!

Akhirnya saya reset emosi dan mulai muhasabah. Saya lelah dan cape dengan mood swing dan hidup yang terasa "kacau". Hingga akhirnya saya menemukan kejelasan dan arah hidup yang lebih bikin tenang. 

Saya memutuskan gak mau lagi jadi bagian organisasi sekolah hanya karena “kasihan” dia gak ada yang bantuin” atau menghadiri acara “botram” hanya karena takut gak diajakin lagi. 

Terbukti sudah, saya gak bisa memuaskan semua orang dan pada akhirnya saya bisa kecewa ketika saya "kena buntut maung" atau disalahkan, tapi gak ada yang  membela.

Akhirnya saya paham, ketika dihadapkan dengan konflik berjamaah, kebanyakan orang hanya akan menyelamatkan dirinya sendiri, seperti teori Bystander Effect.

Meski gak bisa dipukul rata, beberapa penelitian menunjukkan arah sebaliknya tergantung kasusnya, karena meski naluri self-preservation sangat kuat, tidak semua orang hanya menyelamatkan diri sendiri dalam konflik kelompok. Situasi sosial, keberanian moral, dan intervensi pihak ketiga sering kali dapat mengubah dinamika konflik menjadi upaya penyelesaian bersama. Tapi untuk kasus saya, bikin se-trauma itu euy dan jadi mikir yaaa gak semua orang tuh "baik". 

Gak semua orang tuh "baik" bukan tanda saya sinis dan menganggap semua orang tuh "jahat". Bukan soal hitam dan putih tapi, opini saya muncul sebagai mekanisme pertahanan diri dan bentuk realistis karena terluka. Dunia ini isinya spektrum, dari yang tulus sampai yang modus.

Saya hanya belajar menempatkan kepercayaan pada porsi yang tepat, tanpa harus kehilangan empati.

Anehnya, pasca konflik itu, hal ini juga berdampak pada kehidupan saya seluruhnya. Saya beneran se-enggan itu dengan banyak drama kehidupan dan mulai menyaring pertemanan. 

Saya lebih memilih ikutan komunitas produktif baik online maupun offline kursus digital marketing online, ikut banyak webinar dan kembali rutin jalan kaki. 

Tapi saya gak se-ansos itu kok, tetap ke sekolah antar - jemput dan menyapa ibu-ibu, bertanya kabar, ikut botram kalau lagi pengen dan berpartisipasi ikut lomba 17an di sekolah.

Saya hanya membatasi diri untuk tidak dive-in dan membentuk bonding dengan ibu-bu, ya secukupnya saja dan sewajarnya saja, meski yang jadi korlas adalah “mantan” sahabat saya waktu anak kami sama-sama TK.

Saya kira, itu adalah momen kesadaran penuh bagi saya bahwa, enough is enough! Dan itulah momen turning point saya, menyelesaikan kegalauan midlife crisis hingga mencapai clarity.

Apa Itu Midlife Clarity?


Dalam rangka pencarian makna, ditengah perjalanan saya menemukan kejelasan alasan mengapa kita merasa jadi pribadi yang terkesan dingin dan acuh melewati usia 40an.

Alasannya bukan karena kebanyakan nonton konten self-improvement di reels tapi penjelasan Sara Nicol tentang Midlife Claririty, fase yang menjelaskan dengan gamblang kenapa wanita usia 40aan gak suka drama dan gak suka ribet. 

Sara Nicol, Psikolog klinis dan organisasional berlisensi dari Inggris dalam artikelnya bertajuk "Midlife Crisis or Clarity?", menyatakan bahwa :

Midlife Clarity adalah sebuah fase evaluasi jati diri dan titik balik di mana seorang perempuan mulai melepaskan beban ekspektasi sosial dan peran-peran yang melelahkan, berhenti sekadar "berfungsi" bagi orang lain dan mulai hidup dengan makna yang lebih jernih bagi dirinya sendiri. 

Ehmm, relate dengan yang saya alami ya meski harus melalui konflik terlebh dahulu. Tapi tanpa konflik itu saya gak akan bakalan sampai ke tahap clarity sih. 

Sara Nicol, Psikolog klinis dan organisasional berlisensi dari Inggris
Sara Nicol (sumber gambar : situs Sara Nicol)


Memahami Midlife Crisis vs Midlife Clarity


Belum capek dengan life crisis - crisis-an kan? Pastinya cape sih karena kita sudah pernah melewati amukan badai quarter life crisis di usia 30an, belum termasuk Baby Blues dan Postpartum syndrome, eh gak tau-nya sekarang dapet the other life-crisis.

Eits, jangan salty dulu ya Mam, yakin deh kita bisa melewati fase ini dengan memahami prosesnya.

Elliot Jaques (1965), psikolog pertama yang mencetuskan teori Midlife Crisis, menyatakan bahwa Midlife Crisis merupakan periode dimana seseorang mulai menyadari mortalitas (kematian) dirinya sendiri. Akibatnya, hal ini memicu kecemasan, depresi, dan perubahan perilaku drastis karena mereka merasa waktu yang tersisa semakin sedikit.

Elliot Jaques "bapak" midlife crisis
Elliot Jaques "bapak" midlife crisis


Jadi, galau - galau yang saya alami dicerita atas ya emang khas midlife crisis sih, apalagi setelah berbenturan dengan konflik yang menguras energi dan emosi saya. Kenapa akhirnya saya ambil keputusan, enough is enough saya harus setting boundaries adalah karena self-awareness di usia 40-an jauh lebih konkret dibanding saat usia 30-an. 

Saya masih ingat betul bagaimana saya di usia 30-an yang  fokus-nya masih seputar memperbaiki kualitas hubungan, keputusan karir, atau finansial. Saya sudah cukup matang untuk tahu mana yang masalah, tapi sering kali berhenti di level, 'Oke, ini masuk akal' tapi gak lanjut. Ya hanya sebatas itu aja, bahkan untuk ambil keputusan pun maju mundur, antara pengen tapi masih banyak takutnya. 

Mengapa? Karena secara biologis, prefrontal cortex di usia 30an memang sudah matang, tapi masih dalam proses mencari pegangan nilai hidup. Akibatnya, kesadaran sering kali sebatas teori di kepala, belum menjadi keputusan hidup yang konsisten dijalankan, belum dirasakan secara into it dengan penuh kesadaran. 

Jadi, pasca menghadapi konflik TK dan SD itu, saya muhasabah dan korek-korek tuh semua midlife crisis yang saya alami. Ternyata, tahap yang saya lakukan baik secara piskologis karena, ibarat sedang "bersih-bersih gudang", krisis ini adalah momen di mana kita membongkar semua tumpukan barang lama yang sudah berdebu. 

Nah, "instal ulang" inilah yang menjadi jembatan dari Midlife Crisis menuju Midlife Clarity.

Jika krisis adalah proses penghancurannya, maka clarity adalah hasil rekonstruksinya. Secara sistematis, fase "berantakan" ini sebenarnya sedang menjalankan fungsi krusial bagi kewarasan kita, yaitu : 

1. Fungsi Katalisator (Teori Individuasi - Carl Jung)


Carl Jung adalah tokoh pertama yang menegaskan bahwa krisis paruh baya itu fungsional. Menurutnya, di usia 40-an, psikis kita melakukan "evaluasi besar". Amukan emosi "enough is enough" adalah cara jiwa menghancurkan persona (topeng sosial/pencitraan) agar kita bisa menjadi diri sendiri yang utuh. Tanpa panasnya krisis, kita akan selamanya terjebak jadi people pleaser.

2. Fungsi Filter (Socioemotional Selectivity Theory - Laura Carstensen)


Ini adalah teori yang menjelaskan kenapa kita jadi "pelit energi" dan anti-drama. Penelitian Carstensen membuktikan bahwa ketika manusia menyadari "cakrawala waktu" (time horizon) menyempit, prioritas otak berubah total.

Otak secara otomatis membuang hal-hal yang tidak esensial (drama, teman toksik, basa-basi) dan hanya fokus pada hubungan yang memberikan kedalaman emosional dan ketenangan (peace of mind).

3. Neuroplasticity (Re-wiring Saraf)


Instal ulang dalam proses midlife crisis sangat nyambung dengan temuan neurosains modern (seperti riset dari Dr. Sherry Willis dalam Seattle Longitudinal Study).

Di usia 40-an ke atas, otak mengalami reorganisasi. Sirkuit saraf yang biasanya dipakai untuk mencemaskan pendapat orang lain mulai "dipangkas" (synaptic pruning) karena dianggap tidak efisien lagi untuk kelangsungan hidup.

Namun, semua proses instal ulang saraf dan reorganisasi otak itu tidak akan otomatis mengubah nasib kita jika tidak dibarengi dengan satu kunci utama, Self-Awareness

Bisa dibilang, jika krisis adalah proses pembongkaran gudangnya, maka self-awareness adalah orang yang memegang senter dan catatan untuk memutuskan mana barang yang mau disimpan dan mana yang mau dibuang. Tanpa kunci ini, kita tidak akan pernah sampai ke gerbang Midlife Clarity, kita hanya akan selamanya terjebak di dalam 'gudang' yang berantakan.

Para ahli psikologis dan perkembangan otal yang memiliki teori yang mendukung middlife crisis
Para ahli psikologis dan perkembangan otal yang memiliki teori yang mendukung middlife crisis


Muhasabah, Cara Menghadirkan Self-Awareness


Self-awareness tidak muncul begitu saja seperti durian runtuh, melainkan perlu dijemput. Caranya? Muhasabah. 

Agak klise? Sebetulnya gak, mungkin sedikit terdengar toxic positivity ya tapi muhasabah tuh tidak hanya soal merenungi "dosa" atau kesalahan, saya kira ini persepsi yang kurang tepat. Berakar pada kejadian pada Nabi Muhammad mendapat ayat pertana "Iqra", muhasabah juga memiliki filosfis yang sama, yaitu membaca diri. 

Membaca diri sendiri berarti berhenti sejenak, merenung, dan menyadari posisi kita sebagai hamba (abdullah) dan khalifah di muka bumi. 

Beberapa dari kita pastinya pernah melakukan muhasabah dengan caranya sendiri, ada yang  solat hajat, tahajud atau istikharah. Tapi gak sedikit juga dari kita yang duduk sendirian di cafe sambil melamun, kadang ngelamunin cicilan, anak tantrum atau nanti liburan mau kemana. 

Apapun caranya, menghadirkan kesadaran menuju clarity agar keluar dari galau midlife crisis berbeda dengan sekadar curhat karena tongpes. Muhasabah dalam fase ini bukan sekadar melamun tanpa arah, melainkan proses audit energi, "Kemana saja energi kita habis selama ini?"  dan "Apakah investasi emosional kita pada orang lain selama ini sebanding dengan kedamaian yang kita dapatkan?"

Bermuhasabah ketika menghadapi midlife crisis
Bermuhasabah ketika menghadapi midlife crisis ( (sumber gambar : Canva image)



Lalu, bagaimana caranya agar 'membaca diri' ini tidak berakhir jadi sekadar melamun tanpa arah atau malah jadi ajang menyalahkan diri sendiri (self-blame)?

Agar muhasabah ini benar-benar menjadi kunci yang membuka gerbang clarity, kita butuh langkah yang lebih sistematis. Kita butuh cara untuk memisahkan mana suara hati yang jujur dan mana suara ego yang hanya ingin validasi. 

Berdasarkan pengalaman saya dalam mengurai benang kusut midlife crisis, berikut adalah dua langkah praktis yang bisa Moms coba lakukan. 

1. Journaling dan Reset Emosi

Gak perlu nulis buku journal layaknya remaja yang jatuh cinta seperti dear diary, cukup tumpahkan saja semua pikiran yang semrawut ke atas kertas. Apa saja yang perlu ditulis? Tulislah semua poin yang menjadi renungan ketika kita melakukan reset emosi.

Yes, reset emosi adalah langkah paling berani. Sebelum menulis journaling, coba terlebih dahulu memvalidsi emosi diri, malu, dendam, atau rasa lelah yang selama ini kita sembunyikan di balik topeng "Ibu yang Kuat" atau "Istri yang Sabar" atu "teman yang baik". 

Saran saya, lakukan riset emosi setelah melakukan shalat tahajud bagi Mom yang muslim sebelum dituangkan ke buku jurnal dan pahami beberapa hal : 
  • Berhenti Menyangkal, saat merasa sedih atau marah, jangan langsung berkata "Aku gak apa-apa." Akui saja dulu "Iya, saat ini aku sedang merasa kecewa."
  • Biarkan perasaan itu ada selama beberapa saat tanpa perlu langsung dicarikan solusinya. Menangislah jika perlu, atau diam sejenak untuk merasakan emosinya.
  • Setelah emosinya terasa lebih tenang, tarik napas dalam dan katakan pada diri sendiri, "Oke, perasaannya sudah diterima, sekarang saya lepaskan untuk ruang yang lebih lega."

Reset emosi penting karena self-awareness tidak akan muncul jika narasi di kepala kita berbeda dengan apa yang dirasakan hati. Begitu kita jujur mengakui, "Iya, aku capek," di situlah beban mental mulai luruh setengahnya.


Journaling, bantu melewati midlife crisis
Journaling, bantu melewati midlife crisis  (sumber gambar : Canva image)


Reset emosi dengan jalan kaki
Reset emosi dengan jalan kaki  (sumber gambar : dok. pribadi)


2. Mindfulness, Hadir Seutuhnya di Sini dan Saat Ini


Kita seringkali menderita bukan karena masalah yang ada sekarang, tapi karena menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi.

Berlatih hadir sepenuhnya (saat mencuci piring, saat minum teh, atau saat melihat anak tidur) akan melatih otak untuk tidak reaktif terhadap "drama" pikiran sendiri. Ini adalah kunci agar kita tetap tenang meski badai krisis sedang melanda.

Mom bisa melakukan praktik mindfulness yang sederhana dengan The art of noticing, yaitu memperhatikan hal-hal kecil disekitar kita. Bagi saya, The Art of Noticing bukan sekadar melihat, tapi sebuah proses mengalihkan fokus dari keriuhan di dalam kepala ke keajaiban di luar diri, lalu membawanya kembali ke dalam hati dengan rasa syukur. Dalam Islam, inilah esensi dari Tafakur dan Tadabur.

Saat kesadaran ini sudah matang, kita tidak lagi sekadar "tahu" bahwa kita butuh berubah, tapi kita memiliki keberanian untuk benar-benar melakukannya. Di titik inilah, Midlife Crisis secara perlahan mereda, dan selamat, Mom telah resmi memasuki gerbang Midlife Clarity.

The art of noticing sambil journaling
The art of noticing sambil journaling  (sumber gambar :Unsplash Free)


Se-jernih Apa Sih Sekarang?


Efek clarity di usia 40-an tuh bisa dibilang, "surga pikiran" banget. Kenapa? Karena seingat saya, dulu tuh kalau ada yang nyinyir auto panas, ada yang rese’ auto pengen nyemprot balik, kalau ada acara botram tuh saya yang paling duluan nyahut, sampai kalau ada temen yang kebingungan atau kesulitan, saya auto nawarin bantuan tanpa diminta, people pleasure banget deh. 

Kejernihan di usia 40an
Kejernihan di usia 40an  (sumber gambar :Unsplash Free)

Se-Jernih Mata Silindris Pakai Kaca Mata yang Tepat


Ke-jernihan yang saya rasakan tuh kalau dianalogikan seperti, mata silindris pakai kaca mata yang tepat. Mata saya, keduanya silinris, jadi kalau melihat objek berbayang, gak jelas, begitu pakai kaca mata yang tepat, auto jelas semua penglihatan.

Sekarang, kalau ada yang julid atau ngomongin saya dibelakang, saya lebih milih, “Ya udah sii biarin aja, dia lagi butuh drama korea kali” atau kalau ada yang ajakin botram tapi saya males saya jawab, “ Wah ngiring raos-nya, punteun teu tiasa, seueur padamelan di bumi” (aduh maaf ya gak bisa ikut, dirumah banyak kerjaan), white lies sih tapi daripada saya terseret obrolan soal si a dan b ketika botram mending ngurusin cucian, hahahaha. 

Setting boundaries bukan lagi slogan atau caption ala-ala sosmed, tapi beneran dilakuin dan somehow itu bikin hidup saya lebih tenang dan damai. 

Saya gak peduli lagi omongan orang tentang saya, males bikin SW atau story soal feeling kalau gak penting-penting amat, palingan posting url artikel, atau reels lucu yang saya temukan di IG atau foto kucing saya, hahaha. 

Udah gak butuh validasi, bahkan suami yang gak pernah posting soal saya di sosmed pun udah gak jadi masalah buat saya. Ya udah biarin aja, toh di dunia nyata dia lebih romantis dari postingan romantis nikita willy, hihihi. 

Pokoknya semua serba, “Ya udah lah biarin aja”. Saya gak mau me-ribet-kan apapun dan gak terjerumus drama interpersonal bahkan intrapersonal. 

Semua hal terlihat begitu jelas, pikiran saya seakan terbuka lebar tapi secara emosional saya lebih tenang, gak gampang emosi, iya-iyain aja dan ya udahlah. Mungkin karena hidup sudah mengajari banyak hal lewat jatuh bangun yang nggak kehitung jumlahnya.

Rasanya sudah kenyang selalu jadi "jangkar" buat orang lain, stres mikirin omongan orang, puas menangis diam-diam karena merasa gagal, berkali-kali ngerasa mau nyerah, tapi tetap dijalani juga. 

Sekarang? Saya mungkin masih lelah, tapi udah tahu cara menenangkan diri dan melihat hidup dari sudut pandang yang lebih luas.

Saya belajar kalau gagal tuh bukan akhir, cuman belok arah aja. Comfort zone tuh boleh banget gak ditinggalin tapi harus diperluas, gak semua hal perlu direspon dan self-care itu bukan egois tapi fondasi kewarasan.

Pernyataan saya bukan opini semata, tapi dibuktikan secara ilmiah oleh pakar psikologis, yang menyatakan bahwa memasuki usia 40-an, banyak ibu-ibu yang mengalami pergeseran prioritas, yang sering disebut sebagai "fase tidak suka drama" atau lebih mengutamakan ketenangan (peace of mind). 

Sejernih Doa dalam Sujud: Melepaskan 'Jangkar' Dunia demi Bersandar pada-Nya

Somehow, proses midlife crisis banyak bantu saya menuntaskan trauma inner child penyebab OCPD. Kalau di usia 30an saya baru sebatas memahami dan memaafkan, tapi sekarang benar-benar memaafkan karena memahami,  bahwa, semua manusia punya trauma dan terluka karenanya. 

Mereka juga bingung dengan hidup mereka sendiri dan melakukan yang terbaik menurut versi mereka meski tidak bagi saya. It is what is, saya yakin, semua hal yang terjadi dalam hidup saya memang sudah ditakdirkanNya demikian, bukan karena saya tidak dicintaiNya, melainkan itulah nilai ibadah saya. 

Jika saya "harus" jadi jangkar bagi keluarga saya dan orang-orang, ya sudah saya terima, toh pada akhirnya Allah itu Maha adil, karena dengan semua kisah sedih di hari minggu yang saya alami sejak kecil, dikirimNya support sistem yang se-worth-it itu saya miliki kini, adalah bukti Allah gak pernah ninggalin saya. 

Ibadah tidak lagi dirasakan sebatas transaksional, tapi lebih deep. Dimana solat bukanlah karena kewajiban tapi tempat saya "pulang" dan merajuk. Dimana membaca Al-Qur'an bukan lagi demi mengumpulkan pahala, tapi "membaca surat cinta" dari Kekasih. 

Saya tak lagi banyak berharap banyak terhadap apapun, tapi justru perasaan itu malah membuat saya semakin semangat berbuat baik lebih banyak dan berkarya lebih giat. Kesuksesan tidak lagi dinilai sebatas materiil tapi lebih ke ......... duh maaf ya, agak sulit mendeskripsikan bagian ini karena, apa ya....se-deep itu sih yang dirasakan. 

Dunia, ya sebatas itu, waktu yang sangat singkat, hanya sekejap mata, tau-tau saya udah suia 40 lebih kan sekarang? Apalagi yang ingin dicapai selain lebih khsuyu ibadah, lebih dekat denganNya, membersamai anak-anak dan tetap menjaga kesalingan dengan pasangan. 

Saya juga merasakan bonding denganNya juga terasa begitu kuat, karena bagi saya, Allah SWT adalah tempat saya beneran "pulang" ketika saya tak punya "rumah" untuk pulang dan menyambut saya, dan semoga kelak Allah menyambut saya dengan sukacita. 

Dengan pede-nya saya membayangkan (yang selalu jadi do'a di setiap sujud ), Jika Allah berkehedak dan Ridho, saya membayangkan pertemuan denganNya terjadi di akhirat kelak, dengan penuh sukacita Allah menyambut saya "pulang" dan menyapa, "Kemarilah hambaKu yang sudah berjuang begitu keras sejak kecil, yang selau sabar meski kerap ragu dan marah padaKu, tapi tetap berusaha keras meski terseok untuk kembali padaKu". Bolehkan? Menceritakan hal ini saja sudah membuat saya menangis.

Dengan "bayangan" seperti itu, meski sebetulnya diri kurang pantas berada di "podium" pertemuan denganNya, mengingat banyaknya kesalahan dan dosa, tapi membuat saya semakin semangat menjalani hidup dengan lebih baik dan menata hidup saya dengan lebih baik juga, termasuk urusan beribadah kepadaNya. 

Ya, di fase clarity, akhirnya saya lebih bisa melihat sisi spiritual dengan lebih dalam dan penuh makna, terutama soal ibadah dan "bonding" dengan Tuhan, Allah SWT. 

"Yaa Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku".  Rabiah al-Adawiyah


Kesimpulan


Jadi, gak suka ribet dan anti drama tuh bukan hanya perasaan aja ya, melainkan bagian dari proses menuju kejelasan dalam hidup. Hidup mungkin belum sempurna dan ujian hidup masih ada, tapi setidaknya pikiran kita sudah jernih untuk tahu mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup "ya sudahlah".

Melewati badai middle life crisis lantas memilih hidup tanpa drama di usia 40-an adalah sebuah kemenangan mental. Tapi, saya juga sadar bahwa gak semua perempuan bisa langsung sampai di titik jernih ini dengan mulus.

Banyak dari kita yang masih merasa sedang 'meledak' kembali, merasa asing dengan tubuh sendiri, atau tiba-tiba ingin melakukan hal-hal yang selama ini dipendam, fenomena yang sering dicap masyarakat sebagai  'Puber Kedua'.

Menghadapi badai ini memang tidak mudah, dan Moms tidak harus melakukannya sendirian. Jika beban terasa terlalu berat, jangan ragu untuk mencari pegangan. 

Berbagilah dengan pasangan, carilah sahabat yang sefrekuensi, atau jika perlu, mintalah bantuan tenaga profesional seperti psikolog untuk membantu mengurai benang kusut di kepala. Dan yang paling utama, berserah diri kepada Allah SWT adalah jangkar terbaik agar kita tidak hanyut terbawa arus emosi.

Yuk, mulai menyadari pola reset emosi kita sendiri dan bertransformasi dari Midlife Crisis menuju Midlife Clarity untuk hidup yang lebih bahagia. Bukan hanya untuk ketenangan kita, tapi juga untuk mereka yang selalu tulus mendukung kita; pasangan dan anak-anak tercinta.


Disclaimer : 
Tulisan ini merupakan hasil reflektif dan riset dari berbagai jurnal ilmiah dan penelitian yang didukung situs psikologis. Jika ada kesalahan dalam pemaparan teori dan fakta, mohon di koreksi. 


Referensi :
  • https://academic.oup.com/gerontologist/article/61/8/1188/6412643
  • https://www.saranicolpsychology.com/blog/midlife-crisis-or-clarity
  • https://www.simonandschuster.co.uk/books/Midlife-Clarity/Cynthia-Black/9781582700762
  • Blanchflower, D. G., & Oswald, A. J. (2008). Is well-being U-shaped over the life cycle? Social Science & Medicine.
  • Erikson, E. H. (1950). Childhood and Society.Carstensen, L. L. (2006). A theory of socioemotional selectivity. Science (https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/socioemotional-selectivity-theory)
  • Helson, R., & Wink, P. (1992). Personality change in women from the early 40s to the early 50s. Psychology and Aging, 7(1), 46–55 dari situs https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1558705/
  • The North American Menopause Society (NAMS). Menopause 101: A Primer for the Perimenopausal and Postmenopausal Years.
  • Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. New York: Harper & Row. 
  • Hershfield, H. E. (2011). Future self-continuity: How conceptions of the future self transform intertemporal choice. New York: Annals of the New York Academy of Sciences. 
  • Hollis, J. (1993). The Middle Passage: From Misery to Meaning in Midlife. Toronto: Inner City Books. 
  • Nicol, S. (2022). Midlife Crisis or Clarity?

22 komentar

  1. Penting banget ini buat para ibu 40an memahami soal midlife crisis ini, fase psikologis ini memang harus diketahui sih karena kadang kita itu gak sadar sedang ada di fase tertentu dan denial yang malah akan membuat kegiatan sehari-hari terganggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah, makasih mas. harapan saya beriringan dengan pendapat mas, semoga tulisan saya di artikel ini bisa membantu para ibu 40an juga.

      Hapus
  2. Sepertinya aku menuju fase midlife clarity ini deh, dengan menyadari fase fase yg terjadi pada diri, aku tuh jd tau harus apa

    BalasHapus
  3. Kurang lebih aku sudah merasakan sih ya. Nggak terlalu pusing mikirin apa kata orang. Selagi itu nggak menggangguku, aku mah ya sudahlah. Hehehe....

    BalasHapus
  4. Kurang lebih aku sudah merasakan sih ya. Nggak terlalu pusing mikirin apa kata orang. Selagi itu nggak menggangguku, aku mah ya sudahlah. Hehehe....

    BalasHapus
  5. SETUJU BANGETTTT. Aku yang selangkah lagi menuju 40 relate banget mbak. Kita bukannya makin jutek, tapi ya pengen hemat energi aja. Kayak... kita tahu mana notifikasi penting dan mana cuma spam. Setelah puluhan tahun jadi “support system” semua orang, otak dan hati mulai bikin filter alami. Mneurut aku itu manusiawi sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, valid mbaaa 😍 fase yang normal dan pasti dilalui semua perempuan usia 40+

      Hapus
  6. Aku kayaknya udah juga melewati masa-masa midlife yg heboh ini. Udah jarang pergi-pergi kalau engga perlu. Dulu suka WFC, sekarang WFH aja cukup. Lebih hemat dan engga harus ketemu orang...haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaah lega banget rasanya ya Buuu, emang se-heboh itu sih ya, hahahaha. Relate sih, sekarang emang save energy banget buat keluar rumah, hehe

      Hapus
  7. Sehat mental sangat dibutuhkan buat para ibu di usia ini ya. Jalani aja dengan rasa syukur, nikmati apa yang ada. Boleh aja meluapkan rasa kecewa, tapi ketika dikembalikan pada Yang Kuasa, maka lebih tenang melewatinya. Bener banget mbak, tak perlu overthinking dengan pendapat orang. Selalu berfikir positif saat menghadapi perubahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget mba, gak perlu ovt dengan pendapat orang, save our energy ya

      Hapus
  8. Kalau saya merasakannya itu emosi sering moody, siklus haid yaa berubah mungkin sudah masuk perimenapouse. Tapi kan memang harus melewatinya yaa, jadi ikuti saja alurnya,,,nanti juga akan selesai pada masanya. Insya Allah, berpikir positif dan minta dukungan keluarga terdekat yaitu suami dan anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, dijalani dan diikuti alurnya karena mau gak mau fase-nya pasti harus dilewati juga. support system itu modal utama banget melewati midlife crisis.

      Hapus
  9. kalau aku malah di usia 40 ini mulai jadi sering mikir kok hidupnya begini sih? Aku kok nggak ada pencapaian? Mana kan usia sudah 40 tapi aset dan tabungan belum banyak jadi kepikiran banget gimana nanti anak-anak dan masa tuaku. Kalau untuk hubungan sosial malah memang dari dulu aku sukanya nggak ikut aktif di manapun hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. peluuuuk mba Antung, huhuhu. Insyallah pasti ketemu pencerahan mba, tetap semangat yaaa, kalau kita berserah diri sama Allah, insyallah dikasih jalan. Sehat-sehat ya mbaa

      Hapus
  10. Waktu menjelang 40 tahun tuh saya sempat ketakutan. Entah apa yang bikin takut. Pokoknya merasa gak nyaman aja.

    Setelah masuk dan dijalani, ternyata nyaman aja. Bahkan bener juga tuh, sekarang makin merasa less drama. Gak ngotot ngejar ini itu. Lebih nyaman menjalani hidup. Alhamdulillah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. relate mba! saya juga merasakan, banyak takutnya, masa depan, anak hingga kematian. Fase-nya memang begini ya mba, gak nyaman. makanya harus keluar dan cari solusi. setuju ya mbaa, less drama tuh beneran bikin se-tenang itu.

      Hapus
  11. Asli keren banget ini tulisan, panjang tetapi detail dan bermakna. Buat aku yang masih diangka 30 an awal, rasanya kayak lagi dapat kuliah 2 SKS.

    Setidaknya, nanti bila ada umur panjang bisa menyentuh angka 40-an nggak terlalu kaget kalau menemukan banyak kejelasan hidup. Bebas dari drama nggak penting dan lebih mindful 😇🤩 dan percaya banget kalau muhasabah itu amat penting.

    Journaling pun salah satu cara yang cukup impact full. Thanks sudah sharing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah, makasih mba lala. alhamdulillah saya berysukur banget kalau tulisan saya bisa membantu kelak. makasih udah bersedia membaca hingga akhir ya mba, peluuuk.

      Hapus
  12. Mba Eka terima kasih untuk insight nya dari postingan ini. Sangat penting memahami pelan2 dari tulisan yang merangkum mental health dari sisi lain yg relevan dengan kehidupan orang2 di masa kini. Saya sepertinya harus membaca lebih dari satu kali, supaya benar2 nempel di kepala. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyAllah, makasih banyak Teh, besar harapan saya, tulisan ini banyak membantu sesama 40's melewati masa midlife crisis, karena banyak yang merasa stress hingga depresi selama fase ini. Terima kasih sudah mau membaca hinga akhir :)

      Hapus
  13. Hai mbak. Di usia 40 dulu, hidup saya nano-nano banget. Udah anak masih kecil-kecil, ada masalah dengan pasangan tambah lagi mood ambyar. Tapi mulai usia itu saya justru semakin cuek dengan sekeliling, masa bodoh dengan hal berbeda yang saya miliki dan alami. Apalagi sekarang udah lewat 50 makin berusaha santai, ngga mau yang ribet-ribet 😄

    BalasHapus