Menjadi orang tua di era sekarang itu tantangannya luar biasa ya Moms? Kita dituntut untuk selalu sabar di tengah menumpuknya beban pikiran dari pekerjaan hingga urusan rumah tangga.
Saya pun pernah berada di titik “ikutan ngambek” ketika si sulung mogok sekolah karena cukur rambut kependekan.
Ya Tukang cukur bisa jadi emang salah potong poni kependekan, ya kali motongnya udah malem kan. Tapi salah kakak juga sih kenapa baru ingat harus cukur rambut habis magrib? Ya auto cukur rambut dadakan dong.
Rambutnya memang belum panjang, tapi sudah ditegur guru karena poni-nya terlalu oppa-oppa korea, padahal panjang dikit sih. Lantas saya mencoba menghibur dan mengatakan, “Bagus kok kak, tetep ganteng. Gpp, ntar juga rambutnya tumbuh lagi”, tapi bujukan saya gak mempan.
Setelah saya teriak, “Ayo sekolah! Mau gak mau harus dihadapi!”, akhirnya mau sekolah tapi dengan wajah cemberut, tendang sepatu dan pintu.
Untungnya, saya gak lagi “Gorilla mode on”, masih bisa sabar merespon amarah dia. Tapi lama-lama saya ikutan kesel, jengkel, marah dan akhirnya teriak, “ Cukup kak!”
Di situlah saya mempraktikkan apa yang disebut self-regulation. Saya berjongkok, menarik napas dalam, dan mencoba tetap tenang di tengah badai itu. Saya terus berkata pada diri sendiri “Tenang, kakak bukan lagi marah sama kamu tapi tukang cukur rambut, dia kecewa dengan hasilnya”
Ternyata, saat saya berhasil mengelola emosi diri sendiri, tapi si sulung, ya masih ngambek! Hahaha. It’s oke yang penting “Gorilla mode on” saya sudah off.
Saya belajar bahwa kunci menghadapi anak yang sedang "badai" emosi bukan dengan melawannya dengan badai yang lebih besar, melainkan dengan menjadi "jangkar" yang tenang.
Menghadapi anak tantrum itu bukan cuma soal menenangkan anak, tapi perjuangan menenangkan "anak kecil" di dalam diri kita sendiri. Yuk, kita bedah gimana caranya biar kita nggak ikut "meledak" saat situasi memanas!
Mengapa Reaksi Marah Orang Tua Sering Muncul Secara Spontan?
![]() |
| Kenapa ibu sering ikutan ngambek kalau anak lagi ngambek? |
Secara biologis, suara tangisan melengking atau teriakan anak dideteksi oleh Amigdala (pusat emosi otak) sebagai sinyal bahaya.
Otak kita tidak bisa membedakan antara "anak sedang tantrum" dengan "ada singa yang menyerang". Akibatnya, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol, memicu respon fight-or-flight.
Selain faktor biologis, ada juga faktor Generational Trauma.
Tanpa sadar, cara kita bereaksi seringkali adalah copy-paste dari cara orang tua kita dulu mendidik kita. Jika dulu kita dibesarkan dengan bentakan saat menangis, maka secara otomatis otak kita menganggap marah adalah solusi untuk menghentikan tangisan.
Memahami hal ini penting agar Moms tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri, melainkan mulai fokus pada pemutusan rantai emosi tersebut.
5 Strategi Ampuh Kelola Emosi Orang Tua Saat Anak Marah Besar (Tanpa Ikut Marah)
Berdasarkan pengalaman dan pendekatan psikologi perkembangan, berikut adalah strategi self-regulation yang bisa Moms praktikkan:
1. Kenali Pemicu "Red Code" dan Pasang Perisai Diri
Langkah pertama dalam self-regulation adalah kesadaran diri (self-awareness). Sebelum mulut berteriak, sadari sinyal tubuh Moms seperti tangan mengepal, rahang mengeras, atau napas pendek. Saya menyebutnya "Red Code".
Begitu sinyal ini muncul, segera pasang "Perisai Emosi".
Bayangkan ada perisai transparan yang melindungi Moms sehingga emosi anak tidak "menular" (emotional contagion). Katakan dalam hati, "Anakku tidak sedang menyerangku, dia hanya sedang kesulitan dengan perasaannya sendiri. Saya adalah pengamat badai, bukan bagian dari badai itu."
2. Praktikkan Teknik "Pause" dan Grounding
Jangan langsung merespons amukan anak. Beri jeda 5-10 detik untuk menarik kembali kesadaran dari otak emosional ke otak logika (Prefrontal Cortex) dengan cara:
- Aturan Napas: Tarik napas dalam melalui hidung, tahan sebentar, buang lewat mulut. Lakukan 3-5 kali untuk mengirim sinyal aman ke otak.
- Teknik Grounding: Coba sebutkan 3 benda di sekitar Moms yang berwarna biru atau hijau. Ini cara instan "mendinginkan" otak yang sedang panas.
- Physical Distance: Kalau dirasa sudah di ambang batas, pastikan anak di tempat aman, lalu menjauhlah 2-3 meter sebentar saja untuk mengambil napas.
3. Berkomunikasi dengan Prinsip "Less is More"
Saat anak tantrum, otaknya sedang "tutup" untuk logika, jadi jangan berikan ceramah panjang lebar. Gunakan suara yang rendah (deep voice) dan kalimat yang pendek. Turunkan level tubuh Moms dengan berjongkok agar mata sejajar dengan anak. Ini membuat Moms terlihat sebagai pendamping yang aman, bukan ancaman yang menakutkan.
4. Validasi Perasaan, Tetap Tegas pada Batasan
Tenang bukan berarti pasrah atau menuruti semua kemauan anak. Kuncinya adalah "Validate the feeling, limit the behavior." Contoh nih kasus si poni kependekan,
- Validasi: "Kesel banget ya poni-nya jadi pendek, pasti gak pe-de ya kak?"
- Tegas: "Tapi Gak apa-apa kak, mang cukur-nya udah ngantuk kali, lagian potong rambut malam-malam, pamali sih kalo kata orang mah. Gpp, ntar juga tumbuh lagi walau butuh waktu. Yuk sekolah, gak ada alasan yaaa, ntar juga biasa. “. Dengan cara ini, anak merasa didengar emosinya, tapi tetap belajar menghargai aturan yang Moms buat.
5. Praktikkan Self-Compassion dan "Isi Tangki" Sendiri
Kita tidak bisa menuang air dari gelas yang kosong. Seringkali kita mudah meledak karena "tangki" kesabaran kita kering akibat kurang tidur, lapar, atau kelelahan mental.
Self-care bukan berarti egois, tapi persiapan agar kita bisa jadi orang tua yang lebih stabil.
Jika Moms sempat "bocor" atau ikut marah, jangan menghakimi diri sendiri. Berikan maaf pada diri sendiri, lalu minta maaf pada anak. Ini justru momen berharga untuk mengajarkan anak bahwa manusia bisa berbuat salah dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Tips Biar Emosi Anak Nggak "Menular"
![]() |
| Tips Biar Emosi Anak Nggak Menular |
Oleh sebab itu, mengelola emosi adalah sebuah keterampilan yang perlu dilatih, layaknya belajar mengendarai mobil. Mungkin di awal Moms akan sering "mogok" atau salah injak rem, tapi lama-kelamaan Moms akan lebih lihai.
Salah satu tips tambahan adalah melakukan "Emotional Audit" di malam hari. Coba ingat-ingat momen apa yang paling membuat Moms terpancing hari ini? Dengan mengenali pola, Moms akan lebih siap menghadapi situasi serupa besok. Ingatlah bahwa tujuan kita bukan untuk menjadi orang tua sempurna yang tidak pernah marah, tapi menjadi orang tua yang sadar (conscious parent) yang terus bertumbuh bersama anak.
Biar nggak ikut "kebakaran", coba tips ini:
- Visualisasikan Perisai
- Selalu ingatkan diri sendiri
- Jangan Masukkan ke Hati
Kalau anak bilang "Aku benci Mama!", jangan baper. Itu adalah "bahasa emosi" mereka karena belum tahu cara bilang "Aku lagi capek banget dan butuh dipeluk."
FAQ: Hal yang Sering Ditanyakan Orang Tua
Kenapa saya merasa bersalah setelah marah pada anak? Itu tanda Moms memiliki empati yang tinggi. Gunakan rasa bersalah itu sebagai motivasi untuk melakukan repair (memperbaiki hubungan) dengan anak, bukan untuk menghukum diri sendiri.
Berapa lama biasanya tantrum berlangsung? Tergantung usia dan kondisi fisik anak (lapar/ngantuk). Namun, dengan respon orang tua yang tenang, durasi tantrum biasanya akan lebih singkat dibandingkan jika orang tua ikut berteriak.
Kesimpulan
Moms, nggak ada orang tua yang sempurna. Kalau sesekali Moms tetap "meledak", jangan ragu untuk minta maaf ke anak dan coba lagi lain kali. Kita juga sedang belajar, kan?
Menghadapi tantrum atau anak stress bukan tentang memenangkan perdebatan dengan anak, tapi tentang memenangkan kendali atas diri kita sendiri. Saat kita tenang, anak akan belajar bahwa emosi besar bisa dihadapi dengan cara yang sehat.
Referensi :
https://www.healthline.com/health/stress/amygdala-hijack
https://www.psychologytoday.com/us/blog/click-here-for-happiness/202208/what-are-grounding-techniques
https://www.mother.ly/parenting/how-to-stop-a-toddler-tantrum-you-dont/
https://www.gottman.com/blog/emotional-disconnection-in-relationships/





Posting Komentar