Tampilkan postingan dengan label motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motherhood. Tampilkan semua postingan
social exhausted ektrovert



Pernahkan anda merasa kelelahan setelah berinteraksi sosial padahal anda termasuk kaum ekstrovert? Jika anda merasakannya maka anda mengalami Social exhausted.
Ekstovert terkenal dengan karakternya yang senang berinteraksi dengan banyak orang dan mendapat energi dari interaksi sosial. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika ekstrovert juga mengalami social exhausted.
Sebagai ekstrovert, saya senang ketika mendapat kabar bahwa ajaran baru tahun ini sekolah anak akan masuk seperti biasa. Sebagai orangtua, akhirnya saya bisa bertemu dengan para Mom's baru dengan berbagai macam karakter dan latar belakang.
Tetapi, perasaan seperti ini tidak bertahan cukup lama. Sejak bulan Oktober saya merasa lelah. Bukan pada kegiatan antar-jemput melainkan bertemu para Mom's. Cukup aneh bukan? Ternyata setelah saya evaluasi, saya mengalami Social exhausted. Apa itu Social exhausted dan bagaimana cara saya mengatasinya?

Social Axhausted Adalah


Dihimpun dari berbagai sumber, social exhauted merupakan suatu kondisi psikologis dimana seseorang merasa lelah setelah berkomunikasi dan berinterkasi dengan orang lain dalam waktu cukup lama dan dilakukan secara terus-menerus yang meninggalkan rasa jenuh. Rasa jenuh yang dialami cukup menguras energi hingga berakhir kelelahan mental dan fisik yang cukup serius jika tidak segera diatasi.
Kaum introvert umumnya yang paling sering mengalami social exhausted, tapi tidak menutup kemungkinan kaum ekstrovert juga mengalami hal yang sama.

Gejala Social Exhausted


Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita sedang mengalami social exhausted. Kita hanya merasa lelah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasa lelah yang kita rasakan membuat kita enggan melakukan aktivitas dan menarik diri dari lingkungan. Yang anda alami bukanlah mood swing atau sedang tidak mood, melainkan gejala social exhausted. Yuk cek gejala social exhauted lainnya :
  • Merasa lelah tanpa sebab
  • Merasa sedih dan ingin menangis
  • Merasa lapar terus tapi tidak nafsu makan
  • Mengeluh sakit kepala dan tidur tidak nyenyak
  • Kualitas pekerjaan menurun
  • Mudah menyerah dan merasa stress
  • Menarik dari dari lingkungan sosial yang biasanya disukai
Apakah anda merasakan gejala - gejala diatas? Jika ya maka anda sedang mengalami social exhausted. Sayapun demikian padahal saya termasuk kaum ekstrovert.
Ketika saya mulai merasa bosan dan malas bertemu dengan Mom's di sekolah anak, pada saat yang bersamaan saya juga merasa stress tanpa sebab, merasa sedih, malas mengerjakan tugas domestik terlebih memasak dan mencuci. Bukan itu saja, saya juga kerap menolak ajakan para Mom's untuk nongkrong sambil menunggu anak pulang sekolah atau makan bersama (botram).
Perkara tidak makan bersama bukan hal yang penting, tetapi jika urusan domestik jadi terbengkalai maka ini bukanlah hal yang sepele. Terlebih ketika saya merasa stress sepanjang waktu dan berlangsung selama berhari-hari. Bukan hanya urusan domestik yang terbengkalai tetapi juga kualitas membersamai anak dan kualitas berkomunikasi dengan pasangan jadi terganggu.
Cukup bahaya bukan? Lantas apa yang saya lakukan untuk mengatasi social exhausted yang saya alami?

Solusi Mengatasi Social Exhausted Bagi Ekstrovert


Biasanya saya mendapatkan energi yang cukup jika bertemu dengan orang banyak. Seketika batre saya terisi penuh dan mood saya bagus. Tetapi terkadang saya juga merasa lelah jika terlalu sering dan lama berkomunikasi dengan banyak orang.
Terlebih saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Bukan itu saja, saya juga bertemu dengan orang dengan sudut pandang yang bertentangan dengan value yang saya miliki dan saya merasa toxic jika berkomunikasi dengan orang tersebut. Entah orang tersebut terlalu narsis yang selalu membicarakan dirinya sendiri atau terlalu sering mengajak Ghibah secara tidak sengaja.
Ini tidak aneh.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikolog University of Pennsylvania, Scott Barry Kaufman menemukan bahwa kaum ekstrovertpun bsa mengalami social exhausted.
Penelitian tersebut melibatkan  48 orang ekstrovert selama 12 hari dimana responden diminta untuk mengisi survei sebanyak lima kali setiap hari terkait kegiatan dan perasaan mereka selama 12 har bersama 48 orang responden lainnya.
Hasil penelitian Kaufman menemukan bahwa sresponden merasakan energi positif namun setelah tiga jam bersosialisasi, responden merasa kelelahan. Ternyata semua orang akan merasa lelah jika terlalu banyak melakukan interaksi sosial.
Hal yang fatal justru terjadi pada kaum ekstrovert dimana mereka tidak mengenali gejala social exhausted dan justru melakukan interaksi berlebihan. Bukan tanpa sebab, hal ini disebabkan adanya rasa takut yang dialami kaum ekstrovert akan kehilangan lingkaran pertemanan dan takut kehilangan moment serta merasa harus melakukan sesuatu karena merasa orang lain berharap demikian.
Itulah yang saya rasakan terlebih saya menjabat wakil ketua POMG di sekolah anak yang artinya, saya merasa harus selalu hadir dan bertemu dengan para Mom's setiap hari sambil menunggu anak pulang sekolah. Hal ini justru membuat saya lelah karena keharusan yang sebenarnya tidak wajib sehingga saya mengesampingkan tugas domestik dan saya lakukan setelah pulang sekolah anak.
Aktivitas yang seperti ini saya lakukan secara terus menerus selama dua bulan terakhir. Akhirnya saya merasa lelah sendiri karena menungggu anak pulang sekolah sambil berinteraksi saja sudah membuat saya lelah, lantas pulang sekolah anak saya segera melakukan tugas domestik seperti memasak, mencuci baju, menyetrika dan membersihkan rumah.
Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti.
Berhenti dari merasa memiliki keharusan utuk selalu hadir dan mengikuti kegiatan para Mom's yang sebetulnya tidak terlalu penting. Saya tidak menarik diri dari interaksi sosial tetapi membatasi diri. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya punya Boundaries. Dan ini adalah value diri saya.
Jadi, setelah antar anak sekolah saya sempatkan bertemu Mom's dan bertegur sapa. Setelah 10 menit berlalu saya izin pamit pulang dengan alasan harus mengerjakan ini dan itu. Tiga jam kemudian setelah urusan domestik selesai saya kembali ke sekolah menjemput anak.
Awalnya memang agak cemas karena banyak kegiatan para Mom's yang saya lewatkan dan terkadang saya merasa menjadi outcast. Padahal tidak demikian. Para Mom's sebetulnya mengerti kesibukan Mom's lainnya dan tidak memaksa untuk ikut.
Setelah saya melakukan hal ini, perlahan saya merasa membaik dan tidak terlalu lelah. Tapi saya masih merasa stress. Karena rasa cemas yang saya rasakan terkait kualitas interaksi sosial dengan Mom's. Lalu saya kembali mengingatkan diri boundaries yang saya miliki. Saya terus mengingatkan diri terkait personal boundaries setiap saya merasa cemas.
Setia orang punya pertempuran sendiri. Termasuk diri sendiri. Ingat value! ingat!! jangan tergoda untuk kembali melakukan interaksi sosial lantas kamu merasa lelah stress setelahnya!!


quote ilustrasi social exhausted
Menggambar adalah me time terbaik-nya mamajokaa, membuat quote ala-ala seperti ini bisa menjadi self reminder ketika mengalami social exhausted dimasa yang akan datang

 

Sebagai penghiburan, saya melakukan Me time seperti menggambar dan hangout dengan teman dekat. Interaksi soail yang saya lakukan dengan teman dekat cukup membuat saya kembali bernergi dan merasa positif. Stress saya perlahan hilang dan saya merasa jauh lebih baik.
Saya juga melakukan roadtrip kuliner di lingkungan rumah saya. Sederhana saja, seperti membeli makanan favorit bersama suami dan anak-anak. Makan bakaso favorit, ngemil es krim bareng anak dan pesan martabak via gofood di malam hari.
Setelah saya merasa jauh lebih baik, saya kembali menulis jurnal harian dan menulis mind mapping apa yang ingin saya lakukan kedepannya serta menulis skala prioritas. Kegiatan ini lah yang paling membuat saya merasa tenang. Dengan berpegang teguh pada catatan skala prioritas, saya tidak lagi merasa punya kewajiban untuk selalu hadir dalam lingkaran pertemanan Mom's di sekolah dan melakukan interaksi sosial berlebih.
Jika saya merasa rindu, sesekali saya menyiapkan waktu untuk sengaja menunggu anak pulang sekolah dan berinteraksi dengan Mom's. Tetapi untuk itu maka saya harus menyelesaikan tugas domestik seluruhnya sebelum berangkan mengantar anak sekolah. Cukup lelah dan merasa diburu waktu, tetapi ini saya lakukan hanya setiap hari jum'at saja dimana waktu KBM anak disekolah hanya 1,5 jam saja. Maklum, hari jum'at memang kegiatann anak TK di sekolah memang tidak banyak.
Lantas kesimpulan apa yang bisa kita ambil dari solusi yang saya lakukan ketika mengalami social exhausted untuk kamu ekstrovert? berikut solusinya :

1. Membuat batasan diri ( setting our personal boundaries)
Personal boundaries adalah membuat batasan diri sendri terhadap orang lain atau lingkungan sekitar, demi menciptakan kenyamanan diri (sehatqu). Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda ketika berhadapan dengan orang lain dan atau situasi tertentu. personal boundaries dibuat agar hidup terasa lebih nyaman. Personal Boundaries memungkinkan kita dapat menyampaikan kebutuhan dan keinginan kita sekaligus menghormati keinginan dan kebutuhan orang lain.
Misalnya, tidak lagi merasa bersalah atas apapun, tidak perduli terhadap pendapat orang lain yang dirasa toxic bagi diri, tidak lagi merasa gak enak, tidak lagi merasa harus melakukan segala sesuatu sendiri karena merasa bertanggung jawab atas apapun, membagi waktu seimbang antara diri sendiri, keluarga dan interaksi sosial. Contoh personal boundaries yang saya ceritakan diatas termasuk jenis personal boundaries emosi dan waktu. Kita dapat membuat personal boundaries lainnya terkait perihal intelektual/mental dan material.
Dengan menetapkan personal boundaries kita dapat mengatasi social exhausted dimana umumnya  ekstrovert memiliki keinginan untuk terus melakukan interaksi sosial dan terbuka terhadap hal apapun. Rasa lelah akibat interkasi sosial berlebih dapat diatasi dengan membuat batasan diri.
2. Me Time
Melakukan hobi atau kegiatan yang dsukai dapat membantu mengatasi social exhausted untuk  ekstrovert. Sediakan waktu khusus hanya untuk diri sendiri, misalnya untuk pergi ke salon, bioskop atau sekadar hangout sendirian di cafe atau jalan - jalan ke toko buku. Me time dapat menurunkan kadar stress akibat interaksi sosial berlebih. Chill time yang dirasakan saat me time terbukti ampun sebagai release energi berlebih dan rasa lelah akbiat social exhausted.
3. Melakukan interaksi sosial terbatas dengan teman dekat

Me Time bertemu teman dekat
Me Time bertemu teman dekat

Interaksi yang intim dengan teman dekat dapat membantu release stress akibat social exhausted. Komunikasi yang terjalin cukup deep dan memungkinkan kita untuk bisa bekeluh kesah dengan teman terpercaya.
4. Menulis jurnal harian
Mengurai apa yang sedang dirasakan dapat menjadi solusi terapi rasa lelah dan stress akibat social exhausted. Dengan menulis jurnal kita dapat melihat akar permasalahan dan mencaro solusinya.
Solusi yang cukup mudah dan sederhana untuk dilakukan tetapi dibutuhkan kesadaran diri bahwa kita sedang mengalami social exhausted.

Kesimpulan

Jika anda merasa lelah setelah berinteraksi sosial baik dalam lngkungan pekerjaan, pendidikan maupun interkasi sosial di sekolah anak seperti saya padahal anda merasa anda ekstrovert, maka jangan ragu untuk segera mencari tahu dan evaluasi diri. Karena bisa jadi anda mengalami social exhausted.
Segera kenali gejalanya dan anda bisa melakukan tips soulsi mengatasi social exhausted untuk mau ekstrovert seperti yang saya lakukan.


Referensi :
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220915162728-277-848393/jangan-salah-si-ekstrovert-social-butterfly-juga-sering-lelah-gaul
  • https://akurat.co/kenali-tanda-dan-cara-mangatasi-social-fatigue-bagi-ekstrovert?page=3
  • https://www.sehatq.com/artikel/pentingnya-personal-boundaries-untuk-kesehatan-mental







cerita gosok baju yang seru dan asyik di simak



Ada aja yang cerita dibalik nyetrika gak kelar - kelar, setuju buibu? acara gosok baju emang yang paling malesin dan nyebelin sih. The never ending story emang karena gak pernah kelar. Begitu di setrika, eh besok udah nangkring lagi calon baju setrikaan di jemuran. Harus banyak - banyak sabar ya dan gak nyerah sama mood, hehe.

Terus, nyucinya sebentar tapi giliran nyetrika bisa sampai tamat 3 episode bahkan lebih serial drakor atau dorama. Tapi kalau baju gak di setrika ya kasian orang rumah, tega gitu kita kasih baju gak rapi? aku sih gak. Jadi ya, sebisa mungkin tetep disetrika kalo mood. Minimal baju anak-anak atau bapaknya lah. Baju kita? setrika dadakan lah, wkwkwkwk. At least gak nyesel, tapi happy lihat anak dan suami pake baju rapih.

Tapi soal nyetrika ini aku dikasih kelonggaran sih sama suami. Kalo aku gak mood, baju dia gak usah disetrika, di lipet aja. Karena toh selalu pakai jaket kalo keluar rumah. Oke sih cara ini, jadi bisa hemat energi nyetrika. Dan kalo cape, tinggal ke laundry aja. Aku sih enak aja ya, hahaha. Soalnya suami males nyuci baju dan ogah bantuin! hiks. Gpp sih, selama dia bayarin ke laundry, aku happy! hahaha.

baju gak terlalu kusut di lipat aja
Hemat energi nyetrika dengan cara lipat baju yang gak terlalu kusut


Cerita dibalik nyetrika versi aku banyak. Dari sebelum nikah sampai punya dua anak yang gemesin tingkah lakunya sampai emak susah buat nyetrika. Lantas milih ke laundry aja kalo udah kepepet. Termasuk juga pengalaman gonta-ganti merk setrikaan dan cari waktu nyetrika yang oke.

Kapan aku Nyuci dan Nyetrika Baju?


Baik sebelum nikah atau sekarang waktu nyuci dan nyetrika aku ya sama aja. Biasanya aku nyuci seminggu sekali atau kalau lagi dateng wahyu nih, aku nyuci tiap 3 hari sekali. Tapi itu jarang.

Sempet sih nyuci tiap hari, waktu Keenan dan Kilan masih bayi. Ya iyalah baju bayi baru brojol kalo gak dicuci ya gak ada yang kering buat dipake. Jadi sistemnya cuci lalu jemur dan langsung setrika begitu udah kering. Dalam keadaan masih sakit nahan jahitan lahiran juga aku rajin nyetrika, demi bayi bisa pake baju bayi yang lucu dan bersih juga wangi.

Ibu mertua bahkan nyaranin aku terus nyuci tiap hari. Ada kata bijak setrika yang selalu meluncur mulus dan diucapkan dengan bangga oleh beliau setiap kami ghibah soal setrikaan.

“ Nyuci di cicil tiap hari biar gak cape, hati tenang  “

Tapi maaf ibu mertua, aku malah cape kalo nyuci tiap hari. Baju yang belum di setrika jadinya numpuk di kamar dan aku males liatnya, hehehe.

Biasanya calon baju setrikaan aku lipat dan ditumpuk di keranjang terus aku tutup pake kain setrikaan. Biar banyak tapi gak keliatan berantakan. Aku paling sebel lihat baju setrikaan numpuk di kursi atau kasur, ganggu mata gitu. Jadi biar kata males nyetrika tapi kalo liat baju setrikaan rapi aku agak semangat sih buat nyetrika. Meski tiap lihat seakan mereka manggil - manggil gitu,
“ ayoo eka, setrika aku….setrika akuuuuu”,
Hihihihi (^o^)  Rasanya emang kaya ada yang ganjel gitu tiap lihat tumpukan baju setrikaan.

Gaya Nyuci dan Nyetrika khas Aku

Aku mau cerita nih gaya nyuci baju dan nyetrika aku. Siapa tahu eh samaan atau malah beda dan terinspirasi biar acara gosok baju dan nyuci baju jadi asoy.

Gaya Nyuci Baju


Aku paling gak bisa nyuci kalo gak langsung pake air dari kran. Rasanya gak bersih aja. Almarhum nenek ku dulu pernah ngajarin nyuci dan beliau ngajarin aku bilas cucian langsung dari kran. Jadi gak sediain air di baskom atau jolang besar trus bilas. Rasanya emang gak bersih sih kalo begitu. Kalo pake air mengalir, si air di jolang kan jadinya tergantikan dan aku gak perlu bilas baju pakai 2 apalagi sampai 3 jolang. Ribet kan kalo begitu.

Setelah punya mesin cuci, tentu pekerjaan nyuci jadi lebih ringan. Cukup masukin air, detergen dan nunggu sambil makan indomie, wkwkwk. Tapi tetep sih, acara ngebilas aku misah pake jolang. Gak di mesin cuci.

Sekarang setelah mesin cuci rusak, aku nyuci manual. Nyeuseuh baju atau nyuci baju pake tangan! hahaha. Lama-lama sih biasa begini, cuman emang cape. Lagi nabung nih pengen punya mesin cuci dua lubang. Semoga tahun depan bisa kebeli. Termasuk wishlist juga.

Gaya Nyetrika


gaya nyetrika versi mamajokaa
gambar baju setrikaan numpuk dari unsplash


Kalo pake mesin cuci, biasanya jemuran lebih cepet keringnya jadi aku bisa langsung nyetrika malam hari nya. Tapi sekarang, aku nunggu besoknya atau entah kapan! wkwkwk. Itupun bergelut dulu sama rasa malas dan kepengen ngeblog atau ngegambar. Sok sibuk banget ya mom blogger illustrator yang satu ini, yaitu aku! wkwkwkwk. Wah sungguh pergulatan batin yang gak mudah, hahaha.

Begitu wahyu nyetrika dateng, aku langsung nyetrika kaya orang kesetanan. Bisa seharian nyetrika. Cape? iya, pegel badan? tentu. Tapi puas sih kalo lihat lemari penuh baju rapi dan keranjang setrikaan kosong! hahahaha.

Biar acara gosok baju lebih asoy, biasanya aku ditemani nonton film. Dari marathon drakor sampai film hollywood. Dengerin podcast? kadang. Film jenis apa? tentu film aksi. Kalau drama kan kudu fokus ya, kalo gak ya gak bakalan ngerti. Kecual drakor yang emang lagi ditonton.

Selain film, acara nyetrika juga ditemani kuliner-an. Dari ngemil coklat, ciki sampai bikin es susu coklat. Dari kepincut mang bakso lewat sampai minta dibeliin martabak sama pak suami, hehehe.

Acara gosok baju Ini belum termasuk iklan ya. Kalau udah punya anak banyak iklannya. Anak minta jajan, anak pengen PUB, anak main kotor jadi harus dikeramas rambut lah, anak pengen dibikin indomie, anak berantem sampai anak nangis-nangis gak jelas. Biasanya kalau iklanya udah kelewat sering nongol, acara gosok baju sering berakhir gitu aja karena mood nyetrika-nya ambyar. Keburu males.

But thanks to UMKM laundry deh. Kadang kalo gak sempet nyuci nyetrika karena kerjaan, lagi liburan atau sakit ya aku tertolong berkat UMKM ini. Milih laundry juga gak bisa sembarangan. Karena tiap Laundry beda cara nyuci, jenis detergen, jenis pengharum sampai cara melipat baju. Aku ada langganan sih, bukan laundry yang mejeng pinggir jalan tapi ibu-ibu yang laundry di rumahnya. Dan aku puas dengan hasil dan harga nya, hehehe.

Alat Nyetrika Favorite


Karirku dalam dunia nyetrika dan nyuci udah dimulai sejak kelas 4 SD, sekitar usia 9 tahun. Aku inget pertama kali lihat setrikaan itu setrikaan pake arang. Jadul banget kan? nenekku pernah pake itu. 

setrikaan jadul pake arang dan setrikaan besi
gambar setrikaan jadul dari unsplash

Gak kebayang deh kalo teknologi gak berkembang dan kita masih pake setrika arang. Repot banget Ya Tuhan. Ogah pake nya. Tapi lucu juga sih setrikaan jadul ini dijadiin hiasan. Aku suka furniture berbau vintage dan setrikaan uap gini aku pengen koleksi.

Setrikaan besi juga aku pernah ngalamin. Pake punya nenekku juga. Beratnya setrikaan besi ini MasyaAllah deh. Udah gitu lama panasnya dan sekalinya panas urusan kena siku atau lengan udah jadi hal biasa. Odol jadi penyelamat akhirnya karena zaman itu kan belum kenal Bioplacenton buuu, hehehe.

Sekarang off course aku pake setrikaan listrik dong. Aku pake merk apa? sekarang aku pake merk Maspion dan setia pake ini udah hampir 3 tahun lamanya. Yang namanya alat teknologi, harga dan kredibilitas brand gak bohong. Harga murah dan brand kaleng, ya hasilnya juga bisa ditebak. Tapi gak selalu begitu. Merk lokal juga oke lah. Oke harganya juga panasnya.

Tiap merk ini beda- beda level panasnya. Yang paling oke sih Panasonic ya. Setrika panasonic punya ibu mertuaku udah ada sejak 15 tahun kebelakang, bahkan lebih kayanya. Setrikaannya masih utuh dan bagus. Panasnya gak berubah. Yang berubah cuman kabelnya aja. Kadang suka ikut ke setrika dan meleleh atau karena arus pendek jadi mati. Ya tinggal kabelnya aja yang diganti.

Tapi merk selain itu, ya selain kurang panasnya juga cepet rusaknya. Gimana dengan merk Philip? ini juga bagus. Tapi aku gak puas karena kurang panas bahkan gak panas marisol, hiks! aku pake yang warna ijo. Tapi ini setrika ringan banget. Jadi aku kasih adik iparku aja waktu dia pindah ke iran dan pengen bawa setrikaan. Karena? ringan! hahaha. Jadi kuota bagasi bisa nambah kan? wkwkwk. Sejak saat itu aku pake yang merk Maspion sampai sekarang.

Cerita Dibalik Nyetrika Versi Bu Ibu Gimana?


Ngaku deh, tiap lihat meme nyetrika di sosmed kita seakan relate dan ngangguk kepala sambil ketawa. Bener kan? merasa terwakilkan ya buibuuu, hehehe. Semoga cerita dibalik nyetrika versi mamajokaa bisa mencerahkan ya dan bikin semangat nyetrika. Walau i know, malesnya amit amit deh! hahahaha

Aku pengen tahu dong cerita dibalik nyetrika ala-ala ibu-ibu atau bapak-bapak, teteh dan akang kaya gimana. Pasti sesuai lah dengan gaya hidup masing-masing ya. Yuk cerita di kolom komentar ya, seru juga kali ya, hihihi.

Selamat nyetrika,
Mamajokaa
tips biar gak jadi orang gak enakan
free images from unsplash


Awal Jadi Orang Gak Enakan


Berawal dari keharusan memenuhi permintaan sang ayah secepat kilat tanpa cela, ayunda tumbuh menjadi orang gak enakan. Menjadi orang gak enakan menjadi profesi yang sudah dia tekuni sejak kecil. Jika tidak, murka ayahanda akan ia terima. Takut akan murka dan hukuman yang mungkin diterima, ayunda mengiyakan segala permintaan dan perintah ayahanda tanpa protes apalagi demo.

Pemberontakan hanya bisa dia lakukan dalam khayalan yang sering ia lakukan sebelum tidur hingga terbawa mimpi. Lantas terbangun dengan realita yang sama keesokan harinya. Nampaknya hal ini menjadi benih sugesti alam bawah sadar dia yang kerap muncul ketika dia berhubungan dengan orang lain terutama orang terdekat, yaitu teman.

Ayunda menjadi orang gak enakan bukan hanya pada ayahnya, tapi pada teman - temannya. Dia merasa tidak enak jika harus menolak ketika temannya meminta bantuan. Daripada melihat temannya kecewa, Ayunda kerap menawarkan bantuan bahkan tanpa diminta. Intinya Ayunda merasa tidak enak jika tidak bisa ikut berkontribusi.

Mengapa? Ingin dicap sebagai orang baik dan penolong? bisa jadi . Kemungkinan lain adalah, ayunda sulit menolak dan membenci penolakan. Dia benci di jauhi lalu kehilangan teman. Lebih baik dia menjadi people-pleaser daripada kehilangan teman. Bayangan kekecewaan orang lain ketika menerima penolakan darinya menjadi mimpi buruk bagi ayunda.Takut mengecewakan dan berakhir tidak memiliki teman.

Ayunda juga tipe pemegang motto motor honda yang selalu terdepan, yang terdepan dalam menawarkan segala bantuan. Ayunda menjadikan sifat people-pleaser nya menjadi kunci utama dia bersosialisasi dengan orang lain. 

Dia merasa takut kalau dicap sebagai orang tidak berguna. Jika dia punya kekuatan super power, dia ingin menyenangkan semua orang tanpa cela. Bahkan, Ibarat Stockholm Syndrome walau terkadang dia kerepotan, Ayunda tidak bisa berkata tidak. Dia merasa gak enak jika harus menolak permintaan orang lain walau dia sendiri sedang dalam kapasitas tidak mampu. Misal lelah, bad mood atau memang dia tidak bisa. Demi memuaskan dan menyenangkan teman, perkara tidak bisa ini bukan hal sulit bagi Ayunda. Dia akan berusaha semaximal mengulik apa yang tidak bisa dia lakukan.

Ayunda yang sudah menjadi orang gak enakan, tentu merasa tidak enak jika harus melakukan penolakan. Pernah Ayunda melakukan penolakan, seketika perasaan gak enak menyeruak dalam dada. Ayunda Pun mengalami kesulitan tidur dan terus dibayangi perasaan bersalah hingga berhari-hari.

Bukan hanya itu, ketika temannya melakukan kesalahan padanya maka Ayunda akan berubah menjadi malaikat dan memaafkan secepat kilat tanpa argument. Mengapa Ayunda bisa melakukan semua itu? menjadi people-pleaser dan orang gak enakan?

Nampaknya ini berhubungan dengan penilaian terhadap diri sendiri, minder dan perasaan takut kehilangan teman. Bukan hanya soal memuaskan permintaan orang lain, Ayunda juga kerap meminta maaf untuk kesalahan yang tidak dia lakukan. Apalagi untuk kesalahan yang memang tidak dengan sengaja dia lakukan, dia akan meminta maaf seperti seorang pendosa besar. Meminta maaf berkali - kali hingga orang lain merasa jengah.


Titik Balik


Pada suatu masa, Ayunda mengerjakan tugas mata kuliah bersama tiga teman kuliahnya yang lain. Mereka satu kelompok dalam satu mata kuliah selama satu semester. Sebuah tugas kuliah berupa presentasi yang harus selesai dikerjakan dalam waktu seminggu.

Seperti biasa Ayunda menawarkan pengerjaan interview dan mengambil data. Sementara tiga teman lainnya bertugas mengolah data, mengetik, print laporan dan menjilid. Slide presentasi siapa yang mengerjakan? siapa lagi kalau bukan Ayunda? diantara temannya yang lain Ayunda dinilai yang paling memiliki nilai artistik walau gak bagus- bagus amat .

Tugas presentasi milik kelompok Ayunda berhasil mendapat nilai bagus. Dan disetiap tugas kelompok mereka berhasil mendapat predikat kelompok terbaik. Tentu sebuah prestasi yang membuat Ayunda dihujani pujian dari teman-temanya. Pujian atas kerja kerasnya mengumpulkan data dan membuat slide presentasi yang bagus. Ayunda tentu merasa sangat bangga.

Namun kerjasama ini tidak selalu berjalan mulus layaknya porselin. Beda pendapat dan pertengkaran kecil kerap terjadi. Namun Ayunda lebih banyak mengalah dan menerima semua masukan, kritikan dan koreksi dari teman - temannya. Dia tidak mampu menolak, protes atau bahkan membuka pendapatnya sendiri. Mengapa? karena setiap kali dia membuka suara maka opininya akan dibantai habis oleh teman- temannya dan dianggap tidak valuable. Rupanya peran Ayunda dalam kelompok tugasnya hanya sebagai kacung.

Iya, kacung pengumpul data dan penyaji bahan presentasi. Karena sikapnya yang tidak tegas membuat segala opininya dinilai kurang akurat dan tepat. Kurang kredibel lah istilahnya. Jadi demi menghindari pertengkaran, Ayunda lebih memilih iya-iya saja. Kalau di film-film, peran Ayunda ini mirip looser ya?

Hingga akhir semester, tugas ayunda sebagai kacung masih dilaksanakan dengan baik. Tugas terakhir pun akan segera rampung. Seperti biasa Ayunda bertugas melakukan wawancara dan mengumpulkan data statistik serta membuat slide presentasi setelah laporan dibuat oleh teman-temannya yang lain. Mungkin karena pada saat itu Ayunda sedang berada dalam kondisi lelah, ayunda salah input data di slide presentasi. Hal ini berakibat pada gagalnya kelompok tugas Ayunda memperoleh nilai bagus.

Tentu, teman-temannya berang dan marah. Namun kali ini Ayunda tidak tinggal diam seperti biasanya.

Yess! Soal kesiapan melakukan interview hingga ke pelosok, siang hari panas - panasan atau kena hujan tentu Ayunda jagonya, namun hal ini berdampak pada penilaian orang lain yang menganggap Ayunda sempurna tanpa cela. Akhirnya ketika Ayunda melakukan kesalahan, orang lain tidak akan segan protes dan mengoreksi kesalahan dia dengan bahasa yang menurut ayunda kasar. Sekali - dua kali perkataan temannya mungkin akan diabaikan karena dia lebih menghargai pertemanan.

Tapi, kucing saja kalau ekornya di injak akan balas menyerang. Ayunda pun sama. Walau Ayunda memang termasuk orang gak enakan, kalau terlalu sering diperlakukan “kasar” ketika dia melakukan kesalahan dia akan membangun benteng pertahanan. Pasalnya, ketika teman satu kelompoknya melakukan kesalahan, misal laporan belum di jilid padahal besok harus diserahkan, dengan segera Ayunda memaafkan tanpa protes dan inisiatif menjilid meski sudah larut malam. Dan hal ini sering dia lakukan.

Akhirnya Ayunda merasa diperlakukan tidak adil ketika teman-temannya marah akibat kesalahan dia di tugas terakhir. Ayunda mulai berpikir dia tidak bisa selamanya menyenangkan orang lain. Mau dia kerja keras ataupun tidak, saat dia melakukan kesalahan maka orang lain hanya akan melihat satu kesalahan dia dan lupa dengan ribuan kebaikan yang sudah dia lakukan.

Kali ini Ayunda melawan. Dia membela diri dan mengemukakan fakta kesalahan teman-temannya yang harus ditanggung walau dia kelelahan. Kali ini dia mencoba cuek dengan perasaannya sendiri. Ayunda mulai cuek dan berani bertindak untuk kesehatan mentalnya. Ayunda ingin bangkit menjadi orang yang memiliki prinsip dan tegas.

Bukan tanpa tim hore, selain karena jengah diperlakukan tidak adil, perubahan sikap Ayunda ini merupakan dampak positif dari membaca buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson.

Tentu sikap Ayunda ini membuat teman sekelompoknya tercengang dan tidak menyangka. Gadis yang biasanya manggut - manggut saja bisa berontak dan membela diri. Perubahan sikapnya ini memang berakibat timbulnya permusuhan antar teman. Tapi Ayunda tidak menyesal. Apakah ini sepadan? tentu. Karena teman yang baik akan berkata lemah lembut saat temannya melakukan kesalahan dan ikut membantu memperbaiki kesalahan. Bukan sekedar protes tanpa aksi. Jelas teman satu kelompoknya bukan teman yang baik.

Kamu Bukan Malaikat, Berhentilah Menjadi Orang gak enakan


Ada banyak Ayunda - Ayunda di luar sana dengan gejolak batin dan permasalahan yang sama. Seperti kamu misalnya. Iya kamu yang sedang membaca tulisan ini dan merasa seperti Ayunda di kehidupanmu.

Berhentilah menjadi orang gak enakan. Karena rasanya sungguh gak enak. Agama memang mengajarkan untuk selalu berbuat baik dan menawarkan bantuan tanpa diminta karena bernilai pahala. Tapi kamu bukan malaikat dan tidak punya super power untuk selalu bisa mengerjakan semua hal dan menyenangkan banyak orang.

Berbuat baik sampai batas tidak wajar seperti mengabaikan kesehatan baik fisik terlebih mental sangat tidak disarankan. Jangan sampai setelah berbuat baik dengan “terpaksa” berujung kamu mengalami mental breakdown. Lantas bikin puisi galau dan disematkan di semua status sosmed yang kamu punya.

Sebetulnya, respon dan sikap orang - orang terhadap kamu gak salah-salah amat. Sikap kamu yang jadi orang gak enakan dan gak tegas sudah sewajarnya membuat orang-orang disekitarmu berasumsi bahwa kamu orang serba bisa dan woles. Jadi orang bisa dengan tidak sengaja memperlakukanmu seenak jidat. Mereka gak bener - bener niat ngeremehin kamu lho, nyatanya mereka bergantung dengan skill yang kamu punya tapi juga dengan tidak sengaja memperlakukanmu layaknya keset welcome. itu karena kamu tidak tegas dengan posisi kamu sendiri.

“ Ah si A mah bisa lah ngerjain ini “
atau
“ Ah si A mah dimarahin juga ntar ngajak baikan lagi”

Dua kalimat itu bisa jadi merupakan persepsi yang mereka miliki tentang kamu.

Lantas Aku Harus Bagaimana?


Pertama, 

Latihan berkata TIDAK saat kamu dimintai bantuan tapi kamu sedang dalam keadaan gak mampu. Misal cape, badmood atau emang kamu gak bisa ngerjainnya karena gak punya skill. Jangan sekali - kali memaksakan diri untuk mencoba. Kecuali sepadan dengan hasil yang bakal kamu punya, Misal kamu diminta manjat pohon kelapa setinggi 30 meter, gile aja!! emang kamu elastic girl? kecuali dengan belajar naik pohon kelapa bisa bikin kamu berani ikutan panjat tebing, ya oke-oke aja.

Kedua, 

Belajar cuek dengan pendapat orang lain atau kemungkinan - kemungkinan yang kamu pikirkan tentang pendapat orang lain mengenai kamu. Abaikan suara setan dalam benakmu yang membuatmu berpikir orang bakalan berfikir negatif tentang kamu kalau kamu menolak permintaan mereka.

Kadang permasalahan utama adalah kamu terlalu baper dan overthinking dengan banyak hal, termasuk opini publik. Padahal sih opini publik hanya akan terbentuk karena ada aksi dan reaksi dari diri kamu sendiri. Walaupun toh kamu menolak permintaan orang lain, gak akan jadi masalah sebetulnya buat orang tersebut. Kalau kamu gak bisa ya dia bakalan nyari orang lain. Berhenti memiliki motto, “ sagala hayang diraup ku siku “ yang artinya, berhenti berusaha menghandle segalanya.

Ketiga, 

Berhenti mengucap maaf berkali - kali saat menolak atau saat melakukan kesalahan, Cukup satu kali saja. Ucapkan dengan tegas. Itu saja sudah cukup. Dengan berkali - kali meminta maaf pun tidak akan mengubah keadaan, Yang ada mereka hanya merasa jengkel karena mereka sudah feel oke dengan penolakan kamu atau malah sudah memaklumi kesalahanmu.

Keempat, Terima resiko.


Berbeda pendapat atau argumen itu kerap terjadi. Seperti kasus Ayunda, ada kemungkinan kamu juga akan mengalami hal yang sama ketika merubah sikap menjadi tegas. Yaitu kehilangan pertemanan. Terima resiko itu dengan lapang dada. Mengapa? dengan begitu kamu akan bisa lebih melihat mana teman yang memang layak menjadi temanmu dan yang tidak.

Empat poin di atas bukan tips ya, hanya saran. Ibarat lagu, semua terserah padamu. Mau move on dari menjadi orang gak enakan atau gak.

Waduh, Saya termasuk Kategori Teman si Ayunda nih

Well, pahamilah guys bahwa sebagai teman yang baik, sebaiknya kamu bisa lebih bersikap dan berkata lemah lembut bahkan ketika marah pada temanmu. Jangan mentang - mentang kamu merasa fine aja dengan temanmu yang selalu patuh lantas seenak jidat bersikap. Justru karena kamu teman baik maka harus lebih menjaga sikap dibandingkan kepada orang lain. Teman baik susah dicari lho. Apalagi yang selalu setia ada di sisi terburukmu dan selalu menyemangatimu.


Jangan meminta tolong terlalu sering. Walaupun terpaksa mintalah dengan baik-baik dan tanyakan apakah dia sedang sibuk atau tidak. Dan mintalah ketika kamu memang benar-benar tidak dapat melakukannya sama sekali.


Satu lagi, jika temanmu melakukan kesalahan atau lupa , ingatan dengan baik-baik. Sekiranya dia lupa, bukan hal besar sebetulnya. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan untuk meringankan pekerjaannya. Tidak perlu menggerutu lantas marah-marah. Mengapa? coba perhatikan, apa dia pernah protes saat kamu lupa? marah-marah saat kamu melakukan kesalahan?


“Tapi temanku ini selalu lupa dan selalu bikin kesalahan” , ya sudah maklumi - pahami dan maafkan. That's what are friends for.
Tidak Percaya Tuhan




Ketika Kamu Tidak Percaya Tuhan, apa yang akan kamu lakukan? marah lantas meninggalkan sholat? mengapa kamu sampai tidak percaya Tuhan? Tidak percaya Tuhan atau marah pada Tuhan?

Saya tahu, gelombang kehidupan bisa begitu dahsyatnya. Keterpurukan tidak hanya akan dialami satu atau dua kali. Bisa jadi berkali - kali. Adalah hal yang sangat manusiawi ketika pada akhirnya kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, Allah SWT.
Benarkah Allah itu ada? bukan hanya isapan jempol semata? atau ciptaan seorang manusia yang putus asa? bukti ilmiah nya apa? apa yang membuktikan Allah itu ada? Lantas jika memang Allah ada, mengapa hidup saya selalu terpuruk? ini tidak adil! saya marah!
itulah pertanyaan yang sering saya rasakan ketika terpuruk. Rupa-rupanya hasil mengaji dan mengeruk ilmu agama sejak usia belia tidak mampu menopang tiang keimanan saya. Bahkan ujian yang berkali - kali datang menghampiri saya sejak kecil tidak lantas membuat iman saya semakin kuat. Bahkan di usia saya saat ini.

Menumbuhkan kembali rasa percaya sama sulitnya dengan mengembalikan kepercayaan saat kita dikhianati teman atau pacar yang selingkuh. Terlebih jika kita disakiti teramat sangat.

Lantas yang teringat ucapan sahabat saya semata wayang,
Iman itu perlu di pupuk. Solat perlu dipaksakan dan mulailah dengan membaca satu ayat saja dari Al Quran. Paksakan! 
Lalu ketika iman saya terlempar jauh, saya coba melakukannya. Hasilnya memang bukan solusi dari permasalahan yang saya dapat, tapi ketenangan hati. Melalui ketenangan hati inilah maka saya dapat mencari solusi dari permasalahan saya.

Random gak sih? jadi, saya sedang mengalami beberapa permasalahan yang dirasa cukup berat. Pertemanan yang tidak sehat, usaha yang mandek dan proyek yang berkali-kali memperlihatkan titik terang tiba-tiba sirna begitu saja tanpa progress sama sekali. Dalam keadaan hati bimbang saya bekerja dalam keadaan tidak fokus. Akibatnya, satu proyek yang sedang saya kerjakan hampir lepas dari tangan saya sepenuhnya.

Tapi Allah masih menyelamatkan saya bahkan dalam situasi saya “marah” pada Allah. Masih dalam ibadah yang dipaksakan, saya berdoa memohon agar proyek saya tidak lepas begitu saja. Alhamdulillah, pimpro berusaha menyelamatkan saya dari kesalahan yang saya buat karena tidak fokus. Dan saya masih mendapatkan fee walau hanya setengahnya. Itu saja sudah cukup bagi saya membayar tagihan - tagihan.

Kemudian saya tersadar, Allah sama sekali tidak membutuhkan manusia. Tetapi kita manusia yang membutuhkan Allah. Bagaimana iman saya bisa bertambah kuat jika sholat saja selalu di akhir waktu, tadarus jarang dan tahajud hanya dikerjakan saat kepepet?

Bagaimana iman bisa terus tumbuh jika ruh jarang diberi makan nasihat dan tausiah. Hati tak pernah diperdengarkan lantunan ayat Al Quran dan mulut langka berdzikir?

Bagaimana Allah akan masuk dan menetap dalam hati? dalam keadaan masih bingung saya membuka terjemahan dan tidak sengaja menemukan ayat ini,

Katakan lah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembali lah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah diri lah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat di tolong (lagi). (QS. Az Zumar {39} : 53-54).

 dan ayat ini

Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan. (HR. At-Tirmidzi no.3540)

La Tahzan, La Tahzan. Jangan bersedih. Dalam situasi apapun, Allah selalu ada di sisimu dan menemanimu. Sapalah hati agar lebih dekat Dengan-Nya.

Bukan perkara kamu tidak percaya Tuhan, tapi kamu marah pada Tuhan. Layak kah kamu marah pada DZAT maha kuasa memberikan segalanya saat kamu meminta? Mintalah, mintalah dan mintalah. Saat kamu sakit lalu berserah diri dan Allah sembuhkan dengan caraNya, masih ingat kan?

Manusia memang egois, kamu egois dan aku egois. Hanya berlari pada Allah saat terjatuh dan lupa saat mendapat apa yang diinginkan. Kembalilah padaNya segera, saat ini juga sekarang juga,

Ambil air wudhu dan bertobatlah, Mulai lah dengan hari yang baru. Hari yang selalu ada Allah dalam hati dan pikiranmu.






quote-motivasi-diri


Disepanjang perjalanan saya menggapai impian dan karir, ada satu quote yang selalu saya pegang dan saya gunakan sebagai senjata ampuh ketika saya berada dalam kondisi down.

“ Kamu boleh menyerah kapan saja, tapi tidak sekarang”

Quote ini berhasil membuat saya bertahan dan bangkit lalu melanjutkan usaha saya untuk meraih apa yang ingin saya lakukan.

Perjalanan Menemukan Impian


Menurut hukum Law Of Attractions, masa depan seseorang itu dibentuk oleh persepsi dan konsep terhadap diri sendiri. Jika kita menanamkan sugesti pikiran yang baik maka outputnya pun akan baik. Konsep diri atau sugesti ini bisa disebut juga cita - cita. Tidak salah memang, karena faktanya banyak orang yang sukses dan berhasil dikarenakan mengikuti keinginan atau cita-citanya sejak kecil.

Tetapi, tidak sedikit pula orang yang memegang teguh pada cita- cita sejak kecil tidak berhasil di bidang yang dia cita-citakan. Persoalannya bukan terletak pada fokus atau tidak fokus, tapi kepada takdir. Sebagai umat yang beragama, tentu kita tidak boleh tiba-tiba amnesia terhadap hal yang satu ini.

Ketika apa yang kita usahakan dengan segenap kekuatan dan pengorbanan yang tidak mudah pada akhirnya tidak berhasil, maka menerima ketentuan Allah adalah suatu keharusan. Seperti cerita perjalanan saya dalam mewujudkan cita-cita yang sudah saya ukir sejak saya kecil.

Saya percaya, setiap orang memiliki cita-cita. Menjadi Dokter, Guru, Pelukis, Penyanyi, Pengusaha dan lain sebagainya. Saya juga demikian. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah bercita-cita menjadi Pelukis, Ilmuwan atau Arsitek. Sebuah cita-cita yang saat itu saya anggap hanya sebatas keinginan saja, belum mendarah daging di dalam hati dan pikiran saya.

Mengapa? karena saat itu saya masih belum paham menjadi pelukis itu seperti apa dan bagaimana. Apalagi menjadi Arsitek dan ilmuwan. Saya memilih cita-cita menjadi Arsitek dan Ilmuwan dikarenakan cerita menarik dari ayah saya tentang profesi ini. Juga kegemaran saya membaca buku ensiklopedia untuk anak dan remaja dan para penemu hebat.

Meski tidak paham, kenyataannya apapun yang saya suka dan lakukan sebagai hobi memang tidak jauh dari dunia seni lukis , arsitektur dan ilmu pengetahuan. Saya senang menggambar sejak kecil dan kebetulan saya juga senang menggambar rumah. Hobi yang berlanjut hingga saya remaja. Bahkan ketika SMP saya pernah membuat kelompok ilmiah remaja.

Memilih Sekolah Teknik Menengah


Setelah lulus SMP, kecintaan saya terhadap ilmu pengetahuan menjadi bahan pertimbangan saya dalam menentukan jenjang pendidikan sekolah menengah atas selanjutnya. Bisa dibilang, saya Termasuk siswa yang anti mainstream dan tidak ingin seperti teman - teman saya yang lain yang memiliki ke SMA Umum, saya memilih melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah atau STM.

Sedikitnya informasi mengenai berbagai jurusan STM membuat saya melanjutkan sekolah tingkat atas ke STM Kimia jurusan Kimia Industri yang sekarang berganti nama menjadi SMKN 7. Memang agak menyimpang dari cita-cita saya menjadi Arsitek, tapi sedikit lebih dekat dengan cita-cita saya menjadi Ilmuwan.

Laboratorium menjadi arena bermain saya selama tiga tahun lamanya. Rasanya tentu senang luar biasa karena “bermain” praktikum kimia, mulai dari Kimia Dasar hingga Kimia Analisa dan Biokimia.

Gagal Masuk ITB dan Polban

Ketika teman-teman STM saya sibuk melamar pekerjaan setelah lulus sekolah, saya sibuk mencari dan memilih Universitas. Ya, alhamdulillah saya termasuk yang beruntung dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang Universitas.

Lupa akan cita-cita saya menjadi arsitek, saya memilih kampus dengan jurusan yang sejalan dengan pendidikan saya di STM yaitu Kimia Industri. Saya pun mengikuti UMPTN dengan pilihan Fakultas Teknologi Industri jurusan Teknik Kimia ITB dan Program Diploma Jurusan Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD) sebagai pilihan kedua.

Lalu berhasil kah saya? tidak, tapi saya lulus di UNPAD. Tentu saya kecewa dan bingung walau saya lulus di UNPAD. Karena, satu-satu nya pilihan saya agar bisa melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri yang sesuai dengan apa yang saya pelajari selama di STM hanya di ITB. Saya tidak putus asa, akhirnya saya mencoba mengikuti Ujian di Perguruan Tinggi Swasta yang memiliki jurusan Teknik Kimia di Politeknik Bandung ( POLBAN ).

Lalu berhasilkah saya? tidak. Saya kembali kecewa dan bersedih hati. Akhirnya daripada saya tidak melanjutkan kuliah, saya menerima melanjutkan kuliah di UNPAD. Setidaknya saya tidak terlalu kecewa, karena pertanian juga merupakan bidang ilmu yang cukup saya sukai.

Gagal Melanjutkan Jenjang Strata 1 dan Bekerja


Setelah saya lulus Diploma, saya berniat untuk kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Masih memilih Fakultas Pertanian, saya berpikir untuk melanjutkan pendidikan dengan jurusan yang berbeda, yaitu Agroteknologi. Saya rindu kembali “bermain” dengan laboratorium dan ingin mempelajari teknologi pertanian lebih lanjut setelah sebelumnya kenyang mempelajari manajemen bisnis pertanian selama tiga tahun.

Lalu berhasilkah saya? tidak. Saya gagal bahkan sebelum mencoba. Ini yang dinamakan takdir. Ketika Ayah saya menyetujui rencana pendidikan saya, Allah memberikan saya ujian yang cukup berat. Ujian yang membuat saya tidak dapat melanjutkan pendidikan, yaitu tentu mengenai biaya pendidikan. Ayah tersandung kasus korupsi atasannya sehingga berimbas pada karir ayah di kantor. Hal ini akhirnya berdampak juga pada rencana saya melanjutkan kuliah.

Kegagalan berulang selama mewujudkan cita-cita membuat saya mengalami mental breakdown. Saya merasa hilang tujuan dan harapan. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan dan capai. Rasanya, semua cita-cita saya musnah dan terasa sulit untuk diwujudkan.

Tapi hidup harus terus berjalan bukan? kesedihan dan kekecewaan tidak akan membuat dunia ini berhenti berputar hanya untuk saya.

Bekerja Sebagai Pelayan Restoran

Akhirnya saya memutuskan untuk melamar pekerjaan. Selama satu tahun saya melamar ke berbagai perusahaan dengan beragam jenis posisi pekerjaan. Mulai dari supervisor lapangan, administrasi hingga waitress.

What? waitress? ya, pelayan restoran. Cukup getir memang, mengingat saya memiliki ijazah Diploma tetapi melamar pekerjaan yang hanya membutuhkan kualifikasi pendidikan setingkat SMA. Tetapi itulah pekerjaan yang akhirnya saya ambil karena semua lamaran pekerjaan saya tidak kunjung mendapat respon kecuali itu, menjadi pelayan restoran.

Tapi saya tidak menyesal. Karena banyak hal positif yang pada akhirnya dapat saya ambil selama bekerja sebagai pelayan restoran.

Selama tiga bulan pertama saya merasa babak belur, karena saya harus adaptasi dengan pekerjaan sebagai pelayan restoran. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga luar biasa karena saya harus berdiri selama berjam-jam, menunggu konsumen datang, menawarkan menu, menyajikan menu hingga menyebar flyer.

Menangis dan seluruh badan terasa ngilu sepulang kerja menjadi makanan saya selama tiga bulan. Hingga akhirnya saya berkata pada diri sendiri, “ kamu boleh menyerah, tapi tidak sekarang!

Saya kembali semangat dan bangkit setelah adaptasi selama tiga bulan. Ada posisi di perusahaan yang ingin saya kejar, yaitu manajer cabang. Perusahaan akan membuka cabang baru dan Manajer area menawarkan saya posisi Manajer Cabang dengan syarat melihat performa saya satu bulan kedepan.

Tentu saya percaya diri, mengingat selama tiga bulan terakhir track record prestasi saya cukup bagus bahkan paling tinggi dalam hal meningkatkan jumlah penjualan. Saya rasa dengan bekal track record yang bagus dan ijazah Diploma dapat menjadi senjata ampuh saya untuk memperoleh jabatan tersebut.

Lagi - lagi saya harus kecewa, kejamnya dunia kerja saya rasakan juga. Posisi manajer cabang menjadi rebutan semua karyawan yang potensial, bukan hanya saya. Saingan saya bukan hanya sesama karyawan baru, tetapi juga karyawan senior yang sudah bertahun - tahun lamanya bekerja.

Gosip beredar yang mengatakan bahwa kerja saya tidak becus, tidak serius dan banyak “main-main” menghancurkan kesempatan saya memperoleh jabatan Manajer cabang. Saya sedih bukan main, siapa yang tega memfitnah saya? siapa yang menikung saya dengan cara tidak sehat? begini kejamnya kah dunia kerja?
Hilang sudah bara api semangat saya dalam bekerja. Apalagi yang ingin saya raih? tidak ada. Selama satu tahun lebih saya bekerja seperti zombie. Yang hanya bekerja karena kebutuhan finansial.

Minimarket Girls


Jenuh dengan situasi kerja yang tidak kondusif, saya mengundurkan diri dan melamar pekerjaan di Perusahaan Fashion Brand internasional. Alhamdulillah saya menjabat sebagai Chief atau kepala toko. Setelah dua tahun bekerja, saya memutuskan berhenti dan mencoba melamar ke perusahaan minimarket.

Selama bekerja di Minimarket ini saya belajar banyak tentang bagaimana menjadi Pemimpin dan bagaimana menangani karyawan yang “ngeyel”, mencuri hati karyawan agar mau bekerja dengan baik dan semangat , menangani tikus, menyusun barang agar tersusun rapi dan facing out ( yang akhirnya jadi kebiasaan saya sampai sekarang ), mengatur stok barang, manajemen keuangan minimarket, mempelajari SOP sampai berhadapan dengan preman.

Sama halnya dengan bekerja pertama kali di Restoran, selama bekerja di Minimarket ini juga mengalami konflik batik berkali - kali karena kelelahan dikejar deadline dan aturan perusahaan yang aduhai ketatnya. Terkadang ingin menyerah tapi kembali saya menyemangati diri sendiri dan berkali-kali saya berkata pada diri sendiri, “ kamu boleh menyerah kapan saja, tapi tidak sekarang”.

Dan ya, saya bertahan bekerja sampai hampir tiga tahun lamanya sebelum akhirnya menyerah karena saya merasa sudah cukup bekerja di bawah tekanan atasan dan rules yang kadang membuat saya merasa “gak waras”. Ditambah waktu itu kondisi psikologis saya agak terganggu karena suatu hal hingga akhirnya membuat saya tidak fokus dan banyak melakukan kesalahan termasuk melanggar peraturan. So, saya resign. Saya rasa saat itu adalah memang waktunya saya menyerah.

Gerbang Menuju Impian


Kosong dari pekerjaan selama satu bulan membuat saya kembali memikirkan jalan hidup saya dan apa yang ingin saya lakukan. Saya kembali merenungkan kembali impian saya dan berniat untuk mengejarnya. Saya memikirkan untuk kembali ke bangku kuliah, saya ingin mengambil kuliah desain tapi sayangnya tidak ada kelas karyawan.

Lamaran saya di perusahaan cat tembok berhasil diterima dan saya mulai bekerja. Promotion sales. yess. Saya kerja pakai motor setiap hari dan berkeliling mengunjungi toko material dan proyek bangunan. Saya menawarkan produk, mengumpulkan materi rewards dari pelanggan setia dan tentu saja memberikan edukasi tentang pengecatan.

Bekerja di perusahaan cat tembok ini membuka peluang saya untuk bertemu dengan orang - orang yang bekerja di dunia konstruksi yang secara tidak langsung menggiring saya menuju profesi impian saya sebagai Arsitek.

Saya belajar Sketchup 3D secara otodidak atas desakan salah satu klien cat tembok saya untuk membantunya dalam proyek yang sedang digarap. Hal ini akhirnya membuat saya semakin kuat ingin melanjutkan kuliah saya.

Dengan penuh keyakinan dan kesiapan, saya mendaftarkan diri di salah satu Universitas Swasta yang memiliki jurusan Pertanian di Bandung. Saya, berencana melanjutkan kuliah saya dari DII Unpad dulu untuk mencapai gelar S1 di Universitas yang baru. Tetapi ketika hendak memiliki jurusan, saya kembali memikirkan ulang, apakah saya yakin ingin mengambil lagi jurusan pertanian?

Setelah melihat flyer perkuliahan, saya melihat beberapa jurusan dan disanalah saya menemukan satu jurusan yang tanpa banyak berpikir akhirnya saya ambil. Arsitektur Lansekap.

Saya senang bukan main, cita-cita saya waktu kecil akhirnya dapat terwujud. Memang bukan Arsitek seperti yang saya bayangkan, tetapi menjadi Arsitek Lansekap juga dekat kok dengan impian saya. Merancang suatu kawasan dengan mempertimbangan unsur ekologis. Wah, ini sih gue banget coy!!! hihihi

Teman kuliah yang asyik, jam perkuliahan yang flexible dan bisa saya sesuaikan dengan pekerjaan saya juga dosen yang Masya Allah baik hati dan mendukung saya sepenuhnya. Ini sih udah bukan surga lagi, tapi super surga. Saya bersyukur sekali.

Tapi sayang seribu sayang, kali ini saya pun harus kembali ke pelukan quote favorite saya, “ kamu boleh menyerah kapanpun tapi tidak sekarang” dan saya terpaksa meninggalkan bangku perkuliahan yang hanya tinggal satu sidang terakhir sebelum akhirnya saya bisa menjadi Arsitek Lansekap seutuhnya.

Mengapa saya memutuskan berhenti? bukan keputusan mudah sebelumnya, tapi saya tidak punya pilihan karena berhubungan erat dengan masa depan anak saya yang pertama, Keenan. 


Menjadi Ibu dan menemukan Impian Baru

Setelah menjadi ibu, selama hampir 4 tahun lamanya saya tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan impian saya. Peran baru saya ini mengharuskan saya fokus dengan anak dan suami.

Menggambar Pun hanya saya lakukan sebagai hobi melepas stress dan menjaga kewarasan. Ya, semua ibu pasti merasakan apa yang saya rasakan. Dibalik rasa bahagia dan bangga menjadi ibu, ada jutaan rasa lelah dan jenuh hingga terkadang ingin menyerah. Quote andalan saya tentu selalu saya pegang sebagai bara api semangat saya.

Tahun 2018, saya memutuskan untuk menulis semua pengalaman saya menjadi ibu kedalam sebuah blog. Ternyata ini berhasil membuat stress saya berkurang dan saya malah bertemu impian baru , yaitu menjadi Blogger.

Menjadi Blogger adalah impian diluar semua impian saya yang pernah saya miliki. Tidak pernah sekalipun saya bermimpi menjadi penulis apalagi mendapat penghasilan dari menulis. Tapi, disinilah saya sekarang.

Tapi saya bersyukur, semua impian saya menjadi ilmuwan, arsitek, ahli sejarah hingga seniman berkumpul menjadi satu dalam blog saya. Saya menulis topik-topik tersebut di dalam blog saya. Memang belum semuanya saya bahas, tapi secara perlahan saya menyusun konten dan menabung tema untuk saya bahas yang berkaitan dengan topik-topik profesi impian saya itu.

----------------------------------

Saya rasa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, unik dan sama menariknya dengan saya. Selalu ada alasan dibalik semua keputusan dan pilihan. Terkadang kita tidak dapat melawan takdir tapi kita bisa berjalan berdampingan dengannya. Selama kita memang teguh prinsip dan quote yang kita miliki, kemanapun takdir membawa kita, kita pasti bisa melewati semuanya.